Now Loading

Bab 22

Gian Carlo melihat mobil-mobil itu melesat cepat ke lereng Gunung Salak. Lelaki Italia ini tahu tidak akan bisa mengejar mereka tanpa ketahuan. Apa yang harus dilakukannya? Jika mereka memang berniat menyerbu padepokan Trah Pakuan, apakah ada keuntungan yang bisa dia dapatkan?

Hmm, malam ini aku harus melaksanakan rencanaku. Aku yakin mereka tidak akan menyerbu sekarang. Saat nanti terjadi kekacauan, dia malah mudah untuk mencari dan mencuri Manuskrip Kuno itu. Gian Carlo merasa bangga terhadap dirinya sendiri.

Gian Carlo menelepon seseorang untuk minta bantuan menyiapkan semua keperluannya nanti malam. Dia akan mencari penginapan atau villa di sekitar lereng Gunung Salak untuk mempermudah pergerakannya.

Dia juga akan mendapatkan bantuan dari seseorang. Seorang pembunuh berdarah dingin yang sangat dikenalnya.

----

Sin Liong memarkir sepeda motornya di semak-semak. Setelah itu dia dan Raja menyusup di antara belukar dan pepohonan untuk memata-matai bukit Bubat tempat Trah Maja bermarkas.

Keduanya berjalan merunduk menghindari lampu sorot yang dari kejauhan saja nampak begitu terang. Padepokan itu mempunyai tingkat pengamanan yang tidak kalah dengan penjara para penjahat kelas berat. Terkadang Sin Liong didera perasaan masgul. Bagaimana cara masuk mereka dengan pengamanan seketat itu.

Beberapa kali Sin Liong menyebut padepokan itu sebagai benteng Alamo.

Kedua pria ini terus mengendap-endap. Raja mengikuti Sin Liong dari belakang. Dia mencoba menghafal jalur paling aman untuk mendekati bukit Bubat. Ini kelak akan menjadi tugasnya bersama Citra. Jika dia gagal. Mereka hanya akan menjadi sejarah kusam yang berulang.

4 lampu sorot berkekuatan tinggi itu secara teratur menyorot sekeliling padepokan. Sudah didesain sedemikian rupa hingga tak ada satu titikpun area yang terlewati. Selain itu, lampu langsung terhubung dengan kamera monitor di ruang keamanan. Sehingga tidak hanya para penjaga yang berjaga di atas menara saja yang bisa melihat keadaan, namun juga yang di dalam.

Sin Liong yang sudah beberapa kali melakukan penyelidikan diam-diam di tempat itu hafal seberapa lama lampu sorot itu berjeda pada satu titik. Tak lebih dari 2 menit!

“Ikuti aku. Jangan terlambat sedetikpun,” Sin Liong memberi isyarat kepada Raja sambil berbisik.

Pemuda lincah ini menyelinap cepat dari satu titik ke titik yang lain. Raja mengikutinya. Berharap tak ada kesalahan. Dengan penjagaan seketat ini, mudah saja bagi mereka untuk tertangkap jika ketahuan. Dengan cepat. Raja meraba cincin di jarinya. Pusaka yang dia sendiri tidak tahu kapan waktunya membantu. Sama sekali tak bisa diduga.

Sementara Sin Liong dan Raja sangat yakin bahwa pengintaian mereka aman-aman saja, di dalam, Mada mengamati layar monitor dengan tersenyum kecil.

Ada saatnya kalian akan menyadari berhadapan dengan siapa.

----

Sedikit lagi. Berhasil! Hoa Lie menghela nafas lega. Dia berhasil membuka pintu ruang sel tahanan. Dalam kondisi yang gelap gulita. Urusan ini semakin runyam. Mereka jauh-jauh datang ke Bali untuk mencari petunjuk tapi malah disekap sedemikian rupa oleh yang akan dimintai petunjuk. Urusan sinting!

Hoa Lie bersijingkat menghampiri pintu Feng Siong. Dengan ahli, Hoa Lie membuka pintu tahanan Feng Siong. Saat hendak lanjut ke pintu tahanan Kapten Sandro dan anak buahnya, Feng Siong menggamit lengan Hoa Lie. Kapten Sandro dan anak buahnya masih pingsan. Akan sulit bagi mereka untuk melarikan diri jika harus membawa serta mereka.

Meskipun tidak bicara, Hoa Lie paham apa maksud Feng Siong. Gadis ini membatalkan niatnya. Mereka berdua mengendap-endap mengandalkan insting dan meraba-raba mencari tangga. Ketemu! Keduanya menaiki tangga sambil terus waspada.

Pintu terkunci. Bagaimana caranya keluar? Hoa Lie memutar otak. Meraih victorinox dan mulai bekerja. Mudah-mudahan anak kunci di lubang sebelah sana tidak tergantung pada tempatnya.

Klik. Kembali Hoa Lie berhasil membuka kunci pintu. Keduanya berusaha sehening mungkin membuat langkah. Ketahuan berarti bertarung sampai mati atau kembali ke kurungan. Pilihan yang sulit dan mereka tidak mau dua-duanya. Lebih bagus melarikan diri lalu berhitung strategi. Orang-orang itu tangguh dan jelas berbahaya.

Rencana mereka berhasil. Tidak ada orang berjaga di luar ruangan. Dan ini bukan ruangan tempat mereka terjebak sebelumnya. Ruangan ini gudang. Banyak barang berserakan dan bergeletakan. Hoa Lie berharap pintu keluar tidak dijaga. Dia tak ingin timbul keributan yang akhirnya akan membuat mereka kesulitan.

Feng Siong mendengarkan baik-baik dengan menempelkan telinga di daun pintu. Tidak ada suara apa-apa. setelah membuka pintu yang tak terkunci sepelan mungkin, keduanya bergerak keluar perlahan-lahan. Luar gudang aman. Hoa Lie dan Feng Siong tanpa buang waktu melarikan diri lewat halaman belakang. Rumah Bli Gus Ngurah memang tidak dikelilingi pagar atau tembok. Mudah saja bagi mereka menuruni bukit dan menghilang dari tempat aneh itu.

“Hoa Lie, kita harus mendapatkan informasi dari Bli Gus Ngurah. Dia adalah satu dari sedikit orang yang paham bagaimana mengaktifkan Gerbang Waktu melalui Manuskrip Kuno,” Feng Siong berkata kepada Hoa Lie setelah yakin mereka cukup aman dan jauh dari tempat berbahaya tadi.

“Kau benar Feng Siong. Kalau tidak mendapatkan informasi itu, percuma kita jauh-jauh datang ke sini. Dan kau tahu bagaimana kemarahan direktur jika tahu kita gagal,” Hoa Lie menyahut pelan.

“Lalu apa yang harus kita lakukan. Mereka sangat berbahaya. Kita tak bisa kembali ke sana tanpa rencana.”

“Kita punya rencana Feng Siong. Kita punya.”

Hoa Lie tersenyum tipis sambil mengeluarkan sesuatu dari balik ikat pinggang kecilnya. Sebuah tabung kecil yang terhubung dengan jarum suntik yang juga berukuran mini.

Feng Siong terbelalak.

“Kau...kau akan menggunakan Serum Kematian? Bukankah itu bisa mengakibatkan kematian meskipun dia akan jujur menyampaikan semua yang kita inginkan?”

Kembali Hoa Lie tersenyum tipis. Kali ini sedikit sadis.

“Mereka juga bermain-main dengan nyawa kita. Ini saatnya kita membalas mereka.”

Mata Hoa Lie berkilat. Feng Siong terdiam. Pantas saja direktur sangat mempercayai Hoa Lie. Gadis itu akan melakukan apa saja agar tercapai tujuannya. Termasuk jika harus membunuh sekalipun.

Diam-diam Feng Siong bergidik.

* * **