Now Loading

Syarat dan Ketentuan

Semua jelas sekarang, aku mencintainya. Ya … sangat mencintainya! Rasa yang sengaja dikekang dalam diam dan tak membiarkannya meluap ke permukaan, karena merasa tidak yakin dapat diraih. Saat ini, aku tatkan lagi mau membendungnya. Aku punya hak menerima cinta, sebab dia juga mencintaiku. Berjuang! Menyatukan dua keping hati menjadi satu, itu yang harus kami lakukan. 

 

Sudah waktunya mengubur masa lalu demi menatap masa depan. Aku tak ingin kehilangan kesempatan meraih bahagia, meski jalan di depan nanti juga pasti tidak akan mudah. Afick telah membuktikan ketulusan hatinya, aku juga wajib membuat dia percaya kalau aku juga punya cinta yang suci untuknya. Kasih sayang yang kureguk dari bibirnya, sama sekali bukan nafsu. Akan tetapi makna ketulusan yang tak terucap. 

 

"Sayang!" panggilnya lembut saat melepas tautan, namun kening kami masih saling menyatu. "Terime kaseh sudah menerima cinte saye, terima kaseh juga karne sudah percayai …."

 

"Tidak perlu berterima kasih!" potongku cepat, "karena aku juga mencintaimu."

 

Afick memeluk tubuhku erat-erat, seolah tidak akan pernah dia lepaskan. Aku menyambutnya dengan debar-debar halus kebahagiaan. Mungkin ini sudah menjadi takdirku. 

 

"Afick!" panggilku sambil merenggangkan peluk.

 

"Ehhh, panggillah sayang ke. Ape, ke! Janganlah panggil name. Not sweetlah!" protesnya kepadaku.

 

"Hmmm … mau dipanggil apa? Sayang? Kita bukan anak muda, tak pantas seperti itu!" ucapku pura-pura merajuk, sambil menunduk.

 

"Jangan macam tuuu, cinte bukan punye orang mude sahaje." Afick memegang daguku an mendongakkan wajahku ke arahnya. "Ayolah, Yunk!" rayunya lagi. 

 

Untuk sesaat aku merasa risih, tapi juga lucu dipanggil seperti itu. Keningku berkerut mencari sebuah sebutan, yang cocok untuk dirinya. Kata apa kiranya bermakna tapi tidak terdengar lebai. 

 

"Emmm …, bagaimana kalau 'Sunny'?" tanyaku kepadanya, "sebab itu artinya cerah, riang atau gembira." 

 

"Okey!" sahutnya bahagia, "baiklah, sepertinye hari sudah malam. Tengok, tuh! Di luar dah gelap. Sayang mandi dulu, ye! Nanti kite dinner same-same!" 

 

Setelah berucap, Afick hendak berjalan keluar dari kamarku. Tapi aku menghentikannya. 

 

"Afick, maksud saya Sunny!" ralatku, "jangan pergi dulu! Ada yang ingin saya sampaikan!" 

 

Langkahnya terhenti, dia segera memutar badan, lalu berjalan kembali ke arahku. 

 

"Ade ape, Yunk!" 

 

"Sebelum keluar dari sini, saya mau Kamu berjanji satu hal!" pintaku.

 

"Apa itu?" 

 

Wajahnya terlihat bingung.

 

"Begini, setelah kamu kamu keluar dari sini. Jangan pernah datang ke kamar ini selama satu pekan!" 

 

"Macam mane boleh macam tu?" ungkapnya dengan wajah tegang, "apeke, Sayang masih tak percaye?" 

 

"Bukan begitu, maksud saya adalah …."

 

"Sayang masih takut, kah?"

 

"Bukan, bukan begitu. Percayalah! Ini semua untuk kebaikan kita. Kamu harus meyakinkan orang-orang di luar sana, kalau saya tidak mau keluar kamar selama satu minggu. Sebab saya tidak mau orang lain tahu hubungan kita untuk sementara."

 

"Tapi, takkan nak jumpe pon tak boleh?"

 

"Sunny, trust me! Saya pun tidak akan keluar untuk makan bersama, baik breakfast, lunch, ataupun dinner. Suruh Rosnia bawa makanan saya ke dalam kamar selama seminggu penuh. Ingat, Sunny jangan ke sini apa pun yang terjadi!"

 

Afick terlihat murung mendengar perkataanku. Namun aku terus meyakinkan dirinya, untuk percaya kepadaku. Seminggu bukanlah waktu yang lama untuk merenung, sekaligus memberi jeda agar aku bisa mempersiapkan diri. Dia masih tak beranjak dari tempat semula, seolah-olah akan kehilangan untuk selamanya jika keluar dari kamarku. Karena tak tega, aku pun menjelaskan sesuatu padanya.

 

"Sunny, saya ingin memperjuangkan cinta kita. Tetapi butuh waktu untuk semua itu. Kamu hanya perlu meyakinkan semua orang, bahwa saya masih marah denganmu karena tidak diijinkan pulang. Bahkan di depan Bang Iswan pun, kamu harus ber-acting. Jangan sampai siapa pun tahu, kalau dari dalam kamar ini saya sedang mempersiapkan sesuatu!" pintaku sungguh-sungguh.

 

"Kasih tahu sayelah, ape yang nak Sayang buat!" 

 

"Kamu akan tahu maksud saya, tapi nanti. Bukan sekarang! Seminggu kemudian, biarkan saya yang cari kamu dulu. Barulah semua akan jelas, boleh?"

 

Dengan berat hati Afick mengangguk. Aku yakin dia masih bingung, namun aku sengaja berbuat begitu, demi suatu hal yang harus dilakukan. 

 

"Sunny boleh pergi sekarang! Jika ada sesuatu yang saya butuhkan, Rosnia yang akan menghubungimu. Oh, ya! Karna handphone saya sudah hilang saat accident tempo hari, bolehkah saya meminta kamu belikan satu untuk saya?" 

 

"Eh, benarlah. Hampir lupa! Handphone Sayang rusak, saye dah beli yang baru tempo hari. Tapi karene nak pindahkan file kat handphone lame pade yang baru, saye belum ambek lagi!" 

 

"Baiklah, nanti tinggal kasih ke Rosnia. Biar dia yang antar ke sini!"

 

"Okelah, saye pergi dulu. Tapi ingat! Kalau Sayang nak ape-ape, tolong cakap dengan saye. Kalau tak boleh ketemu seminggu, telephone boleh, kan?" pintanya dengan mimik wajah yang lucu.

 

Aku tersenyum, lalu mengangguk. Afick juga tersenyum bahagia. Sebelum pergi, dia sempat mencium keningku. Ada rasa senang menggelitik di dada atas perbuatanya barusan. Aku menatap punggungnya yang berlalu, hingga hilang di balik pintu. 

 

Sekarang aku sendirian. Ada hal-hal yang harus aku persiapkan. Bukan tanpa alasan aku meminta waktu satu minggu untuk tidak saling bertemu. Aku harus memperhitungkan matang-matang, tentang semuanya. Menerima cinta Afick artinya aku harus siap menghadapi Anisah. Wanita itu bukan lawan yang mudah dikalahkan, akan sulit jika aku salah langkah. Anisah sudah terbiasa menghadapi lawan, karena dia memang dipersiapkan untuk itu. Sementara diriku hanya wanita biasa, yang buta akan hal-hal berbau politik. Bahkan di negara sendiri, aku tidak suka bersinggungan tentang politik. 

 

Afick dan Bang Iswan sudah menjelaskan sekilas tentang Anisah dan ayahnya. Jadi, aku juga harus mencari informasi lain secara langsung. Aku butuh petunjuk-petunjuk taktis agar mampu mengukur kelebihan dan kelemahan pihak lawan. Orang yang bisa aku percaya saat ini hanyalah Rosnia, dia yang akan membantu aku melakukan sesuatu, tanpa membuat Afick dan Bang Iswan cemas. Jika berterus terang dengan ideku, kedua laki-laki itu pasti tidak setuju. Sebab, mereka akan mengkhawatirkan keselamatanku. Terdengar ketukan di pintu, tak seberapa lama Rosnia masuk. Kebetulan! Ada yang perlu aku bahas dengan wanita TKW itu. Semoga dia mau membantu. 

 

"Mbak! Kok belum mandi? 15 menit lagi waktunya makan malam, Dato pasti sudah menunggu mbak di meja makan."

 

Rupanya Rosnia belum tahu apa-apa. Artinya Afick belum memberitahukan kepadanya, kalau aku tidak akan keluar kamar selama seminggu. Bagus! 

 

"Aku makan di kamar saja, Ros! Aku tak mau makan di sana lagi!" 

 

"Loh, kenapa Mbak?" Rosnia tampak bingung.

 

"Tidak apa-apa, aku cuma ingin ketenangan. Lagipula aku lebih suka di kamar, tenang dan tentram!" ungkapku berbohong. 

 

Rosnia masih menatapku heran, mungkin dia berpikir aku takut diserang oleh orang tak dikenal. 

 

"Bawakan saja makanan ke sini, aku mau mandi dulu!" 

 

"Baik, Mbak!" 

 

Wanita itu langsung beranjak pergi tanpa bertanya lagi. Aku sengaja tidak memberitahukan rencanaku sekarang, agar semua terlihat bahwa aku benar-benar sedang marah. Agar Anisah yakin, kalau aku takut menghadapi dirinya. Itu yang aku inginkan.