Now Loading

Surat Teguran dari Laila

Saya, Eko, dan Azwar kembali ke hotel setelah makan malam bertiga di Food Court. Di hotel ternyata Bang Zai belum pulang sehingga akhirnya kami bertiga untuk sementara ngobrol sambil nonton RTB 1 di kamar Eko.

Sekitar jam 9.15 malam, Bang Zai pulang dengan membawa bungkusan dalam plastik. Isinya dua buah durian utuh yang tidak terlalu besar.

“Ini buat kalian bertiga, saya tadi sudah makan bersama Mas Giri di Night Market, Kami segera membuka bungkusan plastik dan membuka durian yang sudah siap santap karena sudah dibuka dengan golok oleh penjualnya.

“Wah, tidak percuma Bang Zai pergi dengan Mas Giri, kalau pulangnya bawa duren enak begini’, kata Eko lagi.

“Bagaimana kelanjutan rencana Bang Zai, Bukankah sudah ada perkembangan dari Mas Giri”, Tanya saya sambil membelah duren yang kedua. Biji-bijinya kami masukan ke dalam plastik agar mudah di buang ke tempat sampah.

“Sudah ada sedikit informasi mengenai Muallif ini, namun rencana selanjutnya belum sempat kami susun karena Mas Giri harus pulang mengantar anaknya yang tiba-tiba sakit panas tinggi. Tadi dia mengantar saya ke hotel dan langsung pulang”.

“Yang kita tahu Muallif ini sudah berusia 40 tahunan dan sudah beristri. Istri tua tinggal di Belait sementara di Bandar dia tinggal bersama istri muda di Kampong Bribi. Saya masih perlu beberapa informasi tambahan dan mengatur strategi dengan Mas Giri.”, tambah Bang Zai

Tidak sampai 15 menit, dua buah durian otak udang galah yang warnanya merah menyala habis tuntas disantap oleh kami bertiga. Biji dan kulit duren segera dirapikan kembali dalam plastik dan siap di buang ke tempat sampah di luar.

“Eko, tolong buang plastik ini ke tempat sampah di depan hotel, sepertinya di dekat tempat parkir ada tempat sampah”, kata Bang Zai.

Eko bersiap-siap pergi.

“Baiklah, saya menemani Eko ke bawah”, Kata saya. Saya juga sekalian ingin merokok di depan hotel. Lumayan santai sambil melihat pemandangan di luar.

Saya dan Eko segera turun, melewati koridor, memencet lift dan kemudian keluar di depan hotel. Eko mencari tempat sampah di dekat parkiran mobil dan saya mengikutinya sampai ke dekat tempat sampah sambil menyulut rokok. Lumayan ngepul sedikit di malam hari selepas makan duren.

Ketika Eko mau kembali ke kamar, saya bilang bahwa saya mau merokok dulu sambil jalan-jalan cari angin di sekitar hotel.

Saya memulai perjalanan sendiri di depan hotel dan menyusuri kaki lima Simpang 137. Suasana kawasan Gadong sudah sepi karena waktu sudah mendekati jam 9.45 malam. Sebagian tempat makan masih buka seperti Mc Donald. Saya berjalan perlahan sambil menghembuskan asap rokok. Rasanya nikmat sekali. Untuk sementara semua masalah dengan Laili dan teman-temannya saya lupakan.

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu saya dari belakang

“Bang Asep, Bang Asep”, suara parau memanggil saya perlahan.

Saya menoleh dan melihat seorang lelaki berdiri di belakang saya. Wajahnya tidak begitu jelas karena lampu-lampu jalan kurang menerangi tempat ini.

“Siapa Abang? Tanya saya.

“Maaf, tak perlu tahu siapa saya. Seorang perempuan naik kereta tadi menitipkan surat ini buat Bang Asep. Saya hanya disuruh. Katanya. Dia memberikan sepucuk amplop warna putih.

Melihat amplop itu, saya tahu bahwa surat ini dari Laila. Ya saya ingat bahwa kita belum boleh bertemu selama dua pekan dan ini baru 3 malam saja.

“Baiklah, Terima kasih” kata saya kepada lelaki itu yang sudah menghilang di belokan jalan.

Penasaran, saya segera kembali ke kamar. Di kamar, Azwar sedang asyik nonton RTB 1 dan minum kopi. Saya tidak berminat mengganggunya. Segera membuka amplop dan membaca surat itu:

Bang Asep yang Laila sayang

Sudah tiga malam sejak kedatangan Abang dan teman-teman kembali ke Brunei. Sebagaimana dalam surat Laila yang terdahulu, hubungan kita masih dalam bahaya dan karenanya kita belum dulu boleh berjumpa dalam waktu dua pekan ini.

Yang Laila minta dari abang dan kawan-kawan adalah fokus ke tugas pekerjaan dan jangan mengambil tindakan-tindakan yang tidak perlu sehubungan dengan masalah kita.

Namun ternyata Bang Zai sudah melakukan hal yang sedikit gegabah. Saya tahu pada malam pertama di Brunei, ada temannya yang bernama Mas Giri makan bersama kalian di sebuah restoran di depan hotel. Tadinya saya pikir hanya ngobrol-ngobrol dengan teman lama.

Tetapi , tidak disangka Mas Giri ini sudah melakukan gerakan yang mencurigakan, Dia sudah mencari informasi tentang Muallif. Dan kalau hal ini disadari oleh Muallif , bisa membahayakan baik Mas Giri, atau Bang Asep dan teman-teman.

Karena itu, tolong Bang Asep ingatkan Bang Zai, agar tidak melanjutkan hal yang sudah direncanakan dengan Mas Giri.

Walau Laila tidak bersama Abang, saya selalu dapat merasakan apa yang terjadi. Jadi mohon sekali lagi untuk tetap mengikuti rencana Laila ini.

Salam rindu selalu

Laila

Saya menutup surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Saya belum memutuskan bagaimana caranya untuk mengabarkan hal ini baik kepada Azwar , apalagi kepada Bang Zai.

Bersambung