Now Loading

Durian Otak Udang Galah

“Kring, Kring, Kriiiiiing…”

Tiga hari sesudah pertemuan pertama dengan Mas Giri , sekitar jam 7.30 telepon di kamar berdering. Kebetulan saya sedang sendiri di kamar karena Eko sedang pergi dengan Azwar dan Asep untuk makan malam di luar, sementara saya rencana akan makan sendiri belakangan.

Ternyata Mas Giri yang menelepon dan dia sudah ada di lobi hotel. Saya segera berpakaian dan menemuinya di lobi.

“Bagaimana Gir, Apa sudah ada hasil penyelidikanmu tentang lelaki bernama Muallif”, tanya saya sambil memeluknya erat.

“Panjang ceritanya Zai, lebih baik kita sambil makan di Night Market, Ayo naik mobil saya saja kesana”

Sebenarnya Gadong Night Market tidak terlalu jauh letaknya dari Centre Point, paling sekitar 600 atau 700 meter saja. Tapi karena saya juga sudah lapar, dan sekalian mencoba naik kereta Mas Giri, saya setuju saja naik mobil kesana.

Kami berdua menuju ke mobil Mas Giri yang diparkir di halaman tepat di depan hotel. Wah mobil Mas Giri keren juga, sebuah Land Cruiser warna hitam.  Dalam waktu sekitar 5 menit saja menyusuri Simpang 137 dan kemudian belok kanan lewat Jalan Dayang Siti Hamidah, melewati Sungai Menglait dan kemudian sampai di Gadong Night Market.

Setelah memarkir kendaraan, kami berdua berjalan menyusuri gerai-gerai yang menjual berbagai jenis  makanan dan minuman.  Ada makanan  tradisional Brunei, Chinese Food dan ada juga makanan seperti Roti John atau bahkan Kebab. Selain itu berjenis buah-buahan lokal pun ada. Suasana cukup ramai malam itu.

“Ayo kita coba Durian Otak”, Kata Mas Giri setelah kami berdua selesai makan Nasi Lemak yang lumayan lezat.

“Apa itu Durian Otak?”

“Wah kalau ke Brunei jangan lupa menikmati durian otak yang warnanya kuning kemerahan, Bahkan ada yang paling enak yaitu durian otak udang galah.”

"Ayo kita coba  durian otak dan ceritanya nanti sambil makan ” tambah Mas Giri sambil mengajak saya ke tukang durian.

Ternyata ada Durian Otak Udang Galah yang dijual satu ikat empat buah seharga 20 Ringgit. Ukurannya tidak terlalu besar dan bentuknya bulat.

“Wah 4 buah terlalu banyak untuk kita berdua”, Kata saya

“ Nanti kalau tidak habis bisa dibawa ke hotel buat teman-teman kamu”

Akhirnya kami langsung membuka dua buah durian karena memang ukurannya sedang saja. Namun warna buahnya  memang menggoda selera, yaitu merah menyala dan rasanya sangat manis dan mantap serta dagingnya cukup tebal dengan biji yang kecil.

Sambil makan durian, Mas Giri mulai bercerita tentang Muallif:

“Berdasarkan hasil penyelidikan saya ternyata lelaki bernama Muallif itu berusia sekitar 40 tahunan, jadi bukan lelaki yang ketemu dan mengancam kamu di Water Front tempo hari. Bisa Saja dia hanya orang suruhan Muallif.”

“Kalau begitu si Muallif ini sudah punya istri?”

“Tentu saja, masa usia 40 belum punya istri. Dia seorang pengusaha kerajinan perak dan rumah istri tuanya di Belait. Tapi kalau di Bandar dia juga punya rumah di Kampung Bribi. Disini dia tinggal bersama istri mudanya"

“Jadi Laila mau dijadikan istri ketiga? Dari mana kamu tahu semua ini?”

“Kebetulan dia punya seorang adik yang juga bekerja di Istana Nurul Iman. Adiknya tinggal bertetangga dengan rumah istri muda di Kampung Bribi.

“Lalu apa rencana kita?”

“Terasana, Terasana”, tiba-tiba saja nada dering lagu dangdut bergema dari saku celana Mas Giri. Rupanya ada seseorang yang meneleponnya.

“Maaf ya, Aku ambil telepon dulu”, kata mas Giri sambil berjalan ke tempat yang agak sepi.

Sekitar dua atau tiga menit kemudian dia kembali dengan sedikit tergesa-gesa.

“Zai, aku harus pulang, Si Sofia, anak saya yang pertama tiba-tiba sakit panas, Saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga. Tadi istri saya telepon”.

Akhirnya Mas Giri segera membayar durian, dan mengajak saya kembali ke kendaraan.

Tidak lupa saya membawa dua buah durian yang masih utuh untuk oleh-oleh buat Asep, Eko dan Azwar. Saya masukan dalam kantong plastik agar tidak terlihat oleh resepsionis di hotel nanti.

Dengan cepat Mas Giri mengendarai mobil mengantar saya sampai di jalan di depan hotel dan langsung pulang kembali ke rumahnya. Saya sendiri belum sempat bertanya dimana rumah Mas Giri dan siapa istri serta berapa anaknya.

Untuk sementara, informasi mengenai Muallif baru sekitar 60 persen saja.

Bersambung