Now Loading

Lolos dari Maut

Ran memacu tubuhnya membelah air sungai yang tenang. Tidak jauh di belakangnya puluhan ular berbisa mengejar dengan mengeluarkan suara mendesis-desis. Namun bagaimanapun kuatnya tenaga manusia, kecepatan berenangnya tentu masih di bawah kecepatan ular. Jarak mereka semakin dekat.

Sementara di pinggir sungai, Ben, Tet, dan Rabat memegangi kepala dengan teramat sangat cemas. Masing-masing dari mereka sudah menyiapkan kayu sebesar lengan jika sampai ular-ular itu mencapai daratan. Tongkat-tongkat itu diletakkan di tanah. Dalam pikiran mereka sekarang hanya terlintas bagaimana cara agar Ran selamat.

Dan harapan itu menipis. Jarak antara Ran dan sekawanan ular itu semakin dekat. Mungkin tidak sampai 5 meter lagi. Ran teringat daun pohon yang berguna mengusir kelelawar pemangsa tempo hari. Tapi mana dia sempat lagi. Lagipula ini di dalam air. Tentu aroma daun itu akan segera hilang terbasuh air.

Ran hanya berusaha sekuatnya untuk terus maju. Jarak ke tepian sebenarnya tinggal sekitar 15 meter lagi. Tapi ular-ular yang mengejarnya itu cepat sekali. Tinggal 2 meter lagi. 1 meter. Ran pasrah. Mungkin ini akhir dari petualangannya.

Tepat di saat ular pertama hendak mematuk Ran, tiba-tiba saja sungai tenang itu bergelombang. Entah karena kebetulan atau tidak, arah gelombang itu menuju kawanan ular sehingga kawanan itu terdorong mundur. Ran terselamatkan sementara. Namun ular-ular kembali berenang maju dengan kecepatan tinggi.

Kali ini 3 ekor ular secara bersamaan mengangkat kepala hendak mematuk kaki Ran.

Byuuuurrr……byuuuurrr….claaapp!

Sepersekian detik sebelum taring berbisa itu menancap di kaki Ran, terdengar suara keras air yang naik tinggi. Beberapa ekor binatang besar menyambar 3 ekor ular itu dalam sekali kelebat. Menangkap dan membawanya menjauh.

Berturut-turut kejadian yang sama terulang. Beberapa binatang yang terlihat seperti Kapibara namun berukuran lebih besar menyambar ular-ular itu dan membawanya menjauh, lalu memakannya di atas batu-batu besar di sebelah hulu.

Hingga akhirnya kawanan ular itu kocar-kacir mencoba meloloskan diri dari predator mereka dengan kembali ke tepian tempat mereka berasal dan menancapkan diri lagi ke tanah menjadi rumpun “bambu”.

Tet, Rabat, dan Ben berlarian menarik tubuh Ran yang tergeletak kelelahan di tepian sungai. Ran telentang menatap langit sambil menata nafasnya satu-satu. Dia terselamatkan di detik-detik terakhir oleh kedatangan Kapibara raksasa yang ternyata merupakan predator ular-ular mengerikan itu.

Tidak ada selimut atau jaket untuk memulihkan suhu tubuh Ran. Ketiga temannya hanya mengelilingi Ran dengan takjub. Cara Ran meloloskan diri tadi memang menakjubkan. Tak kenal menyerah sampai detik terakhir meskipun pada akhirnya terselamatkan oleh Kapibara-kapibara raksasa itu.

Suasana hening mengelilingi tepian sungai yang kembali tenang. Dari kejauhan, nampak Kapibara-kapibara itu menikmati makan siangnya dengan nyaman. Tet yang memperhatikan meremang bulu tengkuknya. Jangan-jangan binatang-binatang itu juga memangsa manusia? Uh!

Setelah beberapa saat tanpa suara dan ketika Ran sudah bisa bangkit lalu duduk sambil mengamati teman-temannya, barulah ketiga orang itu menyerbu Ran dan memeluknya erat.

“Kita harus berterimakasih pada Kapibara-kapibara raksasa yang sedang makan siang di tengah sungai sana. Mereka menyelamatkanmu kawan!” Tet menepuk bahu Ran dengan senang.

Ran tersenyum menyeringai. Gila! Kejar-kejaran tadi menghabiskan tenaga sekaligus adrenalinnya. Tubuhnya terasa sangat lemah. Namun dia luar biasa senang bahwa teman-temannya selamat semua.

Ran meraba kantong bajunya. Syukurlah daun-daun Trees of life and death ini masih ada. Daun-daun ini akan sangat berguna bagi mereka meloloskan diri dari pulau maut ini. Tapi dia harus memulihkan diri terlebih dahulu sebelum mulai membuat rencana demi rencana bersama kawan-kawannya. Ran memejamkan mata. Mencoba tidur sekedarnya.

Tet, Ben dan Rabat yang masih girang bukan kepalang dengan pertemuan tak terduga dengan Ran, membiarkan Ran tidur.

“Kita harus mencari makanan Tet. Kita semua kelelahan dan perlu asupan makanan yang memadai,” Ben berkata pelan.

Yup! Ayo kita cari di sekitar sini saja. Tet, kau punya catatan mana tumbuhan yang beracun dan tidak, bukan? Ayo kita cari. Kasihan juga Ran yang pasti sangat kelaparan,” Ben menukas setuju.

Tet mengeluarkan catatan. Setelah beberapa hari tersesat mencari jalan pulang ke kapal dan banyak menjumpai peristiwa mengejutkan, Tet mencatat khusus tumbuhan yang bisa dimakan. Parameternya jelas. Jika hewan memakannya, maka tumbuhan, daun, atau buah itu sudah pasti aman dimakan manusia.

“Pohon dan tumbuhan di sekitar kita ini tidak ada semua dalam catatanku. Kita harus mencari agak lebih jauh ke dalam hutan,” Tet memberikan informasi kepada kawan-kawannya setelah memperhatikan dengan teliti tumbuhan di sekitar mereka.

Ben dan Rabat mengiyakan.

“Salah satu harus tinggal di sini menemani Ran. Biar aku dan Ben saja yang mencari makanan. Rabat kau tinggal,” Tet melanjutkan.

Kembali Ben dan Rabat mengiyakan. Kedua orang itu lantas berkemas. Mereka tidak tahu harus sejauh apa memasuki hutan. Jadi lebih baik jika mereka berjaga-jaga. Tapi berhubung nyaris semua ransel dan perlengkapan mereka tertinggal di atas bukit seberang sungai tempat mereka diserang oleh makhluk mirip kingkong tadi, maka mereka mempersiapkan diri dengan seadanya. Sebilah pisau yang masih terbawa dan pentungan kayu tentu saja.

“Tunggu!” Ran rupanya terbangun mendengarkan perbincangan kawan-kawannya.

“Balurkan remasan daun ini terlebih dahulu ke tubuh kalian. Ini akan sangat berguna untuk menghindarkan diri jadi makanan beberapa jenis pemangsa di pulau ini. Daun ini langka. Jadi kita harus berhemat,” Ran menjelaskan panjang lebar.

Keempat tim ekspedisi tangguh itu membalurkan remasan daun yang dicampur air agar lebih hemat pemakaiannya. Meskipun belum teruji secara klinis, mereka percaya sepenuhnya pada penjelasan Ran.

Sementara Tet dan Ben berangkat mencari makanan, Ran berbincang dengan Rabat untuk mulai membangun rencana meloloskan diri dari pulau maut ini sekaligus berupaya mencari dan membebaskan Cindy.

-----

Tet dan Ben berjalan dengan ekstra hati-hati. Mereka tidak mau terlalu jauh masuk dalam hutan. Karena itu mereka girang bukan main saat baru beberapa puluh meter masuk dalam hutan telah menemukan sisa buah berry yang masih sangat banyak dan belum dihabiskan oleh pasukan monyet yang banyak terdapat di pohon-pohon sekitar situ.

Buru-buru kedua orang ini memanen buah berry secepatnya. Mereka tidak bisa memprediksi gejala alam maupun fenomena berbahaya yang menyertainya di pulau ini sama sekali. Karena itu lebih baik jika mereka melakukan panen buah ini dengan cepat dan segera kembali ke tepi sungai.

Setelah dua kantong telah penuh dengan buah berry, dan mereka bersiap menempuh perjalanan yang tidak sampai 20 menit ke tepian sungai, tiba-tiba monyet-monyet di atas pohon mulai gaduh. Semuanya bersuara riuh sebagai peringatan akan adanya bahaya.

Tet dan Ben saling pandang. Ada apa lagi ini? Jelas ini alarm tanda bahaya dari alam. Monyet-monyet itu sedang ketakutan.

Suara gaduh monyet-monyet itu semakin terdengar riuh. Disusul kemudian dengan suara gemerisik hebat yang berasal dari kedalaman hutan. Mengarah ke mereka berdua.

Ya ampuun! Tet dan Ben saling mengangguk lalu bersama-sama mengambil langkah seribu.

------

Bersambung ke bab Muara Perburuan