Now Loading

Bab 17

Arctic, 79°58’39.25″S 81°57’32.21″W
Laboratorium Penelitian Pandora


Setelah sedikit perjalanan memakai penerbangan komersial, Cecilia berada di atas pesawat kecil khusus yang bisa mendarat di permukaan es. Tubuhnya dibungkus mantel tebal. Dia mempunyai peralatan lengkap sekarang. Ini mengingatkannya semasa masih kuliah di program doctoral virulogi dahulu. Laptopnya bisa terhubung langsung dengan Adli Aslan tanpa harus menggunakan jalur internet umum. Di dalamnya tertanam sebuah power chip yang terhubung langsung dengan satelit.

Dia tidak tahu berapa lama pesawat baling-baling itu mengudara, yang Cecilia tahu tiba-tiba saja mereka sudah mendarat dengan empuk di sebuah tempat yang tertutup es padat di semua tempatnya.

Saat turun dari tangga terakhir pesawat, Cecilia berteriak kecil. Bukan karena angin dingin yang tiba-tiba menampar mukanya, namun karena melihat fasilitas megah di tempat seterpencil ini yang sekarang memenuhi pelupuk matanya.

Beberapa bangunan unik berbentuk Igloo namun berukuran raksasa berjajar namun dengan jarak sedikit berjauhan yang dikelilingi oleh pagar besi tinggi yang sepertinya merupakan besi penghantar listrik. Nampak 2 orang tinggi besar berdiri siaga di gerbang menyambut kedatangannya.

Cecilia diantar masuk ke bangunan di tengah-tengah. Langsung disambut pelukan erat dan hangat dari sepupu favoritnya Cathy. Dari sini semua tugas pengantaran diambil alih Cathy. Dari mulai menunjukkan di mana kamar Cecilia, dapur, ruang fitness, ruang rekreasi, dan beberapa lainnya.

Cathy menunjuk keluar ke sebuah bangunan terbesar dan terdapat antena tinggi di halamannya saat Cecilia menanyakan di mana tempat kerjanya.

Malam itu juga Cecilia diperkenalkan kepada semua peneliti dan ilmuwan yang hadir makan malam bersama di bangunan paling kecil yang khusus diperuntukkan untuk kantin. Cecilia memberi perhatian khusus kepada 2 orang yang juga hadir di sana. Profesor Sato dan Dokter Akiko.

Malam dilewati dengan banyak berbincang bersama Cathy yang memaksa Cecilia akhirnya terpaksa tidur larut. Dalam tidurnya yang singkat Cecilia sempat bermimpi mengunjungi beberapa kota besar yang benar-benar terlihat mati. Ya ampun!

Keesokan harinya dengan wajah yang masih nampak sedikit lelah namun dengan mata yang menyala-nyala, Cecilia duduk berdua dengan Profesor Sato di ruangannya yang kecil namun hangat.

"Prof, saya diutus oleh….”Kalimat Cecilia diputus oleh gerakan tangan Profesor Sato. Tangannya menyodorkan sebuah gadget kecil tipis yang mirip gawai. Profesor Sato memberi isyarat kepada Cecilia untuk mulai memakainya. Ternyata di tangan Profesor Sato sudah tergenggam juga gadget yang sama.

Pakai X-One ini untuk berkomunikasi antara kita di mana saja. X-One juga bisa dipergunakan sebagai gawai biasa.

Baik Prof. But why? Apakah ada yang Prof hendak ceritakan?

Ini Gadget anti sadap yang telah disetting hanya bisa bekerja pada orang yang memilikinya. Perhatikan, coba kau ambil gadgetku. Benda ini akan langsung mati jika berjarak lebih dari 30 cm dari suhu tubuhku yang telah dipetakan khusus olehnya.

Cecilia meraih gadget Profesor Sato. Benar saja. Gadget itu langsung mati.

Siapa saja yang menggunakan X-One Prof?

Kita berempat. Sesuai perintah Dokter Adli Aslan. Kau adalah pemimpin dari MS-AB-30 Cecil. Pergunakan waktumu selama di sini sebaik-baiknya dan lakukan serahasia mungkin. Ada mata CIA dan MI6 di sini. Dan aku curiga ada telinga raksasa farmasi juga.

Bukankah Profesor yang memanggil mereka?

Bukan. Mereka dikirim oleh Jenewa.

Dokter Adli Aslan?

Bukan. Para laba-laba di sekitarnya.

Shit!
Tanpa sadar Cecilia menyumpah dalam hati. Dia baru menyadari di tempat seterpencil ini ternyata juga tetap berada pada ujung jari para konspirator.

Tapi Cecilia cukup lega. Dokter Adli Aslan telah memberi tahu mereka tentang rencana ini. Tugasnya saat ini tinggal mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya dari Cathy dan Dokter Akiko lalu kembali ke Congo Basin. Dia sudah tahu bagaimana caranya.

Cecilia memerankan dirinya dengan baik. Dalam surat tugas yang ditanda tangani oleh Direktur Jenderal WHO dia disebut sebagai ahli virus yang akan membantu tim Profesor Sato memberikan advis. Disebutkan pula bahwa dia diberikan waktu 1 minggu untuk melakukan orientasi lalu memberikan beberapa rekomendasi.

Hari ini Cecilia memulai pekerjaannya. Salah satunya yang membuat jantungnya berdebar adalah mengunjungi tempat karantina Object X. Dia sudah melihat proses penularan Afrormosia bacteria dan segala akibatnya. Sekarang inang dari Mollivirus sibericum bisa dilihatnya secara langsung.

Cecilia juga akan berdiskusi dengan Dokter Akiko. Karena dokter itulah yang menjadi saksi hidup proses penularan dan efek dari infeksi Mollivirus sibericum.

Cecilia mengikuti langkah Profesor Sato memasuki sebuah bangunan yang agak menjauh dari bangunan lainnya. Bahkan bangunan ini memiliki pagar tersendiri yang pasti dialiri listrik tanpa henti karena terlihat banyak bangkai binatang pengerat kutub yang tersangkut di pagarnya dalam kondisi gosong. Cecilia bergidik.

Bangunan karantina ini memang sengaja dibuat dengan pengamanan maksimum untuk mengisolasi temuan-temuan mereka yang dianggap berbahaya. Sejak dibangun pertama kalinya, baru kali inilah bangunan ini difungsikan.

Selain pagar listrik, ternyata pengamanan berlapis juga terdapat pada bangunan itu sendiri. 4 orang bertubuh kekar bersenjata senapan serbu ringan duduk di ruangan depan yang terkunci secara manual. Selanjutnya proses identifikasi untuk membuka pintu ruangan dilakukan juga secara berlapis. Retina scanner dan finger printer untuk membuka ruangan pertama yang merupakan laboratorium.

Untuk membuka ruangan karantina harus melewati retina scanner, finger printer, dan weighter. Sebuah locking system yang pintu bajanya hanya bisa terbuka jika orang yang akan masuk sudah ada di dalam daftar sistem komputer dengan menscanning berat tubuhnya. Weighter ini juga sekaligus dilengkapi dengan infra red trapper yang bisa membaca bentuk tubuh seseorang yang berhak membuka pintu dan sudah ada di database sistem.

Cecilia berdecak kagum. Ini luar biasa. Sistem containtment yang level safetynya sangat tinggi.

Cecilia tetap mengekor Profesor Sato memasuki laboratorium. Beberapa orang nampak tekun di depan komputer berkecepatan tinggi. Terdapat 2 ruangan yang terpisah dengan sekat kaca anti peluru setebal 75 mm namun tetap berada di dalam laboratorium ini. Profesor Sato mengatakan bahwa yang paling ujung adalah ruangan lab khusus analisa dan di sebelahnya adalah ruangan analisa data.

Kembali Cecilia berdesis takjub. Di ruangan analisa data terlihat server-server setinggi almari mengeluarkan dengungan lirih yang terdengar hingga tempatnya berdiri.

Ini saatnya. Cecilia agak gemetar saat Profesor Sato menempatkan dirinya pada weighter dan infra red trapper tepat di depan pintu kaca berlapis baja ruang isolasi.

Profesor Sato menunjuk ke sebuah ruangan kecil yang juga dikelilingi kaca anti peluru dan dilapisi kristal intan. Di dalam ruangan kecil itu nampak terbujur sesosok tubuh wanita di atas ranjang khusus berpenghangat dengan suluran kabel-kabel tipis yang menyambung ke monitor indikator kehidupan.

Satu alat lagi yang kembali membuat Cecila menggeleng-gelengkan kepala adalah sebuah mekanisme tangan robot tertanam di atap kaca. Jadi orang-orang sama sekali tidak perlu berdekatan maupun bersentuhan dengan obyek di dalamnya. Laboratorium ini super canggih!

Cecilia dipersilahkan melihat melalui layar komputer berukuran besar untuk bisa melihat Object X dari segala sisi. Rupanya kamera kecil beresolusi super tinggi tersebar di seluruh bagian ruangan. Tidak satupun yang terlewatkan.

Mata Dokter Cecilia terpaku tak berkedip saat menyusuri bagian demi bagian tubuh Object X. Tidak ada yang aneh. Ini tubuh manusia normal. Kecuali bahwa informasi jejak karbon yang menunjukkan usia wanita itu sudah lebih dari 1 abad tapi masih terlihat seusia 40 tahunan.

Kecuali itu juga! Sebuah tanda seperti tato kecil di pergelangan tangan yang berbentuk piramida terbalik. Dia pernah melihatnya. Entah kapan dan di mana. Dia akan mengingat-ingatnya nanti.

* *******