Now Loading

Dilema

Aku masih duduk di tepi ranjang saat Afick menutup pintu kamar, setelah Bang Iswan keluar. Pikiranku kacau! Entah harus berbuat apa. Andai aku bersikukuh pulang, semua masalah akan berakhir. Biarlah Afick kembali kepada Anisah, agar aku bisa hidup normal seperti sebelum mengenalnya. Persetan dengan semuanya! Sama sekali bukan urusanku. Dan cinta? Ahhh …, omong kosong! 

 

Jika aku bertahan, apa untungnya? Hanya ada masalah dan masalah. Bahkan sampai hari ini, aku tidak yakin untuk apa aku berada di sini. Siapa yang bisa menjamin kalau Afick butuh diriku hanya untuk kebaikannya sendiri? Diperalat, dijadikan kambing hitam demi lepas dari tanggung jawab untuk menikahi Anisah. Toh, selama ini Afick baik-baik saja. Dia juga masih mempertahankan kedudukan menggantikan ayahnya. Itu berarti dia sudah siap dengan resiko yang harus dihadapi. Kalaupun tidak mampu menanggung konsekuensi, mengapa tidak mundur dan hidup seperti orang biasa? Bukankah mudah baginya untuk memilih! 

 

"Ape yang Awak pikirkan?" tanya Afick yang tiba-tiba sudah duduk kembali di sisiku. 

 

"Tak ada!" jawabku singkat. 

 

"Awak pasti berpikir, kenape saye nak teruskan jabatan ayah. Mengape saye tidak mundur sahaja. Betul, kan?" 

 

"Iya!" tegasku.

 

Sebab, tak ada yang perlu disembunyikan lagi. Untuk apa mencari masalah, jika akan selesai dengan sebuah pilihan? 

 

"Tidak semudah itu!" kata Afick.

 

"Mengapa tidak? Kamu ingin bertahan, tapi tidak mau menerima resikonya! Apa itu tidak egois?" suaraku sedikit meninggi.

 

"Sebaliknye, saye terima jabatan ayah bukan untuk diri sendiri. Saye terikat sumpah, amanah! Janji untuk jadi seorang pemimpin, mengganti kan ayah.  Saye tak nak ayah jadi korban seperti Abang Iswan dan kamu!"

 

"Tunggu dulu, apa maksud kamu? Korban? Saya jadi korban?" 

 

Aku terkejut mendengar apa yang baru saja Afick ucapkan. Itu artinya dia sudah tahu sejak awal kalau penyekapan terhadapku adalah perbuatan Anisah. Mengapa baru sekarang dia ungkapkan? Apa lagi ini?

 

"Accident hari lalu, awak dibawa die orang untuk dijadikan ancaman. Supaye saye boleh terima pumpuan itu balek!" 

 

"Kamu tahu semuanya sejak awal, tapi mengapa tidak bertindak? Kamu biarkan saya jadi sasaran kemarahan Anisah, dan kamu masih mau saya di sini? Dia bebas datang ke rumah ini setiap malam, dan menyuruh orang untuk mengancam saya. Kamu diam saja?" 

 

Kecewa! Aku benar-benar sudah tak tahan dengan semua ini. Hatiku sakit mengetahui bahwa Afick sudah tahu jika Anisah telah mengurungku, tapi dia diam dan tak berbuat apa-apa. Bahkan wanita itu masih diperkenankan datang ke kediamannya. Aku sungguh tak bisa percaya!

 

"Jangan salah paham! Saye memang tahu tabiat die orang, itu sebab saye minta pumpuan itu lepaskan awak. Saye tak peduli dengan pangkat dan jabatan, asalkan awak selamat! Saye dah janji same die, asalkan ko'orang selamat, saye tak akan buat laporan tentang kes ini. Tidak memanjang persoalan. Tapi tidak juga nak balek same die. Keselamatan awak lebih penting buat saye!" 

 

Untuk sesaat kami saling diam. Meski tidak sepenuhnya percaya, aku berterima kasih atas usaha Afick menyelamatkanku dari tangan Anisah. Jika tidak, mungkin tatkan bertahan sampai detik ini. Dia juga telah mengeluarkan banyak biaya untuk kesembuhanku. Hutang budi yang sulit aku lunasi.

 

"Lagi saye punye tanggung jawab persoalan lain. Urusan yang lebih kepade untuk kepentingan orang ramai. Saye tidak bise lepas tangan, membiarkan orang-orang berada di bawah kekuasaan orang macam ayah Anisah?" Afick kembali menjelasakan alasan lain, "yang saye pimpin adalah himpunan masyarakat, bukan company sorangan! Justeru saye nak orang-orang sejahtre, bise lepas dari kekuasaan zalim! Apebile saye nak egois, buat ape susah-susah? Saye sorang askar, tau? Bukan pengecut!" 

 

Aku terdiam. Rasanya sulit untuk memahami, akan tetapi apa yang barusan Afick kemukakan masuk akal. Aku menatap lekat ke dalam dua bola matanya, mencari sesuatu yang bisa kujadikan senjata untuk membantah semua ucapannya. Tapi nihil! Sekian detik berlalu, dia bergeming. Membiarkan mata kami beradu. Menyelami isi hati seseorang memang harus dari mata, karena tidak ada kebohongan yang bisa ditutupi dari jendela hati itu. Mungkin inilah jawaban atas amarah dan luka yang tersimpan di sana selama ini.

 

Aku bangkit dari posisi semula, berdiri memunggunginya. Masih berusaha mencari-cari apa yang salah. Bagaimana menyikapi semua penjelasan Afick? Sedangkan aku tidak yakin bisa membantu, malah sebaliknya akan jadi beban jika bertahan. 

 

"Apa yang kamu mau dari saya?" pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mulutku, mewakili isi kepala yang keruh. "Saya tidak punya apa-apa untuk bisa membantu kamu!"

 

Afick ikut berdiri. Sekarang kami saling berhadapan. Kedua tangan kekarnya memegang bahuku. 

 

"Awak cukup mendampingi saye, itu sahaje! Awak adalah kekuatan untuk saye!" ucapnya bersungguh-sungguh.

 

"Bagaimana caranya?"

 

"Apeke Awak merase saye tak sungguh-sungguh dengan perasaan saye? Atau awak yang tak sudi menerima cinte saye?" 

 

"Saya … saya …." Tiba-tiba aku gugup.

 

Pandangan mata laki-laki di hadapanku teramat sangat tajam, menusuk! Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku membuang pandangan ke bawah kaki, menghindari tatapan dan juga pertanyaan sulit.

 

"Lihat saye dan cakap! Kalau saye tak cukup pantas untuk awak cintai!" perintahnya sambil sedikit menyentak bahuku.

 

Afick butuh kepastian. Sementara aku tergamam, pikiran berkecamuk. Bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah aku mencintainya? Kalimat itu berulang-ulang bergema di kepalaku. Dunia serasa berputar dengan lambat, aku bagai terdampar di ruang hampa udara. Dadaku sesak karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan Afick. Jika aku tidak mencintainya, mengapa aku ikut dengannya? Jika aku tak cinta, mengapa aku masih bertahan. Menyukai setiap sentuhan tangannya, tatap matanya, dan peduli dengan semua perhatiannya.  Aku gamang, terjebak pada situasi yang serba salah. 

 

Kakiku mundur satu langkah, mencoba menghindar dari sentuhan tangannya. Air mataku jatuh seperti keyakinan yang runtuh. Bagai menelan buah simalakama, tersiksa oleh perasaan sendiri. Harus aku akui, kalau aku suka dengannya. Cinta padanya.  Bahagia atas kepedulian yang ditunjukan. Sikapnya yang jujur kepada ibu atas kondisiku sebelumnya, merupakan perilaku seorang laki-laki sejati. Anak-anakku juga percaya kepada Afick. Aku masih mengingkari perasaan hati, demi untuk lari dari semua masalah yang ada. 

 

Aku ingin menghindar sejauh mungkin. Tetapi langkahku tersekat ruangan. Afick berjalan mendekat, seolah tak membiarkan aku jauh darinya. Dia menunggu jawaban! Aku ingin mengelak dari kenyataan kalau aku suka padanya. Kakiku berjalan mundur, tetapi Afick malah melangkah maju. Aku tersudut di dinding kamar. Tubuhnya kian rapat ke arahku, begitu juga tatap matanya. Aku gemetar! Saat nafasnya hangat menyentuh kulit wajahku. Sedetik kemudian, bibirnya mendarat kemulutku. Dilumatnya tanpa ampun! Dan aku, menikmati semua kasih sayang laki-laki itu dengan membalas pautan. Untuk pertama kali, aku menyerah pada perasaan cintanya. Membenamkan semua masalah, dalam cumbuan memabukan. Larut pada kisah penuh dilema, tanpa peduli apa yang akan terjadi hari esok.