Now Loading

Mas Giri

Makanan pesanan kami sudah tersedia di meja dan kami pun makan dengan lahap. Tampaknya Empat Sekawan mempunyai persoalan asmara yang cukup pelik pada kunjungan kami yang kedua di Brunei ini.

Kalau mengikuti saran Laila, ada baiknya kami hanya berdiam dan pasif menunggu selama dua pekan ini, Namun Saya mempunyai rencana lain sendiri.

“Baiklah Asep, Eko dan Azwar, Yuk kita pulang ke hotel dan bersiap-siap untuk dijemput Pak Suhaili jam dua nanti. Ini sudah jam 1 lebih”, kata saya kepada sobat-sobat saya selesai menikmati makan siang di Restoran CA Mohammed yang terletak di Abdul Razak Building itu.

“Apa nih rencana Bang Zai?”, Tanya Asep penuh selidik ketika kami berjalan pulang kembali ke hotel.

“Nanti saya ceritakan, Lebih baik kita siap-siap dulu saja”.

Sesampainya di kamar, secara diam-diam saya menghubungi teman lama saya yang sudah 5 tahun bekerja di Brunei. Saya sudah mempunyai nomor hape teman saya yang bernama Giri ini. Selanjutnya kita panggil saja dia Mas Giri.
Dia teman saya sewaktu di SMA dahulu. Saya sendiri baru tahu bahwa dia bekerja di Brunei ketika bulan lalu secara tidak sengaja bertemu  di Jakarta. Pada saat itu dia sedang pulang ke Jakarta. Menurut  Mas Giri dia bekerja di dalam Istana Nurul Iman. Saya sendiri belum tahu sebagai apa. Mas Giri berjanji untung datang ke Gadong nanti malam dan mengajak Empat Sekawan makan malam bersama. Namun saya belum bilang ke Asep, Eko, dan Azwar tentang Mas Giri ini.

Sekitar jam dua siang, kendaraan penjemput sudah siap di hotel. Dan Empat Sekawan segera berangkat ke Office. Pak Suhaili, sopir yang menjemput kami juga berasal dari Indonesia sebagaimana Pak Man yang hingga saat ini masih dirawat di Hospital RIPAS.

Kami sendiri tidak ada pekerjaan khusus siang ini, hanya semacam brifing karena merupakan hari pertama dalam tugas selama dua bulan ke depan di Brunei ini. Sekitar pukul 5 kami berempat sudah kembali di hotel untuk beristirahat sejenak.

“Bang Zai, sebetulnya apa sih rencana Bang Zai seperti yang disebut siang tadi”, Eko bertanya ketika kami berdua sedang beristirahat di kamar.

“Baiklah, nanti malam akan datang teman Saya, nama nya Mas Giri. Dia sudah 5 tahun di Brunei, Saya akan minta informasi lebih banyak dari Mas Giri ini mengenai orang yang bernama Muallif”.

“Oh Begitu. Semoga kita mendapatkan titik terang dan tidak hanya pasif menunggu rencana Laila” Kata Eko lagi.

“Ya malam ini kita diajak makan bersama Mas Giri. Tapi kita tetap konsisten tidak pergi jauh-jauh dari hotel”, jawab saya.

Sekitar jam 7 malam, telepon di kamar berdering. Ternyata Mas Giri sudah menunggu di lobi. Empat sekawan segera bersiap dan turun ke lobi.

Di Lobi, Mas Giri sudah menunggu dan ketika berjumpa saya segera memeluknya dengan akrab. Kami sudah lebih beberapa belas tahu tidak berjumpa dan siapa sangka bisa ketemu di negara Brunei Darussalam ini.

Saya segera memperkenalkan Mas Giri dengan ketiga rekan saya dan kelihatannya Mas Giri mudah akrab dengan mereka bertiga,

“Ayo Kita mau makan dimana”, Tanya Mas Giri.

“Kami ikut saja", kata saya

“OK, Kalau begitu ke Food Court di sebelah sini saja, di Jaya Hypermart , biar dekat”.

Kami berjalan kaki ke mal yang menjadi satu dengan hotel dan di situ ada food court dengan berbagai pilihan makanan.

Sambil menunggu pesanan kami duduk dan mulai berbincang-bincang.

“Sebenarnya ada Night Market di Gadong sini, mungkin lain kali kita kesana “, kata mas Giri lagi

Saya  kemudian menceritakan insiden tadi malam yang hampir merenggut  nyawa kami berempat. Namun pada saat bersamaan, kami juga tidak mau masalah ini menjadi  terlalu dibesar-besarkan dan diekspose karena tidak ingin mengganggu proyek kerja kami di Brunei. Karena itu, saya minta bantuan Mas Giri untuk menyelidiki siapakah sesungguhnya Muallif yang diceritakan Laila. Saya juga kemudian menceritakan insiden salah culik yang terjadi pada malam terakhir sebelum kami berempat pulang ke tanah air Desember lalu.

“Baiklah, saya akan mencoba semampu saya, Kata Mas Giri dengan yakin”, Keyakinan ini yang membuat saya lumayan tenang. Setidaknya saya punya usaha dan rencana dan tidak pasif saja menunggu instruksi dari Laila. Semoga rencana saya ini  dapat saling membantu dengan rencana Laila.

Semoga rencana ini bisa membantu memberikan solusi terbaik atas masalah yang sedang dihadapi oleh Empat Sekawan.

Sebelum pulang Mas Giri berjanji akan menginformasikan perkembangan penyelidikannya dalam beberapa hari ke depan. 

Bersambung