Now Loading

Rencana Bang Zai

Empat Sekawan duduk semeja di Restoran CA Mohammed, Sebuah restoran di Gadong di deretan pertokoan di seberang Centre Point. Kami memesan berbagai jenis makanan seperti Nasi Goreng Pataya , Mie Siam, dan juga Ikan Kari.

Sambil menunggu makanan keluar, Saya meminta kepada Azwar dan Eko untuk menunjukkan surat mereka. Bukankah mereka sendiri sudah berjanji untuk menunjukkannya,

Eko dan Azwar segera memberikan amplop masing-masing yang berwarna oranye dan merah muda, meletakkan di meja lalu membukanya. Kedua surat itu kemudian dijejerkan di meja dan Saya membacanya secara bergantian. Isi keduanya ternyata sama dan mirip bagaikan difotokopi saja.

Bang Azwar dan Eko tersayang,

Walau Irma dan Noor juga sudah sangat rindu dengan abang berdua setelah hampir empat bulan kita tak berjumpa, namun kejadian yang tidak terduga tadi malam membuat kami berdua untuk sementara tidak bisa muncul menemui abang berdua.

Bagaimana khabar abang berdua? Tentunya juga sudah rindu dengan Irma dan Noor.

Keadaan dan situasi seperti ini tidak dapat kami hindari. Kak Laila yang minta kepada kami berdua untuk tidak menemui abang berdua selama dua minggu ini. Kak Laila sendiri telah mempunyai suatu rancangan yang sangat jitu untuk mengatasi masalah ini. Namun Kak Laila memerlukan kerja sama kita semua untuk menyokong rencananya. Kalau kita semua ikut mendukung dengan sama sekali tidak bertemu maka kemungkinan besar rencana Kak Laila akan berhasil dan setelah itu kita berempat serta Kak Laila dan Bang Asep akan memiliki hubungan yang jauh lebih baik dan mulus ke depannya.

Kami berdua sendiri tidak berani bertanya apa sesungguhnya rencana Kak Laila. Menurutnya, biarlah rencana ini masih menjadi rahasia, hingga waktunya tiba untuk dilaksanakan. Karena bila diungkap sebelum masanya, besar kemungkinan rencana ini akan gagal.

Karena itu Irma dan Noor sangat berharap agar abang berdua dalam masa dua pekan di muka ini sangat berhati-hati dan tidak bepergian jauh dari Office maupun hotel. Seandainya ada kawan atau teman yang mengajak abang berdua pergi ke tempat yang jauh, ada baiknya ditolak dengan baik-baik.

Untuk sementara, komunikasi di antara kita akan melalui pihak ketiga yaitu Laili. Atau bisa saja orang lain yang diperintahkan Laili untuk menghubungi abang berdua.

Irma dan Noor sangat berharap kita semua bisa melalui masa genting dalam dua pekan ini dengan baik sehingga semuanya akan berakhir dengan baik.

Salam rindu selalu untuk abang berdua.

Irma dan Noor

Saya membaca kedua surat itu bergantian dan kemudian membandingkan isinya dengan surat yang saya dapat dari Laila. Secara garis besar isinya hampir sama. Surat Irma dan Noor hanya merupakan konfirmasi dan pemintaan dukungan kepada rencana Laila.

Dapat kita lihat bahwa Laila merupakan sosok yang sangat berperan dengan rencananya untuk mengatasi keinginan Muallif.

“Bang Zai, sebagai orang yang paling berpengalaman dalam hidup, bagaimana menurut pendapat Bang Zai?” Tanya saya sambil juga menunjukkan ketiga surat kepada bang Zai dalam tiga amplop, putih, merah muda, dan oranye.

Sejenak Bang Zai membaca ketiga surat itu dan kemudian berkata:

“Kita belum tahu rencana Laila, Namun Saya juga punya rencana untuk menghadapi Si Muallif itu”

“Apa Itu”, serentak Saya , Azwar dan Eko bertanya. Dan bersamaan dengan itu makanan yang kami pesan pun muncul.

Bersambung