Now Loading

Kotak Sihir yang Hilang

Gubraaak! Terjatuh dari tempat tidur membuyarkan mimpi seram tentang sosok Bogart. Tak ada lagi penyihir hitam bermata api. Tak ada pula seringai jahat. Yang ada sinar matahari, hangat menyelinap masuk ke dalam kamarku.

Kiranya hari sudah pagi. Sudah waktunya untuk beraktivtas lagi. Aku merapikan buku-buku yang semalam kubiarkan tercecer, memasukkannya ke dalam tas kerja dengan agak terburu.

Semua peralatan sudah beres. Tinggal membersihkan diri. Aku mengayun kaki meraih handuk yang tersampir di belakang pintu.

Tapi benarkah semua sudah beres? Aku urung melangkah. Berdiri mematung beberapa saat di ambang pintu. Berusaha mengingat-ingat sesuatu.

Yup, ternyata ada yang terlupa. Kotak kecil berwarna biru lembut belum masuk ke dalam tasku. Sejenak mataku beralih, sibuk menyapu sekeliling ruangan mencari keberadaan benda itu. Tapi hingga beberapa menit, aku tidak juga menemukannya. 

Kukira ini pagi yang buruk. Sangat buruk. Sebab aku kehilangan kotak berisi pensil warisan dari Kakekku. 

***

"Selamat pagi, anak-anak!" Aku menyapa murung murid-muridku yang sudah duduk rapi di dalam kelas. Aku terlambat beberapa menit gara-gara sibuk mencari barangku yang hilang.

"Selamat pagi, Miss Liz!"

"Adakah yang absen tidak masuk hari ini?"

"Ada Miss. Dirga!" Renata berdiri dari bangkunya. Lalu bocah yang dipilih menjadi ketua kelas oleh teman-temannya itu maju menyodorkan buku daftar hadir ke hadapanku.

"Kenapa Dirga? Apakah ia sakit?"

"Kupikir tidak, Miss. Sebab beberapa menit lalu saya sempat melihat dia berada di kelas ini," Renata menatapku seraya membetulkan letak kaca matanya yang sedikit menurun.

"Lalu ke mana dia?" 

"Sepertinya dia dalam masalah, Miss."

"Oh, benarkah?"

Renata mendadak terdiam. Aku beringsut dari dudukku. 

"Kau mengetahui sesuatu, Renata?" mataku menatap Renata tak berkedip. Entah mengapa tiba-tiba saja hatiku merasa tidak enak. Kulihat Renata mengangguk.

"Maafkan saya, Miss Liz. Tanpa sengaja saya tadi melihat Dirga berdiri di dekat meja Anda. Saya pikir teman saya itu, mm, telah mengambil barang milik Anda yang tertinggal."

Aku terhenyak.

***

Hari itu aku benar-benar kehilangan fokus mengajar. Pikiranku tertuju pada kotak kecil yang diambil oleh Dirga. Aku mengkhawatirkan sesuatu. Kotak itu tidak hanya berisi pensil berkepala naga. Aku menyimpan juga kertas berisi mantra-mantra pemberian Kakek di sana. Kalau Dirga sampai membaca mantra-mantra itu ... duh, aku tidak bisa membayangkannya.

Benarlah. Feelingku bekerja dengan baik. Mendadak aku mendengar suara mencurigakan dekat sekali di telingaku. Suara itu bising semirip dengung lebah. 

"Miss Liz! Tolong aku ... aku tidak bisa kembali ke asalku!"

Aku memicingkan mata. Berusaha mencari asal suara itu. 

"Miss Liz! Anda bisa mendengar saya, bukan? Saya Dirga!"

Aku mengucek kedua mataku. Memastikan penglihatanku tidak salah.

Oh, sedang bermimpikah aku?

Dirga, bocah bertubuh gembul itu telah berubah wujud. Ia menjadi seeokor lalat --- besar dan bersayap hijau.

"Kau pasti menyentuh pensil berkepala naga itu dan membaca mantra-mantranya, Dirga!" Aku mencecar muridku itu sembari melototkan mata. Lalat di depan hidungku itu menggoyangkan tubuhnya. Lalu terbang merendah.

"Maafkan saya, Miss Liz. Saya tidak tahu kalau tulisan itu adalah mantra. Saya juga tidak bepikir bahwa ... semua cerita itu benar."

"Cerita? Cerita apa?"

"Cerita tentang diri Anda, Miss Liz.  Kemarin sebelum Anda memasuki kelas, Mister Bogart mengatakan kepada kami, bahwa Anda menguasai sihir. Bukan sulap."

Aku menghela napas panjang. Jadi --- lagi-lagi si Bogart itu. Rupanya ia sudah mengetahui siapa diriku.

"Tolong saya, Miss Liz. Please...." Dirga mengepak-ngepakkan sayapnya berulang-ulang.

"Mantra apa yang sudah kau baca?" aku mengangkat alis. Dirga tidak langsung menyahut. Sepertinya ia sedang mengingat-ingat sesuatu. Aku menunggu.

Beberapa menit kemudian lalat hijau jelmaan Dirga itu berdengung kembali. Kali ini terdengar lebih bising dari sebelumnya.

"Miss Liz, saya ingat sekarang! Saya tadi membaca mantra ini. TABANUS!"

"TABANUS?" Aku mengulang kata-kata Dirga dengan suara tinggi. Dan, itu merupakan sebuah awal kekacauan.

Mengulang kembali mantra yang diucapkan Dirga, membuat tubuhku sontak menciut. Lalu ... blasshhhhh! Asap tebal bergulung-gulung pekat. Aku terkurung di dalamnya dan sulit untuk bernapas.

Kekacauan selanjutnya pun terjadi. Tubuhku menghilang. Berubah wujud menjadi seekor lalat.

Lalat itu berukuran besar, memiliki sayap berwarna hijau. Lalu terbang berputar-putar di samping Dirga. Bernguing-nguing. Panik.