Now Loading

Bab 16

Jenewa, 46° 12′ 23″ N, 6° 05′ 38″ E
Kantor WHO


Seorang perempuan usia 40 an, pirang bergelombang, kacamata tebal minus 5, berjaket Armani, menggunakan syal buatan Hermes, dan menenteng tas jinjing merk Louis Vuitton, berdiri di hadapan recepsionis markas besar WHO sambil mengatakan ingin bertemu Direktur Jenderal WHO saat ini juga.

"Direktur Jenderal sedang sibuk. Ada beberapa rapat penting yang harus dihadiri hari ini. Maaf,”Resepsionis yang juga berambut pirang itu memandang takjub dan sedikit iri kepada perempuan di depannya. Huh! Orang kaya yang kurang kerjaan.

Perempuan berpenampilan jet set itu tersenyum sinis.

"Katakan aku akan berdonasi 1 Milyar Euro untuk penelitian Mollivirus sibericum. Jika tidak mau menemuiku sekarang, aku akan ke Solna Swedia menemui kolegaku di ECDC.”

Resepsionis itu menjadi gugup. Saat ini dia bisa seketika menjadi pahlawan atau pecundang. Meskipun berprofesi sebagai resepsionis, dia tahu persis apa itu Mollivirus sibericum. Setidaknya berita tentang kedahsyatannya.

"Oke baiklah. Aku akan menghubungi Direktur Jenderal lagi. Dengan siapa nanti beliau akan berbicara?”

"Katakan saja aku dari Istana Buckingham.”

Resepsionis yang sudah terlanjur gentar itu buru-buru meraih telpon di depannya.

"Direktur Jenderal akan menemuimu sekarang di kantornya. Aku akan mengantarmu Madame..”

Dokter Cecilia merasa geli di balik riasan dan dandanan megahnya. Teman-temannya dulu mengatakan bahwa dia berwajah aristokrat. Saat ini dia membuktikannya.

Setelah dipersilahkan duduk, Cecilia memperhatikan laki-laki paruh baya di depannya dengan cermat. Seorang lelaki berambut putih dengan raut muka tegas dan pintar. Cecilia menebak pria pucuk pimpinan WHO ini berkebangsaan Arab.

"Adli Aslan, 58 tahun. Aku berkebangsaan Turki. Baru 2 bulan ini menjabat. Meskipun kau menjanjikan dana penelitian 1 Milyar Euro yang aku tidak percayai sama sekali, tapi aku yakin kamu punya sesuatu yang super penting hingga bersedia berbohong sedahsyat itu.”

Lelaki itu memandang tajam Cecilia tapi mulutnya tersenyum ramah. Cecilia menjadi sangat kikuk. Ah aku berhadapan dengan seorang genius.

"Aku tidak bermaksud berbohong sedahsyat itu, sir. Hanya saja menemuimu sama sulitnya dengan bertemu presiden Amerika. Jadi aku terpaksa melakukan itu.”Cecilia mengeluarkan kertas catatan Congo Basin dari dalam sepatu sebelah kirinya. Dan catatan hasil diskusinya dengan Cathy dari dalam sepatu sebelah kanan.

Adli Aslan tertegun. Lalu tertawa terbahak. Dia yakin 100% sekarang bahwa perempuan di depannya ini memang serius. Diterimanya kedua catatan itu. Hening lalu memenuhi ruangan yang sejuk itu sejenak. Tak lama Adli Aslan mengangkat mukanya. Raut mukanya kembali kaku.

"Cecil, siapapun kamu. Ini jauh lebih dahsyat dari 1 Milyar Euro. Kamu yakin?”

"Dokter Adli, aku seorang dokter. Untuk apa aku bersusah payah pergi ke sini jika apa yang ada dalam catatanku adalah kebohongan?”Cecilia menentang tatapan tajam itu dengan berani.

Adli Aslan menggelosoh di kursinya. Kedua catatan kecil itu bisa menjadi pemicu genosida jika diabaikan. Dia percaya perempuan ini.

"Oke baiklah. Jadi apa yang harus kita lakukan Cecil?”

"Situasinya telah menjadi semakin rumit Dokter Adli. Selain kita harus bersiap memitigasi pandemi, kita juga berurusan dengan banyak kepentingan yang sudah terlibat.”Cecilia menjelaskan panjang lebar mengenai DGSE, GRU, CIA, MI6, para raksasa farmasi dan pihak-pihak yang diduganya masih tersembunyi. Menunggu hingga peristiwa ini menyentuh kepentingan mereka nanti.

Adli Aslan semakin dalam terbenam di kursinya. Lalu tubuhnya tegak kembali dengan tiba-tiba.

"Begini Miss Cecil. Kalau begitu aku menugaskanmu ke dalam tim tanggap darurat Mollivirus sibericum dan Afrormosia bacteria atau mulai sekarang kita sandikan sebagai MS-AB-30. Kamu boleh menyusun timmu sendiri. Kamu akan disupport oleh WHO secara diam-diam. Anggap saja aku adalah petugasmu yang berada di WHO. Aku akan mengerahkan segala sumberdaya di WHO untuk mendukung apapun yang kamu lakukan.”Cecilia terperangah. Direktur Jenderal Adli Aslan sekarang berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan.

"WHO punya sayap organisasi penelitian rahasia Miss Cecil. Profesor Sato yang kau sebut tadi adalah orang kami yang paling kredibel. Aku menyarankan agar kau memasukkan Sato san dalam tim. Juga sepupumu Cathy. Dan Dokter Akiko tentu saja. Aku akan mengatur supaya kalian bisa bertemu di satu tempat rahasia untuk memulai konsolidasi dan menyusun crash program. Kalian harus bergerak cepat. Ini adalah perang dunia berikutnya tanpa senjata.”

Dokter Cecilia bangkit dari duduknya. Menyalami tangan Adli Aslan dengan genggaman kuat. Dokter Adli Aslan tersenyum. Menyukai semangat wanita di depannya ini.

"Tapi ingat! MS-AB-30 adalah organisasi tanpa bentuk yang lebih rahasia dari rahasia. Kau hanya akan melapor kepadaku Dokter Cecilia.”

"Isitrahatlah malam ini. Kau bebas menginap di mana saja. Budget akan selalu tersedia di rekeningmu. Usahakan tidur secara proper. Karena besok kau akan terbang ke Pandora.”

Kalimat terakhir Direktur Jenderal Adli Aslan mengantar Cecilia keluar dari markas besar WHO dengan segunung harapan. Semoga semua yang dilakukannya tidak terlambat. Hati Cecilia berdebar kencang. Sambil menunggu jemputan limousine sewaannya, perempuan ini mengedarkan pandangan ke perkantoran dan jalanan yang ramai. Sudah jam makan siang. Di matanya kembali terbayang suasana karantina yang mencekam.

* ******