Now Loading

BAB V. SIKSA ADALAH BAGIAN KEHIDUPAN (BAGIAN 2)

Dari ruang makan, melalui jendela kecil di pintu dia bisa melihat matahari mulai terbenam, menciptakan bayangan di tanah dari pohon-pohon yang meranggas.

Ini akan menjadi pertama kalinya dia berada di luar barak setelah berabad-abad lamanya, dan gairah yang menyala dalam dadanya menghilangkan semua rasa takut. Tinggal beberapa langkah lagi yang dibutuhkan untuk membawanya sampai ke pintu.

Langkah selanjutnya akan menjadi yang paling berisiko dan mungkin akan membuatnya terbunuh. Bayangan neneknya yang terbujur di lantai dengan kepala hancur—manusia satu-satunya yang dicintainya tapi dibunuh oleh Pengawas—memberinya tekad yang sangat dibutuhkannya.

Gadis itu mengeluarkan pisau dari sakunya dan menempatkan ujung tajam tepat di bawah keping sensor di tengkuknya. Dengan tangannya yang lain, dia membuka pintu. Sirene peringatan tidak akan berbunyi sampai dia benar-benar mencungkil chipnya, tetapi dia tidak punya waktu untuk berpikir ulang. 3556P menarik napas dan menggigit bibirnya kuat-kuat saat dia mulai menusukkan mata pisau ke dalam kulit . Rasa sakit yang membakar mungkin telah membuatnya tak mendengar sirene yang meraung-raung memekakkan telinga bagi yang lain. Air mata panas menetes bercampur darah dari bibirnya yang digigit terlalu keras. Dia bisa merasakan segumpal daging dari tengkuknya terlepas. Sebelah tangannya meraba belakang kepala untuk merasakan kemunculan benda keparat itu. Masih ada waktu beberapa detik lagi….

Tepat ketika dia merasa akan pingsan karena rasa sakit, dengan tergesa-gesa dia mulai mencungkil lagi, dan merasakan potongan kulit terlepas dari lehernya. Sepotong daging hangat dan basah di tangannya, dan dengan puas dia menatap keping logam kecil di yang menempel di situ. Namun, begitu dia sadar bahwa dia berhasil, raungan sirene samar-samar merasuk ke telinganya. Sirene tanda kematiannya.

Tanpa berpikir panjang, 3556P menjatuhkan bongkahan kulit dan daging itu dan mulai berlari. Suara sirene yang tadinya samar-samar semakin keras setelah pendengarannya kembali sepenuhnya. Air mata mengaburkan pandangannya, dan darah yang mengalir dari lehernya membasahi punggung. Jubahnya terasa berat oleh keringat dan darah saat dia berlari menuju jalur yang telah ditetapkan neneknya.

Sambil berlari, dia berusaha menghindari kilatan cahaya sorot lampu yang menari-nari di sekelilingnya. Dia bisa mendengar derap sepatu bot beberapa meter jauhnya. Di luar gelap, tapi sinar lampu membuatnya ketakutan.

3556P berhasil menghindari sorotan lampu selama beberapa menit tanpa terlihat oleh Pengawas, tapi dia bisa mendengar mereka semakin mendekat.

Tiba-tiba, sebuah cahaya menyorot tepat di mukanya.

"Di sana! Tembak!"

DOR!

Peluru menyerempet jubah 3556P, tapi secara ajaib tak menyentuh kulitnya.

DOR! DOR! DOR!

Bertubi-tubi suara tembakan dilepaskan, tetapi gadis itu terus berlari. Bahkan jika saat itu ada peluru yang menembus tubuhnya, dia tak akan merasakannya. Adrenalin telah menggantikan cairan darah dalam nadinya.

Dia tahu ke mana harus pergi—satu-satunya tempat untuk selamat.

Dia terus berlari melintasi jalan setapak dan segera berbelok ke tumpukan bayangan mayat di sisi lain. Tumpukannya yang kini tinggi menggunung. Melalui tudungnya, gadis itu tetap bisa mencium bau busuk yang menusuk hidung. Dia naik memanjat ke atas tumpukan, berusaha untuk tidak melihat apa yang disentuhnya dengan menggunakan tangan dan kaki mayat-mayat sebagai tumpuan.

Di puncak, dia berbaring telentang, diam tak bergerak sediam mungkin. Jantungnya terasa seperti mau meledak. Dia bisa mendengar para Pengawas berlarian menuju tumpukan mayat.

“Kemana dia?”

“Aku tak tahu. Aku tidak melihat gerakan apa pun."

“Dia tak mungkin pergi jauh. Orangtuanya menemukan kepingan sensor dan sepatunya. Kita bisa menggunakan darahnya untuk melacaknya. Jika kalian melihatnya, tembak langsung."

Gadis itu mengatur napasnya agar detak jantung melambat, berharap para Pengawas segera pergi.

“Bagaimana jika dia berhasil meninggalkan kuadran kita?”

“Belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi jika memang dia berhasil lolos, kita harus melapor ke KHAN22 supaya semua kuadran waspada.”

Terdengar suara benda jatuh di kejauhan, mungkin hanya dahan pohon kering ditiup angin. Namun, para Pengawas segera berlari menuju ke arah bunyi tersebut, mengira 3556P yang ada di sana.

Gadis itu menghela nafas lega dan langsung tersedak oleh bau yang mengurungnya. Semakin keras dia berusaha untuk tidak melihat mayat-mayat itu, semakin sulit untuknya menghindar karena mereka ada di sekitarnya.

Dia melepas tudungnya dan menutupi mulut dan hidungnya, tapi tak mengurangi kontamisasi bau yang menyengat. Dia memperhatikan di samping sebelah kirinya, seorang pria dengan luka tembak di dada dan ekspresi kaget di wajahnya yang kelabu. Ketika kemudian dia berpaling ke kanan, seorang wanita dengan setengah kepalanya hilang karena luka tembak, tampak kukuh menantang kematian.

Wanita itu neneknya, Devi.