Now Loading

Perlakuan Kasar

Siang hari ini cuaca cerah, aku berniat melakukan sesuatu untuk mengisi waktu luang. Kesehatan sudah pulih total, pergerakan tubuh telah kembali normal. Aneh rasanya tinggal di rumah orang tanpa melakukan aktivitas berarti. Cenderung bosan. Sekian lama aku berada di rumah Afick, sudah cukup tahu kegiatan seluruh penghuni rumah. Dia pergi pagi sekitar pukul 08:00 waktu setempat, lalu pulang sehabis ba'da magrib. Kadang Afick pergi lagi sehabis makan malam, jika ada yang ajak ketemuan, atau urusan penting. Aku tak pernah cari tahu apa saja yang dia kerjakan, sebab memang tidak perlu tahu. Terkadang dengan sukarela dia datang menemuiku, hanya untuk bercerita tentang apa saja yang dilakukan seharian di luar rumah. 

 

Sementara Bang Iswan, lebih banyak menghabiskan waktu di ruang pribadinya. Kami bertemu di waktu-waktu seperti pagi hari kala sarapan, makan siang, dan makan malam. Andaipun di luar kegiatan tersebut, yaitu ketika aku pergi ke studio lukisnya. Melihat Bang Iswan berkreasi di atas kanvas, cukup menyenangkan. Dia begitu piawai memoles cat warna-warni, hingga membentuk sebuah objek yang mengagumkan. 

 

Di kediaman Afick banyak pekerja. Ada sopir pribadi yang standby di rumah, satu lagi khusus untuk dirinya sendiri. Ada 6 asisten rumah tangga, semua perempuan. Tukang kebun yang merawat tanaman dan kolam renang, sekaligus sebagai tenaga renovasi rumah mewah Afick jika ada bagian-bagian yang rusak. Sementara wanita yang bernama Anisah, selalu terlihat di waktu makan malam. Dia akan pulang setelah Afick masuk kamar untuk tidur. Jika belum, kemanapun laki-laki itu berada, Anisah selalu ada di sisinya. Ini sudah jelas! Tindakan yang dia lakukan, semata-mata memperingatkan agar aku menjauhi Afick. Tak boleh bersama. Kadang geli hati juga melihat tingkah laku wanita itu, tetapi aku bersikap biasa-biasa saja. Lebih tepatnya tidak peduli. 

 

Kemarin malam aku sudah sepakat dengan Rosnia. Siang ini kami berencana membuat penganan kecil khas Indonesia sebagai cemilan. Karena dia lebih banyak tahu tempat di daerah sekitar, aku memintanya untuk berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan. Kue pastel, bakwan, tahu isi, dan minuman segar seperti es kopyor, kayaknya enak disantap sore-sore. Kebiasaan suka ngemil di rumah, jadi terbawa-bawa ke negeri orang. Sungguh bisa jadi pelepas rindu. Apalagi Rosnia juga punya perasaan yang sama, dia tampak bersemangat saat aku utarakan keinginan itu tadi malam. Dengan senang hati dia pergi berbelanja bahan sehabis jam makan siang. 

 

Sudah hampir satu jam Rosnia pergi, dan mungkin sudah kembali. Aku hendak menemuinya di dapur. Baru saja aku keluar kamar dan belum sempurna menutup pintu, tiba-tiba tubuhku didorong secara kasar oleh seseorang dari belakang. Tangan kananku ditekuk ke belakang tubuh, kepala ditekan kuat ke tembok. Dalam posisi dia di belakang badanku.

 

"Siapa kamu?" bentakku emosi karena mendapat perlakuan tidak sopan.

 

"Sebaiknya Kamu pulang dan jangan datang ke sini lagi! Di sini bukan tempat kamu, dan jangan punyai harapan terlalu tinggi!" ancamnya, "ini peringatan! Kalau masih tidak turuti keinginan kami, kamu pasti menyesal!"

 

Kami? Maksudnya? Mungkinkah dia orang suruhan Anisah? Pipi kiriku yang tersudut di tembok terasa sakit dan perih. Suara seorang laki-laki yang terdengar berat, masih belum melepaskan kuncian tangannya. Dia coba berbicara memakai Bahasa Indonesia, tetapi terdengar kaku. Aku tidak tahu siapa dia, karena wajahku ditekan sedemikian rupa hingga tak berkutik. Meski mencoba melawan dengan menendangkan kaki kanan ke arahnya, tapi tidak terjangkau. Sepertinya orang ini sudah mahir melakukan perbuatan itu, sampai-sampai aku kehabisan nafas. 

 

"Hai, siape kamu!" bentak sebuah suara dari arah belakang, agak jauh tapi jelas. "Hai!" ulangnya lagi. 

 

Itu suara Bang Iswan. Orang itu belum melepaskan tubuhku, dia malah terus memegangi tangan kananku lebih kuat. Mendengar suara seseorang membentak, dia malah memutar tubuhku menghadap arah sebaliknya. Rupanya Bang Iswan. Laki-laki lumpuh itu berusaha memacu kursi rodanya agar segera mendekat ke tempat aku berada. Namun dari jarak kurang dari 2 meter, tubuhku didorong dengan kekuatan penuh oleh si pelaku  ke arah Bang Iswan. Dia kabur! Hampir saja tubuhku jatuh menimpa Bang Iswan, jika kedua tanganku terlambat memegang besi di bagian tangan kursi roda.

 

"Rani tak pe?" tanya Bang Iswan khawatir.

 

"Alhamdulillah, tidak apa-apa!" jawabku meski bagian wajah masih terasa panas akibat perbuatan orang tadi. 

 

"Siape agaknye orang, tu? Rase-rasenye familiar, tapi mukenye betudong. Tak jelas abang tengok!" 

 

Rasa terkejut atas kejadian barusan, membuat tubuhku gemetar saat berusaha berdiri dengan benar. Perlakuan kasar yang diterima secara mendadak, bikin jantungku seperti habis berlari puluhan kilometer. Mungkin wajahku pias! Beberapa asisten rumah tangga bergegas ke arah kami, termasuk Rosnia. Bisa jadi mereka tadi mendengar suara nyaring Bang Iswan yang membentak pelaku. 

 

"Ade ape, Dato Iswan?" tanya salah satu di antara 3 yang hadir. 

 

"You call Afick cepat! Kasih tau die ade penyusup masok kat rumah nih!" perintah Bang Iswan.

 

Yang disuruh bergegas mengeluarkan gawai untuk menghubungi Afick.

 

"Mbak tidak apa-apa?" tanya Rosnia cemas sambil menghampiri aku.

 

Dia ingin memastikan kondisiku tidak apa-apa. 

 

"Tidak apa-apa!" jawabku getir.

 

Tetap saja suara yang dihasilkan oleh bibirku sedikit bergetar. Rosnia segera masuk kamar, sejurus kemudian dia kembali membawakan segelas air putih. 

 

"Minum dulu, Mbak! Wajahmu pucat sekali. Apa yang terjadi?" tanyanya beruntun.

 

Aku tidak bisa menjawab, hanya menggelengkan kepala. Air putih memang membuatku sedikit tenang. Bang Iswan meminta Rosnia membawaku kembali ke kamar, dan meminta wanita itu terus menemaniku. Pikiranku berkecamuk. Sebenarnya apa yang diinginkan Anisah? Memang benar dia tidak suka aku ada di sini, tapi mengapa harus menyuruh orang berlaku kasar padaku? Ini juga bukan keinginanku. Andai sekali saja dia mau berbicara kepadaku, pasti akan aku jelaskan kesalahpahaman antara kami. Ya … memang sebaiknya aku pulang, seperti keinginan orang tadi. Agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk. Bukannya aku takut, hanya saja bisa mati konyol jika terus-terusan bertahan tanpa punya kesempatan menjernihkan permasalahan sebenarnya.

 

Tidak butuh waktu lama, Afick benar-benar pulang. Laki-laki itu langsung menemuiku karena khawatir. Terlihat jelas di matanya. Selain dia, Bang Iswan juga hadir. Rosnia masih tetap berada di kamar sesuai perintah, awalnya kami duduk bersisian dengan di tepi ranjang. Melihat Afick datang, Rosnia buru-buru berdiri, berjalan ke salah satu sisi kamar dan berdiri di sana. Wajahnya terlihat tegang, mungkin takut disalahkan Afick atas kejadian yang menimpaku.

 

"Awak tak ape-ape? Ade cedre?" tanya Afick yang kini menggantikan tempat Rosnia duduk di sampingku.

 

"Tidak!" Aku menggeleng, "Afick, aku mau pulang!" pintaku seketika.

 

Dia diam, menatapku lekat-lekat. Entah apa yang dipikirkan. Sesaat kemudian Afick langsung berdiri, lalu melangkah perlahan ke arah dinding kaca. Masih tetap membisu, sementara aku masih menunggu jawaban.