Now Loading

Silva Predonum

Ran melompat turun dari cabang terakhir. Matahari sudah naik sepenggalah. Saatnya memulai pencarian. Perbekalan di ranselnya bisa bertahan untuk 1 hari. Setidaknya. Dia bisa mengikuti metode jungle survival untuk bertahan hidup setelahnya.

Hutan di depannya ini memang nampak misterius. Lebat, hitam, dan menyeramkan. Sudah berapa lama ketiga temannya terjebak di dalam sana? Apakah mereka masih hidup?

Ran tidak mau berpikir lebih jauh lagi. Apa yang ada akan dijalaninya. Apapun nanti hasilnya. Dengan langkah mantap Ran memasuki hutan. Pepohonan di hutan ini jauh lebih besar dibanding belantara biasa. Auranya sangat tidak biasa. Seolah ada ribuan mata yang sedang mengintai dan siap setiap saat menyergap bagi siapa saja mangsa yang lengah.

Bulu tengkuk Ran meremang. Petualang yang juga seorang dokter ini mulai memperhitungkan langkah-langkah antisipasi. Apa yang harus dilakukannya jika bertemu binatang buas. Menyelamatkan diri dengan cara bagaimana. Apa saja yang bisa dimakannya jika dia kehabisan bekal. Dan tentu saja di mana nanti dia akan bermalam bila belum bertemu teman-temannya saat malam tiba.

Melalui matanya yang awas dan telinganya yang terlatih, Ran berusaha menangkap sekecil apapun pergerakan dan suara di sekitarnya. Makin lama hutan ini makin gelap. Cahaya matahari tidak sepenuhnya mampu menembus lebatnya kanopi pepohonan raksasa. Ini kurang lebih saja dengan petang, pikir Ran agak masgul.

Meskipun bukan ahli biologi, namun sebagai seorang dokter, Ran melihat banyak sekali keanehan pada vegetasi yang ada dalam hutan ini. Sudah berkali-kali dia menjalani ekspedisi, di berbagai belahan bumi, belum pernah dia menemui jenis-jenis yang seperti ini. Diam-diam Ran tersenyum. Seandainya ada ahli botani di sini, pastilah dia akan menari-nari saking girangnya melihat jenis-jenis baru yang tidak pernah dijumpai.

Senyum di wajah Ran pupus seketika. Dia melihat sesuatu yang sangat ganjil di hadapannya. Di bawah pohon yang mirip Beringin tapi bukan karena daunnya sangat lebar dan dari batangnya keluar getah yang bergumpal, nampak tumpukan tulang belulang. Ya ampuun! Ran ragu-ragu untuk mendekat.

Tapi setelah dirasakannya situasi cukup aman dan tidak ada tanda-tanda binatang buas di sekitar situ, Ran mendekat juga karena penasaran.

Ah benar! Ini tulang belulang yang masih cukup baru. Belum berusia lebih dari semalam. Masih segar! Ran tercekat hatinya! Jangan-jangan….

Dibuangnya semua pikiran buruk yang berkecamuk. Dia adalah seorang dokter. Semua hal harus dipastikan. Dan Ran melakukannya. Memeriksa tumpukan tulang belulang itu dengan seksama. Ran menjadi agak gugup. Di antara tumpukan tulang itu terdapat juga tulang belulang manusia. Ya ampuun!

Ran menghentikan aktifitasnya. Separuh hatinya mencelos karena merasakan kengerian jika itu tulang temannya. Tapi tulang yang ada ini cuma milik satu orang. Ran mencoba berpikir positif. Temannya 3 orang. Mungkin 2 orang lagi selamat. Atau ini tulang orang lain dan ketiga temannya masih selamat. Tapi masa iya ada orang lain lagi di pulau mengerikan ini?

Ran merasa kepalanya berputar tak karuan ketika memikirkan hal itu. Dia harus fokus! Bukan memikirkan siapa pemilik tulang manusia ini, tapi mencari tahu apa yang telah mengunyah daging mereka dan hanya meninggalkan tulang saja?

Ran mengedarkan pandangan ke sekeliling menyelidiki. Termasuk juga meneliti jejak-jejak binatang di sekitar tumpukan tulang. Tidak ada jejak apa-apa. Lantai hutan bersih. Tiba-tiba mata Ran terantuk pada sesuatu yang aneh, mengejutkan, sekaligus mengerikan.

Pohon raksasa itu mempunyai batang yang sangat besar dan kulit kasar berulir. Di salah satu ulir batang itu terdapat bercak hitam dan hei! Ada sesuatu berwarna putih yang tersangkut di situ. Ran mengambil sebuah ranting lalu mencoba mengambil benda itu dengan hati-hati.

Mata Ran terbelalak hebat setelah mengetahui bahwa benda putih yang tersangkut itu adalah tulang! Tulang manusia! Jantung Ran berdetak cepat. Pikirannya membersit pada satu dugaan.

Dijulurkannya ranting panjang itu ke kulit pohon tempat tulang tadi tersangkut. Kulit pohon ternyata empuk dan tidak keras seperti layaknya kayu. Semakin penasaran, Ran menusukkan ujung ranting yang dipegangnya pada celah uliran batang. Astaga! Ujung ranting itu masuk dengan mudah ke dalam!

Ini gila! Ulir itu bukan lingkaran tahun atau apa. Ulir itu sebuah mulut yang besar! Pohon ini mempunyai mulut!

Ran terjajar mundur ke belakang. Jadi yang memangsa binatang dan manusia ini semua adalah pohon!

Wajah Ran pucat pasi. Ditetapkannya hati untuk melihat ciri-ciri pohon ini dengan teliti. Pohon ini tadi sama sekali tidak bereaksi saat dia menusukkan ranting. Ran paham. Ini siang hari. Itu berarti pohon ini adalah pemangsa nokturnal. Hanya menjadi predator saat malam hari.

Sedikit kelegaan menghampiri Ran. Setidaknya sekarang dia bukan calon mangsa.

Dengan sangat berhati-hati, Ran meneliti ciri-ciri pohon pemangsa ini. Berwarna gelap dengan cabang dan ranting hingga batang paling bawah. Hmm, rupanya cabang dan ranting itulah tangan-tangan pohon untuk menyergap mangsanya. Sekali lagi Ran bergidik.

Setelah yakin bisa mencirikan dengan tepat apabila bertemu dengan pohon sejenis ini, Ran melanjutkan perjalanan. Masuk semakin dalam ke hutan.

Perjalanannya kali ini lebih lambat. Ran sangat waspada. Kalau pohon saja bisa menjadi pemangsa, dia mengira akan banyak keanehan lagi yang sangat mematikan di hutan ini.

Sungai! Suara gemericik air di depan membuat Ran sangat bersemangat. Lagipula perbekalan air di botolnya sudah sangat menipis. Meski suntikan adrenalin sekaligus kengerian demi kengerian dari berbagai kejadian horror membuatnya lupa pada kelelahan. Tapi air tetap elemen utama survival. Dia tidak boleh lengah akan hal itu. Dehidrasi bisa sangat mematikan.

Ran yang masih dalam mode siaga tidak berani masuk ke sungai. Dia hanya jongkok di tepian sambil memegangi botol air minum. Begitu menunduk memandang sungai yang luar biasa jernih untuk mengisi air minum, matanya bersirobok dengan sebuah pemandangan. Yang lagi-lagi mengerikan!

Di dasar sungai jernih itu bergeletakan dalam jumlah besar. Tulang belulang! Oh my goodness! Apalagi ini? Ran mundur seketika.

Dengan ketelitian berdasarkan pengalamannya, Ran langsung bisa melihat bahwa tumpukan tulang belulang itu ada di dasar sungai yang dangkal yang menjadi tempat penyeberangan.

Ran mengambil binokuler dari ranselnya. Benar dugaannya. Beberapa puluh meter di bagian hulu tempat ini yang juga merupakan tempat penyeberangan, terlihat dengan jelas tumpukan tulang. Begitu pula sekitar 50 meter di hilir, dilihatnya juga sama.

Dangkal, jernih dan mudah untuk menyeberang. Ciri-ciri dari sungai ini yang menjadi tempat tumpukan tulang belulang.

Ran mengerutkan keningnya. Jadi? Barangkali ada binatang buas yang mengintai di setiap tempat penyeberangan, lalu menyergap mangsa, dan memakannya di sungai.

Itu tidak mungkin. Karakter binatang predator adalah menyeret mangsa yang telah dibunuhnya ke tempat tersembunyi dan memakannya di sana. Jika tidak habis maka akan disembunyikannya baik-baik di tempat itu.

Berarti ini bukan binatang. Sudah pasti pemangsa jenis lain. Ran teringat pohon pemangsa yang ditemuinya tadi pagi. Otomatis matanya langsung menjelajahi kanan kiri sungai. Tidak ada pohon jenis itu di manapun di sini. Semakin dalam kerutan di kening Ran.

Sebuah pemikiran dengan cepat melintas di benak Ran. Bagaimana kalau pemangsa itu adalah sungai ini sendiri? Ran tidak berani memikirkan lebih jauh lagi. Satu hal yang dia yakini adalah hutan ini dipenuhi pemangsa nokturnal. Ini masih siang. Rasanya akan cukup aman menyeberangi sungai dangkal yang tidak terlalu lebar ini.

Sekali lagi Ran menggunakan binokulernya melihat sekeliling. Matanya tertarik saat melihat seekor biawak berenang dan menyeberang di sisi hulu sungai. Berhasil. Tidak terjadi apa-apa. Ran semakin yakin. Aman untuk menyeberang.

Sambil tidak lupa mengisi botol air minumnya, Ran menyeberangi sungai menakutkan itu. Begitu tiba di seberang, Ran bernafas lega.

Tapi kelegaannya tidak berlangsung lama. Terdengar auman dahsyat yang mengguncang seisi hutan di kejauhan. Ah, kalau ini tidak peduli siang atau malam pasti akan memangsa jika berpapasan dengannya.

Buru-buru Ran memeriksa sekeliling. Dia harus memanjat pohon. Auman semakin mendekat. Setelah memastikan itu bukan pohon pemangsa seperti tadi pagi, Ran langsung memanjat menggunakan suluran liana yang banyak melilit batang pohon. Batang pohon itu tegak lurus dan tidak bercabang rendah. Satu-satunya jalan adalah memanjat menggunakan liana.

Untuk berjaga-jaga, Ran meremas hancur daun yang telah dibekalnya dan dioleskan ke seluruh tubuh.

Ran sampai di dahan terdekat. Setidaknya ini lebih dari 25 meter di atas tanah. Bersamaan dengan datangnya seekor macan besar berbintik-bintik hitam kuning dari balik semak yang rupanya sudah terlanjur membauinya sedari tadi.

Macan yang nampak sangat kelaparan itu mengaum hebat sambil menatap Ran yang merasa aman duduk di dahan pohon tinggi tersebut. Setelah sekali lagi mengaum, macan besar itu mulai…memanjat!

Kontan Ran pucat teramat sangat! Kemana lagi dia harus lari? Dahan berikutnya terlalu tinggi di atasnya dan tidak ada liana lagi untuk memanjat. Lagipula macan itu terlihat sangat lincah memanjat. My God!

Ran kehabisan pilihan. Dia akan melawan! Sembari dalam hati berdoa semoga macan itu pun enggan memangsanya karena khasiat daun Pohon Kehidupan dan Kematian.

Doanya sama sekali tidak terkabul. Macan besar itu sudah sampai di dahan tempatnya berdiri di ujung dahan. Mereka saling berhadapan. Ran meraih pisau di pinggangnya. Saatnya berkelahi!

Macan itu mengendus sejenak ke arah tubuh Ran. Ran masih berharap aroma daun ini bekerja. Rupanya tidak. Didahului geraman pendek, macan besar itu menerjang ke arahnya. Ran terkesiap.

Grrrrrr! Gusrakkkkkk!.......grrmmmmm.

Tubuh besar macan yang sedang melayang di udara itu berhenti mendadak. Sebuah suluran panjang liana membelitnya dengan kuat. Macan itu mencakar-cakar. Mencoba menggigit putus batang liana.

Ran hanya bisa memandang dengan penuh kengerian saat melihat sebuah kepala tumbuhan besar yang mirip dengan kantong semar muncul tiba-tiba menelan tubuh macan itu bulat-bulat! Liana itu mempunyai kepala! Dan dia memangsa macan sebesar itu dengan lahapnya!

Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Seluruh tubuh macan itu sebentar saja lenyap. Jantung Ran nyaris berhenti. Liana yang dipanjatinya tadi ternyata adalah liana pemangsa. Dia mengerti kenapa dirinya tidak dimangsa tadi. Liana itu membaui aroma daun Pohon Kehidupan dan Kematian di tubuhnya dan tidak bisa memangsanya.

Ran selamat untuk saat ini.

Tapi sebuah kesimpulan terpatri kuat dalam otaknya. Tidak semua pemangsa bersifat nokturnal. Ini adalah ekosistem Hutan Pemangsa. Silva Predonum!

------

Bersambung ke bab Pertemuan di Ngarai Kematian