Now Loading

Rencana Laila

Saya dan Azwar sedang merapikan pakaian dari koper untuk dipindahkan ke lemari dan laci di kamar yang akan menjadi rumah sementara kami dalam dua bulan ini di Brunei. Sementara pikiran saya masih dipenuhi dengan peristiwa penculikan Empat Sekawan serta pembicaraan tadi pagi di restoran.

‘Tok tok tok tok”, seseorang mengetuk pintu kamar saya, mungkin Eko atau Bang Zai. Namun sebelum membuka pintu saya mengintip dulu melalui lubang di pintu. Peristiwa tadi malam secara bawah sadar membuat saya menjadi lebih hati-hati. Ternyata Eko yang datang membawa dua lembar surat buat saya dan Azwar dalam amplop berwarna merah muda buat Azwar dan putih buat saya.

“Saya juga sudah dapat surat warna oranye” kata Eko sambil menunjukkan surat yang sudah terbuka.

Saya segera membuka surat dalam amplop putih dan membacanya dengan penuh tanda tanya:

Bang Asep yang selalu Laila sayangi,

Pertama-tama Laili sampaikan rasa rindu yang sudah hampir tidak tertahankan kerana kita sudah hampir empat bulan tidak berjumpa. Namun saya harap Bang Asep dapat menahan rasa rindu itu selama sekitar dua minggu lagi. Dalam dua minggu ini kita memang tidak boleh berjumpa demi keselamatan Bang Asep dan juga kelanggengan hubungan kita berdua.

Apa yang terjadi tadi malam di luar dugaan Laila bahwa Muallif, lelaki yang menginginkan Laila menjadi istrinya, bisa nekat menggunakan kekerasan untuk menculik Bang Asep dan teman-teman. Semua ini dilakukan demi untuk mendapatkan Laila. Kisah lengkap mengenai lelaki itu akan Laila ceritakan secara langsung kepada Bang Asep di lain kesempatan.

Untungnya takdir masih memberi perlindungan kepada Bang Asep dan teman-teman sehingga terhindar dari marabahaya. Kita menunggu perkembangan selama dua minggu ini dimana Laila mempunyai suatu rencana bagus agar kita dapat terlepas dari ancaman dia untuk selanjutnya. Agar berhasil rencana ini tidak dapat Laila ungkap sebelumnya.

Yang saya minta dari Abang dan teman-teman hanyalah mengikuti skenario Laila. Tahap pertama adalah yang paling mudah yaitu fokus pada tugas di Office saja dan jangan pergi ke mana-mana atau tempat yang jauh selepas dari Office. Langsung pulang kembali ke hotel di Gadong dan usahakan hanya cari makan malam di sekitar hotel saja. Kalau ada teman dari Office yang mengajak pergi cari angin ke tempat lain, usahakan tolak dengan baik-baik.

Sekian dulu surat Laila ini. Semoga semuanya sesuai dengan rencana dan kita dapat melanjutkan hubungan dengan suasana yang jauh lebih baik.

Teriring rasa rindu yang kian memuncak

Laila

Saya menutup surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop warna putih dengan sejuta tanda tanya.

Siapakah Muallif dan bagaimana rencana Laila untuk mengatasi lelaki yang sangat ingin memperistrinya?

Bersamaan dengan selesainya saya membaca surat dari Laila, saya melihat Eko dan Azwar sedang saling memperlihatkan surat yang masing-masing dapatkan dari Noor dan Irma.

“Asep, kamu boleh membaca surat kami berdua yang isinya bak foto kopi walau dalam amplop yang berbeda warna, yaitu oranye dan merah muda”, kata Azwar sambil menyerahkan dua lembar surat itu. Ini bukan rahasia karena memerlukan kerja sama kita agar rencana Irma dan Noor berhasil.

“Baiklah, tapi simpan saja dulu surat kalian. Lebih baik kita makan siang dulu di restoran di seberang hotel sebelum nanti pukul dua dijemput Pak Suhaili untuk ke Office”, jawab saya

“Yuk kita siap-siap dan ajak Bang Zai"  kata Azwar lagi

 

Bersambung