Now Loading

Bab 19

Raja menghentikan gerakan cangkulnya. Dari jauh dilihatnya Citra berjalan menyusur pematang. Membawa keranjang makanan untuk makan siang. Sedari pagi dia bekerja di sawah. Mencangkul, membenahi pematang, mengalirkan air dan menyiangi rumput.

Raja tersenyum malu dan geli. Untuk 2 hal. Bunyi kencang di perutnya dan cara berjalan Citra di pematang. Raja malu sendiri terhadap rasa lapar yang bukan main sekaligus geli melihat gadis itu berjalan begitu pelan. Takut terpeleset.  Semalam hujan. Pematang menjadi licin.

Bayangkan, penjelmaan putri raja besar menjinjing keranjang, melewati pematang dan berjalan tertatih-tatih membawakannya makan siang. Luar biasa. Raja masih belum paham kisah ini nanti akan berakhir seperti apa.

Tak penting! Baginya yang utama adalah bisa terus bersama gadis ini. Melindungi dan mencintainya. Kembali Raja tersenyum. Kali ini senyum hangat penuh kasih dan cinta.

----

Kapten Sandro berdiri tertatih-tatih dibantu oleh Feng Siong masuk ke dalam mobil. Rasa nyeri yang luar biasa di lehernya belum bisa membuatnya tegak berdiri kembali. Racun dalam jarum itu memang tidak mematikan. Tapi cukup kuat untuk melumpuhkan. Dalam hitungan beberapa jam.

Sang supir malah lebih parah. Mungkin karena ketahanan fisiknya tidak sekuat Kapten Sandro. Dia harus dipapah oleh Feng Siong masuk ke dalam mobil dan kemudian dibaringkan sejajar dengan Kapten Sandro.

Hoa Lie mengambil alih kemudi. Feng Siong di sebelahnya berperan sebagai navigator. Mereka harus berputar menggunakan jalur lain. Pohon besar yang menghalangi jalan itu tidak mungkin bisa diterobos. Hoa Lie telah memeriksa GPS. Ada jalan lain menuju rumah Bli Gus Ngurah. Lebih jauh. Tapi setidaknya akan sampai juga.

Jika tak ada lagi aral yang tak terduga.

----

Hoa Lie membanting setirnya ke kiri. Gila! Motor itu main serobot saja. Jalan alternatif yang diambilnya sesuai petunjuk GPS memang lebih sempit dari jalan yang tadi. Feng Siong memperingatkan Hoa Lie agar lebih berhati-hati. Tujuan utama mereka saja belum tercapai. Jangan sampai ada urusan tidak penting yang bisa menghambat mereka.

Lagipula waktu mereka tak banyak. Setelah bertemu dengan Bli Gus Ngurah, mereka harus cepat-cepat pergi ke Jawa. Memastikan lorong waktu belum diaktifkan dan belum ada sesiapapun yang memasukinya.

Hoa Lie memusatkan perhatian pada jalanan di depan. Melirik ke dashboard. Satu tikungan lagi dan mereka akan sampai. Hoa Lie menengok sekilas di kaca spion tengah. Supir masih menggelosoh tak berdaya di jok tengah. Tapi Kapten Sandro terlihat mulai pulih.

Ini dia! Hoa Lie memarkir mobilnya di pekarangan sebuah rumah kecil berarsitektur etnik Bali.  Terdapat pohon beringin raksasa di pekarangan. Membuat suasana rumah nampak misterius. Wangi bunga-bunga pemujaan menguar keras. Nyaris membuat Hoa Lie bersin. Wangi yang terasa aneh dan tidak biasa baginya.

Mereka memasuki sebuah dunia mistis yang sebenarnya. Hoa Lie sedikit bergidik. Ternyata tugas mereka sama sekali tidak ringan.

Konflik segitiga antara Trah Pakuan, Trah Maja, Negeri Cina dan entah pihak mana lagi yang menceburkan diri dalam kekisruhan ini.

Kembali Hoa Lie bergidik.

----

Gian Carlo mengayuh sepedanya serileks mungkin. Udara sebersih ini harus dinikmati. Lagipula dia tidak boleh terlihat mencurigakan.

Sudah 2 jam lebih Gian Carlo mengendarai sepedanya. Entah sudah keberapa kalinya juga orang Italia itu berhenti hanya sekedar untuk pura-pura bertanya arah sembari mengorek sekecil apapun informasi yang barangkali berguna baginya.

Sebuah kelebihan lain dari Gian Carlo adalah, dia fasih sekali berbahasa Indonesia. Tak heran, Gian Carlo menguasai lebih dari 10 bahasa penting di dunia yang menjadi lingkup pekerjaannya. Negara-negara yang seringkali menjadi sasarannya mencuri barang antik berharga.

Jalanan mulai mendaki. Tak jauh dari ujung matanya mulai muncul siluet Gunung Salak. Dari pinggang hingga puncaknya masih tertutup kabut namun lerengnya sudah nampak kokoh menjulang. Gian Carlo agak berdebar. Dia sudah membaca beberapa rujukan rahasia bahwa Trah Pakuan didirikan oleh orang-orang yang sangat serius terhadap sejarah tegaknya kerajaan-kerajaan di Jawa Barat.

Tidak boleh main-main dengan mereka. Gian Carlo tahu persis dia berhadapan dengan sekelompok orang misterius yang tak bisa diduga siapa saja orangnya. Bisa saja hanya seorang petani biasa. Tapi mayoritas adalah orang-orang berpengaruh dan kaya. Dan satu lagi, hal mengerikan apa yang dilakukan oleh mereka jika ada orang yang berniat mengganggu. Tidak seorangpun pernah tahu.

Pendakian ini seperti tak habis-habis. Keringat Gian Carlo mengucur seperti hujan. Apalagi setelah jalan aspal habis, Gian Carlo harus berjuang ekstra di jalanan berbatu yang berserakan tak karuan. Sedikit saja salah pilih jalan, tak ayal sepedanya akan terjungkal.

Hampir tengah hari. Matahari semakin menyengat meskipun hawa pegunungan di sini sangat kuat. Gian Carlo menghentikan kayuhannya. Ada jalan bercabang dua di depannya. Gian Carlo tidak yakin harus memilih yang mana. Sekeping informasi yang dia dapatkan hanyalah bahwa tempat berkumpul Trah Pakuan ada di sebuah lembah yang tersembunyi.

Gian Carlo hendak berspekulasi. Tapi urung melanjutkan karena mendengar derum kendaraan dari belakang. Bukan cuma satu. Ada beberapa. Gian Carlo minggir di bawah pohon besar. Pura-pura istirahat sambil mengotak-atik kamera. Akting yang sempurna.

Kendaraan pertama yang lewat adalah sebuah jeep lawas dengan kap terbuka. Di belakangnya berturut-turut 2 double cabin 4WD dan terakhir sebuah Land Cruiser anyar yang gagah berkilat. Gian Carlo mengaktifkan kamera tersembunyinya. Diam-diam menembakkan sebuah pelacak mini dari kamera sakunya.

Semua mobil itu berbelok ke arah kiri. Kecuali mobil terakhir. Gian Carlo bingung. Mana yang harus diikutinya. Insting tajamnya kemudian menuntun Gian Carlo untuk belok kanan. Lagipula dia bisa melacak mobil itu sekarang. Gian Carlo menatap layar monitor kamera yang berkedip-kedip merah.

Dia menunggu beberapa saat. Gian Carlo tidak ingin orang-orang itu curiga. Meskipun Gian Carlo juga belum yakin sepenuhnya mereka adalah Trah Pakuan yang dicarinya.

Dan Gian Carlo menyesal bukan main dengan keputusannya. Belok kanan ternyata membawanya ke sebuah pendakian cukup ekstrim. Tidak mungkin menaiki sepedanya, Gian Carlo memutuskan meninggalkan sepedanya di balik pohon-pohon besar yang mulai menguasai tempat itu.

Gian Carlo memutuskan berjalan kaki. Tidak melalui jalan tapi menyusur pinggirannya. Di antara semak belukar dan rimbun pepohonan. Gian Carlo memulai petualangan yang sesungguhnya.

Patokannya adalah titik yang berkedip merah pada kamera. Pelacaknya bekerja dengan sangat baik. Gian Carlo merasa lega. Tidak sia-sia dia menjuluki dirinya sebagai King of Smuggler. Raja penyelundup dengan reputasi mendunia.

Titik merah itu berhenti di satu tempat. Gian Carlo mempercepat langkahnya di antara rerimbunan semak. Titik itu semakin dekat. Tinggal beberapa puluh meter lagi. Dan Gian Carlo tercengang!

Di hadapannya. Cukup jauh di di bawahnya. Sebuah ngarai luas terbentang. Dengan sebuah padepokan berdiri megah di tengah-tengahnya. Padepokan dengan arsitektur istana zaman dahulu. Dikelilingi tembok tinggi dengan pagar kawat berduri. Di depan gerbangnya, berdiri orang-orang kekar yang berjaga dengan senapan serbu di tangan mereka.

Gian Carlo terperangah. Ternyata urusannya tidak semudah yang dia kira.

* *********