Now Loading

BAB V. SIKSA ADALAH BAGIAN KEHIDUPAN (BAGIAN 1)

Sirene makan sore meraung-raung. 3556P menghela napas panjang, bertekad untuk melakukan apa yang telah direncanakannya.

Gadis itu melangkah hati-hati, tiba di meja dengan tubuh goyah. Dia memperhatikan papanya mengamatinya. Bukan dengan pandangan khawatir, tapi jijik.

Gadis itu melihat mamanya membuka laci tempat pisau, dan saat mamanya selesai membuka bungkusan dan memotong-motong makanan, gadis itu tiba-tiba jatuh ke lantai.

Mamanya terkejut, meletakkan pisaunya dan berbalik.

"Panggil Pengawas," kata papanya, tanpa repot-repot untuk bangkit dari kursinya. “Jika dia sakit, seharusnya tidak berada di sekitar kita sampai mendapatkan pil-13.”

Istrinya melakukan apa yang diperintahkan. Dia menekan tombol besar di dinding, dan, seperti yang diharapkan 3556P, dia lupa mengembalikan pisaunya ke tempatnya.

Mamanya tetap berdiri di dekat pintu, cukup jauh dari anaknya agar tidak tertular.

Beberapa saat kemudian, seorang Pengawas sudah berdiri di ambang pintu. 3554L memintanya untuk memberinya pil 13.

“Dia terjatuh. Saya pikir dia butuh pil, atau bawa saja pergi dari sini."

Pengawas membungkuk di samping 3556P yang diam tidak bergerak. Nutrisimeter kecil yang tergantung di pinggangnya dicabut dan ditempelkan ke gadis itu. Dia membaca hasilnya, dan menatap 3556P.

Matanya terpejam, tapi gadis itu bisa merasakan tatapan tajam dari balik tudung padanya. Wajahnya terasa panas terbakar.

Pengawas kemudian mengambil alat lain dan menempelkannya ke dahinya. Apapun alat itu, terasa dingin di kulitnya.

"Dia demam." Pengawas melepaskan alat tersebut. “Berikan pil-13 dan suruh dia istirahat di kamarnya malam ini.”

Pengawas menyerahkan pil itu kepada papanya dan pergi.

“Bangunlah,” papanya membentak.

Sejauh ini rencananya berhasil.

Dia bahkan tidak tahu kalau dia sedang demam.

Gadis itu bangkit dari lantai dan berpura-pura membutuhkan meja untuk menahan tubuhnya yang limbung. Tangannya menelangkup di atas pisau kecil. Dengan semua keberanian yang dipunyainya, dia menyelipkan benda itu ke lengan jubahnya, dan memasukkan tangannya ke dalam saku, dan pisau itu meluncur ke dalam kantongnya.

"Ambil ini," papanya menyodorkan pil berwarna perak, yang dipegangnya sesaat sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya.

"Pergi ke kamarmu."

Gadis itu berusaha keras untuk berpura-pura goyah saat berjalan ke kamarnya. Begitu sampai dalam kamar, dia memuntahkan pil ke tangannya. Dia mendapatkan apa yang dia butuhkan. Tidak ada yang melihatnya mengambil pisau.

3556P tiba-tiba menjadi sangat sadar bahwa dia telah melanggar Hukum 2173/W. Dia memiliki senjata.

Darahnya bagai mendidih, dan dia merasa kepanasan dan gugup. Namun, ada sesuatu yang memberinya kekuatan.


Dia berbaring di tempat tidurnya. Jika tidak ada yang memperhatikan pisau yang hilang dalam tiga puluh menit ke depan, dia aman.

Dia bisa melangkah ke tahap berikut dari rencananya.

***

3556P menempelkan telinganya ke pintu dengan napas tertahan, mencoba menangkap sinyal-sinyal keserahan. Dia menghela nafas lega ketika sirene berbunyi tanda jam makan berakhir. Gadis itu mendengarkan langkah kaki meninggalkan ruang makan. Dia hanya punya waktu beberapa jam, ketika mamanya menyadari pisaunya hilang.

Tubuhnya terasa panas, tapi dia tidak sakit. Dia panas karena ketegangan urat saraf yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Orangtuanya ada di dalam kamar mereka, dan 3556P tahu dia bisa pergi dari kamarnya ke pintu depan tanpa gangguan. Tapi itu bukan yang jadi masalah. Keluar dari pintu itu yang merupakan risiko terbesar, selain, tentu saja, berlari.

3556P berdiri tegak seperti yang dia ingat yang dilakukan neneknya. Dia meraba pisau di sakunya sebelum melangkah ke tempat tidurnya, mengambil uang logam dari bawah bantalnya, menggenggamnya sebelum membiarkannya jatuh ke dasar saku. Menarik napas dalam-dalam, 3556P membuka pintu perlahan-lahan lau mengeluarkan kepalanya.

Kamar orangtuanya berada di sisi lain dari ruang makan, tapi dia masih harus menyusuri selasar dengan diam-diam. Sebelum keluar, dia membungkuk dan dengan hati-hati melepaskan sepatunya. Sepatu standar Barak F tidak dibuat untuk melarikan diri. Rancangan disengaja agar tidak nyaman dan membuat pemakainya lambat bergerak. Jubah panjangnya akan menjadi masalah juga, tapi itu urusan nanti.

3556P membuka pintu lebar-lebar dan keluar dari kamarnya. Saat dia merangkak menyusuri lorong menuju pintu, dia bisa mendengar pembicaraan teredam di kamar orangtuanya.

Jantungnya berdegup kencang sehingga dia yakin bunyinya terdengar sampai ke telinga mereka. Apa yang akan dilakukannya jika salah satu dari mereka menangkapnya dalam keadaan seperti itu? Namun dia tidak mendengar pintu terbuka, maka dia terrus maju tanpa menimbulkan suara.