Now Loading

Sebilah Mandau

 

“Kring , kring ,kriiiing”, Telepon di kamarku kembali berdering ketika baru saja saya kembali dari makan pagi.  Sementara Eko masih bersantai di depan hotel menikmati sebatang rokok filter sambil menikmati pemandangan.

 

Ternyata saya mendapat telepon dari Laili yang menunggu di lobby dan tentu saja membuat saya senang sekali.  Tidak perlu berusaha mencari, Laili muncul dan datang sendiri.

 

Sebelum turun, tidak lupa saya mengambil buah tangan yang saya bawa dari Jakarta, sebuah tas kulit perempuan yang dibeli di Tanggul Angin, Sidoarjo. Walau tidak mahal, namun penampilannya mewah bak tas branded kelas dunia.

 

Laili nampak cantik dan anggun sekali duduk di lobby, walau sangat kangen dan rindu, saya mengangguk kecil sambil menyerahkan bungkusan berisi tas sebagai oleh-oleh. 

Dia menerima dengan senang sambil mengucapkan “Terima Kaseh” beberapa kali.

“Bang Zai jangan repot-repot pakai bawah buah tangan segala”, kata Laili lagi.

 

“Bang Zai, maaf Laili datang di saat Bang Zai masih perlu banyak waktu untuk istirahat, tetapi ini perlu sekali untuk Laili sampaikan kepada Abang”, kata Laili sambil memberikan sebuah bungkusan kecil.

 

Bungkusan itu berbalut kertas kado warna biru muda dan diikat manis pita warna biru dongker.

 

“Ayo bukalah Bang Zai”, tambah Laili lagi.

 

Dengan hati berbunga -bunga, saya membuka pita biru dan kertas yang membungkusnya. Ada sebuah kotak kardus kecil dan di dalamnya ada sebuah replika sejenis golok. 

 

Cukup cantik dan walau hanya replika saya bisa mengeluarkan golok itu dari sarungnya .

 

“Golok apa ini ?” Tanya saya penuh selidik.

“Ini  bukan golok Bang”, jawab Laili dengan sedikit merajuk. 

 

Laili kemudian menjelaskan kalau hadiah itu adalah replika sebuah “mandau” yang merupakan senjata khas suku Dayak.

 

Laili juga menjelaskan bahwa walau tidak banyak jumlahnya, di Brunei juga ada suku Dayak, yang paling banyak adalah Iban dan  Bidayuh.  Sebagian besar tinggal di Kampong Labi di Daerah Belait dekat perbatasan dengan Sarawak.  

 

Laili juga bercerita bahwa dari garis ibu dia masih memiliki darah Dayak walau sudah terasimilasi total sebagai orang Melayu Brunei.

 

“Bang Zai harus simpan baik-baik mandau ini”, kata Laili lagi. 

 

Yang membuat saya sedikit heran Laili juga tahu peristiwa tadi malam secara rinci dan bahkan tahu bahwa saya sempat pingsan dan mengalami luka lecet-lecet akibat kecelakaan semalam.  Tapi saya juga mulai terbiasa dengan kelebihan Laili and her gang dalam mengetahui sesuatu tanpa harus diberitahu.

 

Dia juga menyebutkan kalau Asep, Azwar dan Eko baik-baik saja dalam kecelakaan karena ada Keris , Nakara , dan Gendang Labik yang melindungi.

 

Karena itu mandau ini juga akan melindungi saya di hari-hari ke depan.  

 

“Bang Zain dan teman-teman harus hati-hati dan dalam dua atau tiga minggu kedepan ada baiknya kita jangan bertemu dulu”, tambah Laili.

 

Laili juga kemudian bercerita bahwa memang ada pihak tertentu di Brunei ini yang tidak suka akan hubungan antara gadis-gadis Brunei dan Empat Sekawan. Khususnya hubungan antara Laila dan Asep.  Walaupun begitu saya juga harus tetap hati-hati karena bisa saja mereka salah orang dan main hantam kromo seperti kejadian semalam.

 

“Laili, terima kasih sekali sudah peduli sama Abang”, kata saya lagi.

 

“Lalu kapan kita bisa bertemu lagi dengan aman?” Saya bertanya dengan mimik menggoda.

 

“Bang Zai, seperti kata Laili tadi, lebih baik kita tunggu saja dulu. Semoga ada perkembangan positif dalam dua pekan ini dan akan dikhabarkan lagi”.  

 

Laili kemudian mengeluarkan tiga amplop surat dari tas tangannya.  Tiga amplop itu masing-masing untuk Azwar, Eko dan Asep.   Ketiga surat itu berwarna merah muda , oranye dan putih.  Saya melihat nama masing-masing: Azwar pada amplop merah muda, Eko pada amplop oranye , dan Asep pada amplop putih.

 

“Tolong titip surat-surat ini untuk Bang Azwar, Eko dan Asep” kata Laili

 

“Mana surat buat saya ?” Saya kembali menggoda Laili.

 

“inda mau ah, Abang kan sudah punya istri”, Laili kembali merajuk .

 

“Kan boleh beristri dua “, saya kembali menggoda lagi.

 

“Ah sudahlah, Laili balik dulu. Titip salam saja buat abang yang lain”.  Laili kemudian bangkit dari tempat duduk, mengucapkan salam dan berjalan dengan anggun meninggalkan saya sendirian yang kembali melamun akan istri dan anak-anak di rumah.

 

Saya lalu mengambil  bungkusan berisi mandau dan segera kembali ke kamar. 

 

Saya lihat Eko sedang mengeluarkan baju dan barang-barang dari dalam koper.  Sebagian baju mulai digantung di lemari dan sebagian T shirt juga disusun di laci di bawah TV.

 

“Ini surat buat kamu dan dua lagi buat Azwar dan Asep” kata saya sambil menyerahkan 3 amplop tersebut.

 

Bersambung