Now Loading

Bab 14

Moscow, 55° 45′ 21″ N, 37° 37′ 2″ E
Hotel Savoy


Dengan diantar Ivan Chenkhov yang menjemputnya di bandara, Cecilia memasuki lobi hotel Savoy.

"Apakah ini tidak terlalu mahal Ivan? Aku rasa aku bisa hidup di hotel yang biasa saja.”

"Tidak Cec. Kau layak mendapatkan semua ini. Kau sedang memegang informasi sangat penting bagi kelanjutan ras manusia. Kami menghormati profesi dan dedikasimu.”

Kami? Cecilia hampir bertanya tapi diurungkannya. Sekarang bukan saatnya menjadi penyelidik. Dia akan mengumpulkan bahan dan informasi selengkap-lengkapnya sebelum mulai berencana. Apalagi berita dari Cathy yang sangat mengejutkan itu menambah kerumitan di kepalanya.

Belum lagi urusan Fabumi. Kasihan. Meski akan diperlakukan dengan baik karena dianggap aset yang sangat berharga, tapi Cecilia yakin Fabumi pasti serasa berada dalam penjara.

"Oh ya? Kapan kau bisa membagi informasi yang kau catat itu Cec? Aku rasa ini penting untuk bisa menyusun rencana selanjutnya. Apalagi aset imun itu telah ditahan oleh DGSE. Aku pikir kita harus bertindak lebih cepat mulai dari sekarang.”Ivan menatap mata wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu dengan tajam. Ada desakan dari nada bicaranya. Dan Cecilia tidak menyukai itu.

Cecilia melambaikan tangan.

"Aku akan membaginya kepadamu besok pagi, saat ini aku lelah sekali karena catatan itu dalam tas. Aku ingin istirahat dan tidur lelap malam ini. Ok?”Cecilia tersenyum manis. Buku kecil catatannya terasa menonjol di saku jaketnya. Ivan mengangguk. Sepertinya agak terpaksa.

Cecilia masuk ke kamar hotel bintang 5 yang sangat mewah itu. Wanita itu tidak langsung mandi atau beristirahat seperti yang dikatakannya. Dia merobek halaman yang berisi catatan penting itu serapi mungkin lalu menuliskan catatan baru yang sama sekali tidak penting. Halaman yang robek dilipatnya sekecil mungkin lalu dimasukkan ke dalam sol sepatu bagian dalam yang memang sudah sedikit robek. Barang itu akan aman di sana. Itu sepatu kesukaannya.

Setelah itu Cecilia meraih gawai untuk menghubungi Cathy. Tapi niat itu diurungkannya seketika. Intuisinya mengatakan dia saat ini berada dalam sebuah pusaran konspirasi dan intrik yang sangat rumit. Marc, DGSE dan siapapun di belakangnya, Mister Bob dan Adisa, dan sekarang Ivan yang terlihat sangat mencurigakan. Kepalanya menjadi pusing. Dia perlu kopi pekat.

Cecilia mencuci muka, berganti baju dan memakai sepatu. Mungkin secangkir kopi di lobi akan bisa menyegarkan pikirannya yang kusut. Sekalian dia hendak membeli gawai sekali pakai untuk menelpon Cathy.

Di lobi ada beberapa cafe mewah yang menjual kopi berkualitas tinggi. Tapi Cecilia memutuskan untuk pergi keluar. Berjalan kaki melemaskan otot dan melepaskan ketegangan selama beberapa hari ini.

Setelah membeli gawai sekali pakai, Cecilia masuk ke sebuah kedai kopi kecil yang berada agak masuk dari pinggir jalan protokol. Kedai kecil itu cukup ramai dengan orang minum kopi di pinggir trotoar jalan yang diberi kursi-kursi kecil yang berbentuk manis.

Sambil duduk di sebuah kursi dengan penerangan yang agak remang, Cecilia menelpon Cathy. Dia tidak paham perbedaan waktu dan tidak peduli dengan itu. Dia akan menanyakan sesuatu yang sangat penting kepada Cathy. Dan itu harus sekarang juga. Cecilia sudah hendak menyusun rencana malam ini. Ini tidak bisa ditunda. Dunia sedang digiring menuju bencana. Sebagai seorang dokter dia harus mengambil sebagian tanggung jawab. Terutama karena dia terlibat langsung di dalamnya.

Penjelasan malam ini dari Cathy benar-benar mengejutkan. Cathy menceritakan bahwa Object X yang pernah disebut sebelumnya sekarang dipindahkan ke Laboratorium Pandora tempatnya bekerja. Cathy tidak bisa melihat langsung seperti apa wujud Object X, namun terlihat sekali betapa sibuknya Profesor Sato dan tim ilmuwannya menangani kasus ini.

Cathy juga bercerita bahwa dia mempunyai teman baru yang baik. Seorang dokter dari Jepang bernama Akiko yang merupakan saksi penting pada saat titik nol dan terjadinya korban pertama tewas setelah tertular virus.

Cathy yang merupakan doktor ahli komputer diminta untuk membaca data berupa chip kecil berbentuk aneh yang dibawa oleh Dokter Akiko. Perintah itu langsung diberikan oleh Profesor Sato tapi Cathy dipesani dengan keras agar memegang rahasia seteguh mungkin mengenai keberadaan chip itu.

Cecilia termangu saat Cathy melanjutkan ceritanya bahwa untuk membaca chip itu dia harus bekerja di tengah malam saat semua orang sudah tidur. Cathy menduga bahwa Profesor Sato khawatir dengan keamanan data sepenting itu jika sampai bocor ke pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sampai saat ini Cathy masih mencari cara untuk membaca chip itu. Namun Cathy menduga bahwa chip itu bukan buatan manusia karena dari pembacaan jejak karbonnya, usia chip itu lebih dari 1 abad dan seabad yang lalu belum ditemukan yang namanya chip komputer. Cecilia yang mendengarkan semakin termangu-mangu. Kasus ini sudah lebih dari rumit. Jadi ada keterlibatan non manusia juga di sini?

Laboratorium Pandora sekarang tertutup untuk peneliti dari luar. Profesor Sato sangat keras dalam hal ini. Bahkan sehari yang lalu Laboratorium Pandora kedatangan selusin orang-orang bertampang keras, bertubuh kekar, dan nampak sangat sigap.

Rupanya itu tim keamanan yang didatangkan oleh Profesor Sato. Cathy tidak tahu mereka berasal darimana tapi jika melihat dialeknya saat makan bersama di kantin, orang-orang kekar itu sebagian berlogat Amerika dan sisanya British. Dengan bangga Cathy menduga bahwa selusin orang itu gabungan dari CIA dan MI6. Cecilia tersenyum lebar. Meskipun Cathy kelihatannya hanya menduga dan setengah bercanda, namun Cecilia mengamininya. Cathy mungkin benar.

Cecilia menyudahi pembicaraan itu lalu membuang gawai ke lubang selokan di belakangnya. Sebelumnya dia berpesan kepada Cathy agar mengirimkan kabar apabila sudah berhasil membaca chip atau bila ingin memberi tahu perkembangan terbaru. Mereka sepakat untuk menggunakan email. Dengan kode-kode yang hanya mereka berdua yang tahu. Itu sering mereka lakukan saat keduanya masih di Junior High School untuk saling berkirim pesan rahasia.

Dengan benak yang sudah dipenuhi ide dan rencana, Cecilia beranjak pergi. Kembali ke Hotel Savoy tempatnya menginap. Cecilia adalah seorang dokter yang lama hidup di hutan dan dilatih untuk waspada. Dia tahu ada 2 orang yang mengikutinya dari belakang. Namun Cecilia tidak terlalu khawatir. Dia berada di keramaian dan banyak petugas polisi berseragam di jalan-jalan. Bahkan nampak juga tentara berjaga-jaga di beberapa sudut jalan. Ini Moscow.

Cecilia masuk ke lobi hotel cepat-cepat lalu bersembunyi di sudut sebuah cafe sambil memberi isyarat kepada pelayan cafe agar berdiam.

Kedua orang itu tidak tergesa-gesa mengikutinya. Mereka hanya berdiri di pinggir jalan. Salah seorang kelihatan membetulkan sesuatu di telinganya. Lalu memberi tanda kepada temannya untuk pergi. Cecilia bernafas lega.

Nyaris saja dia bertabrakan dengan 2 orang yang keluar dari lift dengan menunduk. Cecilia yang menaruh curiga membiarkan mereka lewat lalu diam-diam mengambil gambar menggunakan gawainya. Ada ciri khas yang sama dari 2 orang itu dengan 2 orang yang mengikutinya di luar. Entah apa. Nanti dia akan memeriksanya. Dia juga sempat mengabadikan 2 orang yang menguntitnya tadi saat bersembunyi di sudut cafe hotel.

Cecilia nyaris menjerit saat memasuki kamarnya. Tas bawaannya yang tadi tersusun rapi di sofa sekarang berserakan di lantai dengan isi berhamburan kemana-mana. Buku catatannya juga hilang! Merde! Orang-orang itu mencari apa?

Cecilia sontak teringat sesuatu yang disembunyikan di sol dalam sepatunya. Ah, mereka pasti mencari catatan ini. Wanita ini teringat sesuatu. Membuka laptop yang baru dibelinya di Bandara Heathrow lalu mengetikkan sesuatu. Ini dia!

4 orang tadi tidak disangsikan lagi adalah tim dari GRU. Lantas kenapa mereka membuntuti dan mengobrak abrik isi tasnya? Darimana mereka tahu catatan itu ada di tasnya? Cecilia hanya bisa memastikan 1 hal.

Ivan Chenkhov adalah anggota GRU, Agen Rahasia Rusia. Ya Tuhan, aku mesti lari kemana lagi?

* ****