Now Loading

Siapakah Dalang Penculikan?

Kring, Kring, Kriiiiing”, telepon di kamarku berbunyi sekaligus membangunkan Saya dan Eko, Resepsionis di bawah mengabarkan bahwa seseorang bernama Burhanuddin dari Office tempat kami dikaryakan di Brunei ingin berbicara.

Saya kemudian berbicara dengan Burhanuddin yang mengatakan sebenarnya ingin bertemu dengan kami berempat untuk mencari informasi lebih jelas mengenai kejadian tengah malam tadi. Dia sebenarnya sudah menelepon Asep, namun tadi tidak diangkat. Akhirnya saya berjanji akan bertemu dengannya di restoran hotel sambil makan pagi. melihat jam dan sudah menunjukkan pukul 8.30 waktu Brunei. Kebetulan kita memang belum bertugas hari ini. Kami hanya diperlukan melapor ke Office siang jam 14.00. Tetapi karena kejadian tadi malam mungkin informasi lebih rinci diperlukan sehingga Burhanuddin perlu datang ke hotel pagi ini.

Saya segera menelepon dan membangunkan Azwar dan Asep di kamar sebelah. Kali ini telepon diangkat Azwar yang berjanji untuk segera mandi dan bertemu di restoran di lantai dasar sekalian makan pagi.

Sekitar 30 menit kemudian , Empat sekawan sudah duduk semeja di restoran ditemani Burhanuddin. Dia minta maaf sebelumnya karena mengganggu tidur kami. Namun kami juga senang dibangunkan sehingga tidak terlambat untuk makan pagi.

“Bagaimana, siapa yang mau menceritakan dengan lengkap dan runut kejadian tadi pagi sejak dari lapangan terbang hingga kecelakaan di Lebuhraya Tutong Muara?” Burhanuddin membuka pembicaraan.

“Baiklah, Saya yang akan bercerita”, kata Asep

Asep kemudian bercerita dengan runut kronologi kejadian dimulai dari pesawat mendarat hingga kami menunggu Pak Man yang tidak kunjung muncul dan kemudian dijemput oleh Pak Jito.

“Tetapi di kantor tidak ada sopir bernama Pak Jito, dan Pak Man diketemukan pingsan di lapangan parkir tadi pagi. Rupanya ada seseorang yang memukul kepalanya dari belakang dan kemudian merampas kunci serta kendaraannya. Kemungkinan besar dialah Pak Jito. Pak Man masih di hospital RIPAS sekarang” komentar Burhanuddin lagi.

Asep melanjutkan cerita sampai ada dua orang teman Pak Jito yang naik di Kampong Rimba dan kemudian melumpuhkan kami berempat. Dan kemudian terjadilah kecelakaan mobil yang terguling menabrak pembatas jalan.

“Ya kendaraan ditemukan rusak parah dan diduga kecelakaan karena pecah ban depan sehingga pemandu tidak dapat mengendalikan kendaraan”, komentar Burhanuddin lagi.

Diinformasikan juga Pak Jito hingga sekarang masih dalam keadaan koma di hospital RIPAS , sementara kedua temannya juga masih luka parah. Polisi sendiri masih mencari informasi siapa sesungguhnya identitas Pak Jito dan juga siapa di belakangnya.

‘Apakah bapak berempat ada yang mempunyai musuh di Brunei?”, tiba-tiba saja Burhanuddin bertanya dengan mata penuh selidik.

Kami berempat terdiam dan saling pandang. Selintas saya ingat kepada orang yang pernah menculik saya, namun saya berusaha menutupi fakta ini karena bisa membahayakan kelanjutan proyek kami berempat di Brunei.

“Kami tidak punya musuh di Brunei karena kami juga baru datang tadi pagi dan sebelumnya juga hanya tinggal dua minggu di sini dan tidak ada masalah dengan siapa pun”, jawab saya memecahkan kebekuan.

“Baiklah kalau begitu. Saya mohon pamit dulu. Nanti jam 2 akan ada sopir lain yaitu Pak Suhaili yang akan menjemput. Saya harap bapak semua fokus bekerja dan tetap menjawab pertanyaan dengan konsisten seandainya ada penyidik dari pihak polisi nanti”

Burhanuddin kemudian pamit dan kami berempat melanjutkan makan pagi sambil tenggelam dalam lamunan masing-masing.

“Apakah ini ada kaitannya dengan hubungan saya dengan Laila, atau juga Azwar dan Eko dengan Irma dan Noor”, tanya Asep perlahan seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Bisa juga jawab saya, Kalian bertiga harus tetap hati-hati. Kita tidak mau masalah ini sampai terdengar ke kantor pusat di Jakarta. Kita bisa dipanggil pulang loh”, kata saya lagi.

Singkatnya, kejadian tadi malam masih menjadi rahasia besar buat kami semua, walau hati menduga-duga bisa saja dalangnya adalah orang yang sama yang dulu salah menculik saya.

Namun tanpa bukti yang jelas, kami tidak bisa menuduh, dan kami juga tidak mau hal ini menjadi terbuka sehingga membahayakan posisi kami berempat di Brunei ini.

Kami berjanji akan lebih berhati-hati dan waspada sambil terus menyelidiki siapakah sesungguhnya dalam penculik Empat Sekawan?

NB: Hospital RIPAS : Rumah Sakit Raja Istri Pengiran Anak Saleha di Gadong

Bersambung