Now Loading

Penculikan yang Gagal

Pesawat Royal Brunei yang kami tumpangi mendarat mulus di Lapangan Internasional Brunei di Brakas di tengah malam sekitar pukul 1 lebih waktu Brunei. Ini adalah perjalanan Empat Sekawan yang kedua ke Brunei, setelah yang pertama di Desember 1997 lalu.

Sudah hampir empat bulan kami meninggalkan negeri ini bersama kenang-kenangannya yang manis. Kini kami berempat kembali untuk merajut lanjutan kisah yang masih penuh tanda tanya. Buat saya sendiri rasa rindu akan Laila bertaut erat dengan deretan mimpi yang silang selimpat bak benang kusut.

Mudah-mudahan kedatangan saya yang kedua kalinya ke Brunei ini bisa mengurai makna mimpi yang enigmatis itu.  Saya juga sekalian berharap agar kunjungan kali ini berakhir baik dan membahagiakan buat masa depan hubungan saya dan Laila.

Sudah 15 menit kami berempat menunggu di balai kedatangan di lapangan terbang. Suasana sudah mulai sepi karena penumpang lain sudah meninggalkan bandara. Namun Pak Man, sopir yang dijanjikan akan menjemput kami, belum juga muncul. Biasanya Pak Man tidak pernah terlambat baik ketika menjemput di bandara maupun di hotel.

“Assalamualaikum, Selamat pagi”, tiba-tiba seorang lelaki berusia empat puluh tahunan menegur kami. Dia mengaku sebagai sopir pengganti Pak Man karena beliau mendadak sakit.

“Nama Saya Warjito, panggil saja Jito”, demikian lelaki ini memperkenalkan diri.

Kami kemudian mengikuti lelaki itu ke mobil yang diparkir sedikit tersembunyi di depan terminal. Hati merasa tenang karena mobil yang dipakai juga mobil yang biasa dipakai menjemput kami.

"Pak Djito, kita sekarang ke Centre Point di Gadong”, kata saya. Kali ini kita tidak lagi tinggal di Bandar melainkan ke Gadong dimana kehidupan malam nya lebih marak dan untuk mencari makan juga lebih banyak pilihan.

“Baik Mas”, kata Pak Jito lagi sambil mulai menjalankan kendaraan meninggalkan Lapangan Terbang. Jarak tempuh ke Gadong lebih dekat dibandingkan ke Bandar. Apalagi di malam buta begini, jalan-jalan di Brunei biasanya sudah sangat sepi. Di malam seperti ini mungkin hanya sekitar 10 menit lebih saja.

Mobil melaju kencang di Lebuh Raya Sultan Hassanal Bolkiah menuju ke Gadong, namun sebelum sampai di Gadong, kendaraan tiba-tiba belok ke kanan ke Lebuhraya Tungku. Mula-mula saya belum sadar bahwa kendaraan makin jauh meninggalkan Gadong. Namun ketika melewati kawasan Kampung Rimba , saya mulai sadar bahwa kita ke arah yang salah dan meninggalkan kota BSB.

“Pak Djito, Kenapa kita malah makin menjauh dari Gadong, kita mau ke mana?”

“Maaf, kita ke Kampung Rimba dulu, ada teman yang mau ikut ke Gadong”, jawab Pak Jito.

Walau agak waswas, saya masih santai saja, Sementara saya perhatikan Asep dan Azwar sedang tidur pulas di kursi belakang. Bang Zai juga hanya terdiam setengah mengantuk.

Mobil keluar Lebuh raya dan masuk ke jalan-jalan kecil di Kampung Rimba. Lalu berhenti di suatu perempatan jalan. Di sini, dua orang lelaki ikut naik dan duduk di kursi tengah yang kosong, Mobil lalu kembali menuju ke Lebuhraya Tungku.

Saya mulai panik ketika sadar bahwa kendaraan bukan menuju Gadong melainkan menjauh bahkan menuju ke Lebuh Raya Muara Tutong. Wah ini kan ke arah Jerudong dan bahkan bisa ke Tutong atau Belait, pikir saya.

“Pak Jito, kita mau ke……”, bersamaan dengan itu mulut saya dibekap oleh sapu tangan dari oleh salah seorang dari dua lelaki teman Pak Jito tadi. Ketika saya menengok ke belakang, Bang Zai, Azwar dan Eko juga sudah dilumpuhkan terlebih dahulu. Mulut mereka disumpal sapu tangan dan tangan diikat dari belakang.

Saya sangat kaget. Tidak terbayang bahwa saya dan teman-teman akan mengalami penculikan di hari kedatangan kami di Brunei. Apakah mereka komplotan perampok?, Bukankah Brunei merupakan negeri yang sangat aman sesuai dengan namanya Darussalam alias negeri yang aman!

Mobil terus melaju kencang menuju Jerudong atau Tutong. Namun tiba-tiba saja kendaraan oleng , dan dalam waktu yang lumayan cepat kendaraan seperti keluar dari jalan raya berguling dua kali dan berhenti menabrak pembatas jalan.

Saya sangat beruntung karena masih sadar dan terikat aman di kendaraan dengan sabuk pengaman. Saya kemudian mencoba bangun. Dan tetap sadar bisa membuka sumpalan mulut saya. Pak Djito sendiri terlihat masih pingsan di tempat kemudi.

Keajaiban terjadi di bagian belakang mobil. Suara gendang labik dan nakara berbunyi sayup-sayup dan Azwar serta Eko juga bangkit dalam keadaan sehat walafiat. Mereka bahkan juga sudah bisa membuka sumpalan mulut dan ikatan tangan sementara kedua lelaki yang naik di Kampong Rimba masih pingsan.

Bang Zai sendiri masih pingsan. Azwar berusaha membangunkannya. Tidak lama kemudian suara sirene polisi lalu lintas mendekat dan kemudian memanggil ambulans untuk membawa kami semua ke rumah sakit.

Uniknya sebelum naik ke ambulans, saya sempat melihat Keris Brunei kecil tertancap di salah satu ban depan mobil yang menyebabkan ban menjadi kempis dan sopir kehilangan kendali.

Alhamdulillah, dalam perjalanan ke rumah sakit, Bang Zai sadar dan hanya menderita lecet sedikit saja sementara, Saya , Azwar dan Eko secara ajaib tidak menderita luka sedikit pun.

Pak Djito menderita luka lumayan parah, demikian juga dengan dua orang temannya. Kami kemudian diantarkan ke Hotel di Gadong dengan kendaraan dan sopir lain dari kantor penjemput setelah Saya menelepon dari rumah sakit.

Lalu apa yang terjadi dengan Pak Man?

Azan Subuh sudah menggema ketika Saya masuk kamar di Centre Point Hotel di Gadong, Inilah yang akan menjadi rumah kami dalam dua bulan berikut di Brunei.

Saya memeriksa tas saya, Keris Brunei masih aman ada di dalamnya. Lalu keris apa yang menancap di ban mobil tadi yang mengalami kecelakaan?

Bersambung