Now Loading

BAB IV. BANGUN DAN/ATAU TIDUR (BAGIAN 3)

Keesokan harinya sesuai jadwal, 3556P duduk di tempat tidurnya, menunggu neneknya menyelinap masuk ke kamarnya. Setelah neneknya mengendap-endap masuk, gadis itu meraba ke bawah kasur untuk mengambil catatannya.

Betapa terkejutnya dia, catatannya telah hilang. Gadis itu berlutut di samping tempat tidur dan mengangkat kasurnya, namun yang dicarinya tak ada. Dia berbalik menghadap neneknya yang telah melepas tudungnya, dan untuk pertama kalinya sejak 3556P bisa mengingat, Devi terlihat cemas.

"Tidak apa-apa, Sayang," bisik Devi. "Tak perlu menulis apa pun hari ini."

Gadis itu memandangi neneknya yang duduk gelisah di kursi di seberangnya.

“Hari ini, Nenek ingin mengajarkanmu tentang sastra dan puisi, tapi … biarkan Nenek menatapmu sepuasnya sebentar.”

Dengan mata berbinar, Devi memandang cucunya yang masih pra remaja dengan penuh kasih sebelum berbicara lagi.

“Nenek sudah mengajarimu hampir semua yang Nenek tahu. Nenek telah mengajarimu tentang Tuhan, cinta, dan kebebasan. Dengarkan Sayang, Nenek mencintaimu, dan Nenek yakin kamu akan mengingat semua ini. Jadi berjanjilah pada Nenek, Sayang. Kamu boleh melupakan Nenek, tapi jangan lupa apa yang sudah Nenek ajarkan. ”

"Aku janji."

Neneknya melihat ke sekeliling sebelum mengucapkan kata-kata selanjutnya.

"Kamu bisa kabur. Nenek telah mempelajari tata letak Kamp ini selama dua puluh tahun—di ujung jalan itu, tempat kita berjalan hari itu, di luar tempat mereka menumpuk orang mati itu—jika kamu lari, dan maksud nenek LARI ... kamu tidak akan berada di sini lagi. Nenek tidak tahu apa lagi yang ada di luar sana, tapi Sayang, kamu harus mencari tahu. Dan ingat selalu ya, Sayang … Devi mencintaimu. "

Tiba-tiba terdengar suara keras di luar kamar. Gadis itu meraih kerudungnya, tetapi Devi duduk diam dengan punggung tegak. Suara-suara percakapan terburu-buru, dan 3556P melompat kaget ketika pintunya ditendang dengan keras dengan sepatu bot hitam seorang lelaki bertudung. Di belakangnya adalah orang tuanya, dan ayahnya memegang tisu penuh coretan.

Tidak ada kata-kata yang terucap, dan dalam sekejap. Pengawas mengangkat senjatanya …

DOOOR!

Tubuh Devi jatuh ke lantai. Pengawas berbalik dan keluar dari kamar gadis itu. Kedua orang tuanya mengikuti dari belakang.

3556P tertegun tak bergerak, menatap cipratan darah dan serpihan otak yang menodai jubahnya. Matanya kemudian mengarah ke tubuh yang tergeletak di genangan darah yang mengembang perlahan di samping tempat tidurnya.

Dia tahu dia perlu tidur, tetapi gadis itu hanya menatap jenazah neneknya selama beberapa jam berikutnya, mengetahui bahwa seorang Pengawas akan datang keesokan paginya untuk membuang mayatnya, seperti sampah biasa, bukan seorang manusia yang bernama Devi. Gadis itu menangis untuk pertama kalinya, tanpa suara.

***

3556P mengingat kembali kenangan terakhir itu di kepalanya saat Pengawas menguji tingkat nutrisinya. Dua minggu, sudah sejak neneknya terbunuh di depan matanya. Dua minggu sejak dia mendapat pelajaran bahwa bukan hanya daftar undang-undang yang diunduhnya tentang sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan siapa pun. Dua minggu sejak papanya menyerahkan neneknya—ibunya sendiri—untuk dieksekusi.

Sejak malam itu, kata-kata Devi terngiang selalu di kepala gadis itu. Dialah yang dipercaya neneknya untuk melakukan sesuatu dengan pengetahuan yang dimilikinya. Tapi apa? Apa yang mungkin dilakukan seorang gadis muda untuk mengubah sesuatu ketika upaya apa pun berujung kematian?

Dia mengunduh pelajaran untuk hari itu dan pergi ke kamarnya untuk belajar. Tidak ada undang-undang baru yang diberlakukan sejak kemarin, yang melegakan pikiran. 3556P merasa otaknya tidak akan dapat menangani informasi baru. Dia lulus ujian dengah mudah, dan setelah itu, mondar-mandir di kamarnya. Sesekali dia berhenti untuk memandangi tempat neneknya dibunuh dua minggu lalu.

Di atas segalanya, 3556P merindukan perbincangan dengan neneknya. Dia merindukan perasaan cinta.

Gadis itu menjatuhkan badannya ke tempat tidur dan mengeluarkan uang logam dari bawah bantalnya. Dia mempelajarinya dengan saksama, mengusap-usap gambar burung yang disebut neneknya sebagai Garuda Pancasila, memutarnya beberapa kali di telapak tangannya.

Kamu harus tahu.

Kata-kata neneknya bergema di kepalanya. Matanya menatap ke bawah, ke noda merah di lantai di samping tempat tidurnya. Itu bukti neneknya pernah ada. Anehnya, 3556P merasa terhibur.

Saat dia berbaring di tempat tidur, sesuatu mulai terbentuk di benaknya, rencana, rangkaian aksi. Seolah-olah neneknya berbisik padanya.

Ide perlahan-lahan datang padanya, seolah-olah terjalin bersama-sama. Belum pernah terjadi sebelumnya, perasaan yang kuat ini.

3556P duduk di tempat tidurnya. Pikirannya terus bekerja, terjalin dengan kata-kata neneknya. Dia merasa kuat. Untuk pertama kalinya, dia merasakan amarah.

Dia telah menentukan aksi pertamanya.