Now Loading

Deretan Mimpi Penuh Teka-Teki

April 1998, kondisi politik dan ekonomi di tanah air makin kacau. Harga barang-barang kian melambung dan nilai tukar rupiah juga makin anjlok.

Mendapatkan tugas selama dua bulan di Brunei bagaikan mendapatkan durian runtuh buat Empat Sekawan. Saya sudah terbayang jumlah uang saku dalam Dolar yang dapat kami kumpulkan. Proyek di Brunei  berlanjut dan akhir April kami dijadwalkan berangkat lagi. Buat saya ini juga menjadi kesempatan emas untuk lebih mengenal Laila yang selama ini selalu dirindu. Hanya Keris Brunei dan mimpi-mimpi yang bisa menjadi pelipur lara sekaligus menghapus rindu.

Sementara saya sendiri kurang mengetahui bagaimana perkembangan hubungan jarak jauh antara Eko dan Azwar bersama pasangan dadakan  masing-masing yaitu, Noor dan Irma. Semoga selalu baik-baik saja. Selama ini kami kurang suka berbicara masalah pribadi di kantor.

Minggu terakhir di bulan April kami akan berangkat. Namun dalam seminggu terakhir ini juga saya diganggu oleh rentetan mimpi-mimpi buruk tentang Brunei. Mimpi-mimpi yang begitu jelas seakan-akan nyata dan benar terjadi.

Mimpi pertama:

Saya berjalan sendirian di sekitar Water front di Bandar di suatu senja. Suasana Sungai Brunei lumayan ramai dengan perahu yang hilir mudik. Ketika matahari mulai tenggelam rumah-rumah di Kampong Ayer terasa sangat indah dengan lampu kelap-kelip bagaikan sejuta kunang-kunang. Saya sangat menikmati suasana ini. 

Sesampainya  di dermaga saya hanya bersandar di pagar dan melihat perahu-perahu hilir mudik mengantarkan penumpang kembali ke Kampong Ayer. Saya berharap dapat melihat atau bertemu dengan Laila yang mungkin menjadi salah satu penumpang di perahu itu.

Tiba-tiba saja ada seorang lelaki menepuk bahu saya. Sekilas saya perhatikan usianya sekitar 35 sampai 40 tahunan, berwajah lumayan ganteng.

Laki-laki itu hanya tersenyum dan kemudian memperkenalkan diri sebagai calon tunangan Laila. Kemudian dia berkata:

“Abang jangan menganggu dan mendekati Laila, dia sudah milik saya”,

Sehabis berkata begitu dia menghilang dan saya pun terbangun.

Tiba-tiba saya ingat bahwa Bang Zai pernah bercerita bahwa dia sempat diculik seseorang ketika menelepon di Kantor Pos dan pada saat itu diperingati juga untuk tidak mendekati Laila. Pada saat itu terjadi insiden salah culik karena Bang Zai dikira saya.

Mimpi Kedua

Mimpi kedua seakan-akan merupakan sambungan mimpi pertama. Saya kembali bertemu di pagar dermaga, Lelaki yang sama menepuk bahu saya, memperkenalkan diri sebagai pacar Laila dan kemudian memperingati saya untuk tidak mendekati dan berhubungan dengan Laila.

Kali ini saya tidak terbangun. Tetapi kemudian bersama lelaki itu naik perahu tambang menuju Kampong Ayer. Dalam pelayaran singkat itu tiba-tiba saja seorang penumpang lainnya mendorong tubuh saya. Saya tidak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh di Sungai Brunei.

Saya mencoba berenang namun langsung terbangun. Saya sendiri tidak tahu makna mimpi ini.

Mimpi ketiga

Nah mimpi ini dimulai kembali di atas perahu menuju Kampong Ayer, Saya tentu ingat bahwa seseorang akan mendorong saya sehingga saya sudah bersiap-siap mengambil kuda-kuda. Ketika dia mendorong saya bisa mengelak dan terjadi perkelahian di atas perahu.

Banyak penumpang lain mencoba melerai namun akhirnya kita berdua bersama beberapa penumpang malah jatuh ke Sungai. Saya mencoba berenang ke tepi untuk menyelamatkan diri dan langsung terbangun,

Itu adalah mimpi terakhir karena malam nanti, Empat Sekawan akan kembali berangkat menuju Bandar Seri Begawan.

Saya tidak tahu apa yang makna rentetan mimpi yang begitu nyata ini dan fakta apa yang akan saya temui di Brunei.

Bersambung