Now Loading

BAB IV. BANGUN DAN/ATAU TIDUR (BAGIAN 2)

Selama sepuluh tahun berikutnya, di balik pintu yang tertutup, dan dengan bisikan pelan, nenek yang bijak memberi tahu cucunya segala sesuatu yang diingatnya tentang Kamp-13 ketika masih bernama Indonesia. Tepatnya di Pulau Kalimantan.

Pelajaran yang sangat berharga bagi gadis itu. Setiap hari dia tumbuh dengan kebijaksanaan yang diberikan kepadanya oleh neneknya yang semakin menua.

Waktunya mereka terbatas, dan gadis itu mulai menuliskan pelajaran yang didapatnya di kertas tisu yang dicurinya dari tempat makan, yang, dia pelajari dari neneknya, disebut dapur.

Dia menyimpan lebaran tisu tersebut di bawah kasurnya untuk disimpan dengan aman, dan pada akhir tahun kesembilan, hampir seluruhnya hitam dengan tinta:

Proklamasi Kemerdekaan

Pancasila

Bhineka Tunggal Ika

Merah Putih

39 provinsi

Demokrasi

9 Presiden

Kabinet Masa Depan

ASEAN

Uni Eropa

Amerika

Pemerintahan

KHAN22

Kamp-13

Tidak banyak waktu untuk rincian, tetapi gadis yang sekarang beranjak remaja itu menyerap segalanya dengan cepat. Dia duduk dengan mulut menganga ketika neneknya mencoba mengajarinya tentang musik dan lagu.

Devi menyanyikan lagu Nina Bobo untuk cucunya, dan menirukan cara memainkan alat musik untuk memberi gadis itu ide tentang kreativitas. Setiap malam setelah memberi pelajaran, sang nenek mencium ubun-ubun cucunya.

“Kamu akan mendapatkan itu lagi, Sayang,” katanya selalu sebelum meninggalkan kamar cucunya.

Dari neneknya yang telah mengalami transformasi negara tempat mereka tinggal, 3556P tahu tentang kapan Pengawas dibentuk, kapan pembelajaran hanya terbatas di dalam rumah, dan mengapa satu-satunya yang diajarkan sekarang adalah Undang-Undang Barak F.

“Setelah diketahui bahwa mesin yang menjalankan pemerintahan, terjadi kekacauan. Informasi tidak diproduksi lagi. Tidak ada lagi yang perlu dibelajari. Saat itulah orang ketakutan. Semuanya berubah. Tidak ada yang tahu harus berbuat apa kecuali yang dikatakan mesin sialan itu. Orang-orang terus mengikutinya. Saat itulah mereka para Pengawas sialan mulai menjalankan sesuatu. Mesin itu tahu tidak bisa mengendalikan setiap orang sepanjang waktu. Nenek ingat ketika Undang-Undang disahkan, setiap tahanan kriminal diperintahkan untuk dikebiri dan diberi asupan yang akan membengkokkan pikiran mereka untuk melakukan apa pun yang diperintahkan. Anak laki-laki diberi hormon testosteron sintetis dan dikirim ke sektor yang berbeda. Setiap hari, Pengawas membiakkan lebih banyak lagi jenis mereka.”

“Tapi mengapa tidak ada yang melakukan sesuatu?” gadis itu bertanya.

“Bukannya tidak ada yang pernah mencoba, Sayang. Pengawas berkuasa dengan cara menyebar ketakutan. Menentang salah satu dari mereka, akan menyebabkan kematian atau lebih buruk lagi. Belum lagi kotoran yang mereka berikan kepada kita dan harus kita makan cenderung … melemahkan otak. ”

"Apa?"

“Itu benar, Sayang. Nenek tidak punya bukti, tapi Nenek sangat yakin itulah yang mereka berikan. Membuat manusia manusia menjadi setenang tumbuh-tumbuhan. Seperti bagaimana para Pengawas berubah menjadi robot pembunuh, tetapi sebaliknya. Menurutmu kenapa kita dipaksa memakannya?”

Malam sebelum neneknya meninggal, dia memegang pundak cucunya.

“Sayang, Nenek tidak tahu berapa banyak pelajaran yang tersisa. Kamu harus berjanji kepada Nenek, berjanji bahwa ini tidak akan sia-sia. Nenek sudah memberitahumu hampir semuanya yang Nenek tahu karena suatu alasan, kamu harus tahu. Harus tahu!

3556P bengong sejenak di tempat tidurnya, menatap neneknya berjalan keluar kamar. Tangannya memegang tisu, dan sebelum mengembalikannya ke bawah kasurnya, dia menulis di bagian putih yang masih tersisa:

Panggil aku Devi.