Now Loading

Bab 11

Paris, 48° 51′ 22.5″ N, 2° 20′ 37.5″ E
Kafe Fragments


Marc mengaduk kopi tanpa gulanya dengan gelisah. Pertemuan dengan Pierre adalah pertemuan rahasia. Sebagai petugas resmi WHO, tidak semestinya dia bertemu dengan seorang presiden direktur sebuah perusahaan farmasi. Apalagi ini adalah salah satu dari sedikit perusahaan farmasi raksasa yang menguasai pangsa obat-obatan dunia.

Dokter yang berkedudukan penting ini melihat sebuah kesempatan luar biasa begitu mendengar cerita Dokter Cecilia, temannya di bangku kuliah dahulu yang selalu mempercayainya sebagai seorang sahabat.

Kesempatan untuk ketenaran, keuntungan finansial, dan jiwa patriotik terhadap negaranya Perancis, melatar belakangi pengkhianatannya. Dia akan sangat terkenal di seluruh dunia sebagai penemu serum yang bisa menghentikan wabah yang menakutkan. Pierre juga pasti akan membayarnya dengan sangat mahal untuk informasi dan kontribusinya terhadap pembuatan serum atau vaksin yang bisa menghentikan pandemi. Perancis tentu juga akan sangat bangga memiliki warganegara yang berjasa besar bagi dunia bernama Marc Antoine.

Marc membayangkan wajah Cecilia yang marah saat mengetahui semua ini. Ah itu urusan nanti. Kemarahan Cecilia hanyalah hal kecil dibanding dengan jasa besarnya terhadap negaranya.

Marc sengaja mengambil tempat duduk paling sudut yang agak gelap dan sepi dari pengunjung. Cafe ini selalu ramai setiap harinya. Tapi pukul dua siang begini cukup sepi.

Pandangan mata waspada Marc menyelidiki seputar ruangan cafe. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya adalah pengunjung cafe yang sedang ingin melepas lelah dengan secangkir kopi panas dan sepotong croissant bertabur gula.

Tidak terlalu jauh dari mejanya, seorang gadis tanggung menyantap croissant sambil tak henti memainkan gawai. Di sebelahnya seorang tua dengan tongkat bantu jalan yang tersandar di samping kursinya sedang membaca koran. Lalu di sudut yang berseberangan, nampak seorang ibu muda sibuk menyuapi bayinya yang cerewet dengan potongan kecil roti. Ah, aman!

Sambil menunggu kedatangan Pierre, Marc membuka-buka berita di gawainya. Beberapa judul berita cukup bombastis serta membahas hal yang sama dan agak mencurigakan.

Sebuah kapal pemburu Ikan Paus dari Jepang meledak dan terbakar di perairan Arctic.

Aparat berwenang dari Islandia sedang menyelidiki kapal terbakar yang berada di zona ZEE nya.

Ditemukan jenazah tidak utuh di lepas pantai Norwegia. Diduga merupakan awak dari kapal pemburu Paus yang terbakar.

Marc mengerutkan keningnya. Ini tidak biasa. Kapal pemburu Paus terbakar? Di perairan Arctic? Hmm.

"Sudah lama Marc? Maaf agak telat.”Sebuah suara menyapa Marc.

"Oui Pierre tak apa. Duduklah. Kau aman?”

Lelaki perlente yang dipanggil Pierre mengangguk. Menarik kursi dan langsung bertanya to the point  dan meminta penjelasan detail tentang rencana Marc.

Dengan suara rendah Marc meminta orang-orang Pierre untuk membujuk atau menangkap paksa seorang pria bernama Fabumi yang sekarang sedang bersama koleganya di Kongo. Marc akan selalu memberikan informasi keberadaan mereka.

"Kau tahu. Pria itu aset sangat penting bagi perusahaanmu untuk mengembangkan obat bagi sebuah pandemi penyakit menular yang tak lama lagi akan terjadi. Dia terbukti imun.”

Pierre mengangguk percaya. Marc adalah sumber yang tak boleh diragukan. Jabatannya di WHO cukup penting dan jaringannya sangat luas.

"Kau tahu Marc? Tolong selidiki lewat jaringanmu apa yang sesungguhnya terjadi pada peristiwa kebakaran kapal di Arctic? Juga mayat yang ditemukan di Norwegia. Sumberku di rumah sakit di sana mengatakan mayat itu sepertinya punya penyakit serius.”

Marc mengangkat kepalanya. Instingnya benar.

"Oui Pierre. Tetap kontak. Jangan lupa kita mitra dalam 2 kasus ini. Aku akan selalu memberimu koordinat di mana aset itu berada sehingga orang-orangmu bisa leluasa menyiapkan rencana.”

Pierre berdehem kecil. Bangkit dan keluar. Marc meletakkan beberapa Franc di mejanya dan ikut beranjak keluar.

Gadis tanggung itu menekan tombol send pada rekaman percakapan Marc ke seseorang di London.

Orang tua itu bergegas pergi setelah membayar. Langkahnya terlihat tegap. Tongkat yang tersandar di kursinya ditinggalkan begitu saja.

Ibu muda itu menghubungi sebuah nomor di Beijing sambil merapikan baju bayinya yang berantakan.

"Tuan Feng, tolong sampaikan ke Tuan Huang. Confirmed kasus di Kongo dan Skandinavia. Persiapkan protokol investigasi. Aku akan kirim rekaman percakapan antara pejabat WHO dan bos Neogen Pharmacie baru saja.”

* *