Now Loading

BAB IV. BANGUN DAN/ATAU TIDUR (BAGIAN 1)

"Bangun!"

Mamanya mengguncang tubuh 3556P dengan keras. Gadis kecil itu mengejap-ngejapkan matanya. Belum sepenuhnya sadar, tapi dia bisa mendengar sirene makan sore meraung-raung di luar.

"Bangun! Sekarang!" Perempuan itu mengguncang tubuh putrinya sekali lagi lalu meninggalkan ruangan.
3556P duduk di tempat tidur. Meraba wajahnya dan menyadari bahwa dia tidak mengenakan tudung kepalanya. Dia meraihnya dan memasangnya di atas kepalanya sebelum keluar untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan.

Sebelum turun dari tempat tidur, dia meraih ke bawah bantal, mengeluarkan uang logam yang dipungutnya pada hari terakhir dia berjalan di jalan setapak bersama neneknya. 3556P menggenggamnya erat-erat sebelum meletakkannya kembali ke tempat semula. Dia tidak pernah memberi tahu neneknya bahwa dia menyimpan benda tersebut.

3556P bergabung di meja makan tempat makanannya sudah ada di piringnya. Dia menoleh ke kursi kosong di sebelah kiri. Beberapa hari yang yang lalu, neneknya masih makan bersama mereka. Dia akan membisikkan keluhannya kepada Devi tentang makanan, dan memutar bola matanya saat sirene pemeriksaan meraung. Sekarang, seolah-olah tidak pernah ada orang yang duduk di sana. Neneknya tak pernah disebutkan setelah kematiannya. Untuk semua orang, kecuali 3556P, Devi bahkan tidak pernah ada.

Sambil makan, gadis itu berpikir bahwa dia tidak bisa mengingat seperti apa rasanya sinar matahari menghangatkan wajahnya. Sepertinya, baru kemarin dia dan neneknya berada di jalanan dan menghormati mayat pria yang terbunuh dengan bunga tempuyung. Sekarang, bagaimanapun, ingatannya perlahan-lahan memudar.

Dia takut dia akan melupakan wajah neneknya. Dengan pikiran yang menggerogotinya itu, 3556P menutup matanya rapat-rapat, dan mengingatkannya pada satu-satunya wajah manusia yang pernah dia kenal selain wajahnya sendiri. Dia membayangkan wajah bulat telur Devi, dan seiring berjalannya waktu, retak bergaris-garis. Garis-garis yang hanya ada di sekitar mulutnya, di tempat Devi tersenyum pada cucunya. Rambutnya lurus panjang kelabu, dan dikepang menjadi dua sanggul di sisi kiri dan kanan kepalanya dengan ketat.

“Leia Skywalker Organa Solo,” jawab Devi saat dia bertanya mengapa rambut neneknya disanggul seperti itu.

“Siapa?” dia bertanya. 

“Seorang jenderal,” jawab Devi.

“Seperti Pengawas?”

“Dia lebih hebat dari pengawas.”

Gadis itu dengan jelas mengingat bagaimana neneknya dulu biasa menata rambutnya dengan gaya bergelombang, sampai kemudian undang-undang menetapkan bahwa memakai kerudung wajib setiap saat di luar ruangan. Mata neneknya tidak pernah berhenti berkilau—tidak peduli undang-undang yang berlaku. Warnanya hijau cerah, hijau yang tidak pernah ditemukan di alam, dan sesuatu yang tidak dilihat gadis itu di mata dingin ayahnya. Kehangatan yang ada pada neneknya tidak diturunkan kepada putranya.

Gadis itu tersenyum, senang bahwa dia tidak perlu khawatir kehilangan ingatan tentang Devi. Senang bahwa wanita yang mengajarinya segalanya hindup dalam kenangannya.

***
Sehari setelah 3556P berdoa untuk pertama kalinya, saat sarapan Devi memberinya selembar kertas.

Pelajaran di mulai setelah makan malam.

Gadis kecil itu tidak begitu paham apa yang dimaksud dengan makan malam, tetapi dia dengan penuh semangat menganggukkan kepala ke arah neneknya. Sepanjang hari, perutnya sampai mulas mengantisipasi rencana malam itu. Dia hampir tidak bisa berkonsentrasi pada hal lain, termasuk modul Pelajaran Barak F yang disampaikan oleh Pengawas.

Dia hampir tidak lulus ujiannya, tetapi saat itu nilai yang disyaratkan untuk anak di bawah sepuluh tahun adalah 90%, jadi dia aman.

Ketika jam makan sore akhirnya selesai, gadis kecil itu bergegas ke kamarnya dan melepas tudungnya. Dia duduk bersila di tempat tidurnya, semangatnya menggelora ketika neneknya masuk.

Devi membuka kerudungnya sendiri dan duduk di kursi kecil di seberang cucunya.

“Oke sayang, kita tidak punya banyak waktu. Dengar, kamu tahu bagaimana Nenek akan memberitahumu segalanya? Tentang apa dan bagaimana dulu keadaan di sekitar sini?"

Gadis kecil itu mengangguk.

 “Yah, aku tidak akan berhenti sampai kamu tahu setiap hal tentang Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia. Setidaknya satu anak muda harus tahu."

"Baik."

"Jadi setiap malam, setelah makan malam, di sini nenek akan mencoba mengajarimu sampai salah satu dari Pengawas sialan memenggal kepala Nenek karena pengkhianatan atau omong kosong semacam itu."

"Makan malam?"

“Kita mulai dengan apa yang disebut ‘makan’, termasuk makan malam.”