Now Loading

Untung Ada Keris Brunei

Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta. Saya memberikan pengarahan bahwa kita semua akan mendapat libur dua hari sebelum masuk lagi ke kantor ada Rabu 31 Desember kecuali Azwar yang langsung cuti sekalian Tahun Baru 1998.

Karena itu, saya langsung pulang dengan taksi menuju ke tempat kos di Cililitan untuk sekedar menaruh baju dan barang bawaan dari Brunei. Dan dengan bawaan barang lebih sedikit termasuk oleh-oleh untuk keluarga di Sukagalih saya langsung ke Bandung malam itu juga. Tidak lupa keris Brunei, buah tangan dari Laila pun menemani perjalanan pulang kampung ini. Oh yah, rumah saya dan Azwar memang masih satu RT di Sukagalih.

Sepanjang perjalanan ke Bandung, lintasan peristiwa selama dua minggu di Brunei terus diputar dalam pikiran. Bagaikan sebuah film bisu yang berkesan. Apalagi ketika sampai pada episode di Muzium Brunei dan kemudian bersama Laila naik perahu di Sungai Brunei, hingga menikmati Ambuyat di Handicraft Center. Sepanjang jalan itu pula keris Brunei yang mungil selalu berada dalam dekapan dan menjadi obat rindu akan negeri Brunei.

Sekitar  jam 3 pagi, bus saya sampai di Terminal Kebon Kelapa. Terpaksa menunggu sampai habis subuh untuk bisa naik bemo ke rumah. Suasana terminal cukup sepi kecuali beberapa warung rokok dan tukang kopi di kaki lima.

Saya mampir di warung kopi dan duduk santai. Tas berisi baju dan tas kecil berisi handphone dan keris Brunei juga ada di dekatnya. Saat itu kebetulan hanya ada dua orang yang duduk di warung dan saya pun asyik menikmati kopi sambil menghisap rokok kretek yang baru saya beli. Wah nikmat juga rokok kretek ini setelah beberapa hari kehabisan rokok kretek di Brunei. Sementara rokok putih kurang mantap buat saya.

Tiba-tiba saja tiga orang berpenampilan agak seram masuk ke warung. Mereka minta rokok kepada penjual dan saya mulai waswas melihat gelagat mereka. Tas kecil berisi handphone dan keris Brunei segera saya selempangkan di bahu dan saya kemudian asyik lagi menyeruput kopi. Sepertinya mereka adalah komplotan preman yang sering memalak penumpang di malam atau pagi buta begini.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka yang berpenampilan paling sangat dengan badan kekar dan tangan bertato merebut tas saya dan berlari ke luar. Karena saya sudah waspada, saya segera mengejar dan bertekad melawan. Saya bertekad melawan, maklum walau sedikit-sedikit saya juga pernah belajar pencak silat.

Dua orang temannya juga ikut mengejar saya. Dan saya kemudian dipiting oleh dua orang itu sambil temannya yang merebut tas dengan bebas melayangkan tinju ke perut saya. Rasa sakit di perut membuat saya hampir pingsan. Apalagi sudah hampir tidak tidur sejak perjalanan siang kemarin dari Brunei.

“Ayo serahkan dompet kamu, Kata lelaki yang merebut tas tadi.

Saya kemudian terpaksa membuka tas dan kemudian tiba-tiba saja keris Brunei mulai bercahaya. Keris yang ukuran aslinya kecil mungil buat pajangan itu tiba-tiba saja melayang ke genggaman tangan kanan saya. Cahaya nya berkelibat membuat ketiga rema tersebut menjadi silau.

Seperti ada kekuatan gaib, keris itu kini bisa bergerak sendiri walau melalui perantaraan tangan saya membuat gerakan dan tusukan yang membuat dua orang itu melepaskan dekapannya. Bahkan preman yang ketiga juga sempat sedikit terluka lengannya ketika mencoba memukul saya.

Siapa sangka mereka bertiga kemudian melarikan diri dan meninggalkan saya seorang diri. Masih utuh sehat dan tampak kuat dengan keris di tangan. Tas saya juga dibiarkan saja tergeletak di atas kaki lima.

Saya segera memasukkan keris kembali ke dalam tas. Dan ajaib, keris itu kemudian meredup dan kembali ke ukuran semula. Kembali manis menjadi sebuah pajangan dan bukan senjata yang garang.

Siapa sangkah, buah tangan dari Laila ini bukan hanya berfungsi sebagai pelepas rindu, melainkan juga mempunyai kekuatan gaib yang mampu melindungi diri saya dari gangguan preman.

Bersambung