Now Loading

Bab 14

Sin Liong melirik kaca spion.  Dua mobil pick up itu melaju cepat mengejar mereka.  Hmm, orang-orang yang gigih, pikir Sin Liong sambil terus menjejak gas.  Meliuk-liuk di padatnya jalanan kota Surabaya.  Pemuda ini masih terkagum-kagum dengan kemampuan Citra.  Membuat peluru macet dan tidak bisa ditembakkan?  Tiga pistol sekaligus? Ckckck....gadis ajaib!

Citra memandangi Raja di sampingnya.  Banyak hal yang ingin ditanyakannya.  Mulai bagaimana dia selamat dari penculikan.  Selamat juga dari serangan ilmu magis orang suruhan Maja di kereta.  Pasti ada satu hal yang tak diketahuinya.  Raja adalah manusia jaman ini.  Setahunya, meskipun pemuda juga merupakan reinkarnasi dari orang hebat di masa lalu tapi dia bukan manjing kembali yang berarti tidak punya kemampuan apapun dari orang yang menitisinya.  Apalagi Raja adalah termasuk manusia modern yang tidak percaya kekuatan mistis.

Tapi selamat dari penculikan dan kejaran Mada adalah hal yang menakjubkan.  Barangkali itu keberuntungan.  Tapi apakah selamat dari serangan mistis dahsyat seorang dukun hebat itu juga keberuntungan?  Rasanya tidak.  Pemuda ini pasti mendapatkan bantuan dari seseorang atau paling tidak sebuah kekuatan lain.

Citra menggelengkan kepala mengusir rasa ingin tahu yang membuncah begitu kuat.  Tidak tega untuk mendesak Raja dengan pertanyaan yang mungkin malah tidak dimengertinya sama sekali.  Citra kembali menggelengkan kepala.  Tersenyum simpul melihat Raja tertidur nyenyak karena keletihan.  Padahal mereka sedang kejar-kejaran dengan seru di jalanan yang sangat ramai.  Citra mengalihkan pandangan ke depan.

Nampaknya Sin Liong mengarahkan mobil masuk tol.  Menghindari pengejar di tengah jalanan kota yang sibuk sangat beresiko.  Terutama bagi para pengguna jalan lainnya yang tak bersalah.  Pilihan yang paling rasional adalah meninggalkan para pengejar dengan kecepatan tinggi.  Dan itu bisa dicapai dengan memasuki jalan tol.

------

Mobil yang membawa Feng Siong dan Hoa Lie memasuki gerbang besar sebuah perumahan elit di bilangan Jakarta Selatan.  Rumah sebesar istana dengan penjagaan ketat di depan.  Para penjaga adalah tentara bersenjata.  Pemilik rumah bukanlah orang kaya biasa tapi pastilah juga sangat berkuasa. 

Feng Siong dan Hoa Lie turun dari mobil dan dipersilahkan masuk dalam rumah.  Di dalam sudah menunggu beberapa orang pelayan yang segera membantu mereka melepaskan jaket dan jas, meletakkan tas, dan banyak hal lainnya yang merupakan pelayanan bintang lima. 

Setelah masing-masing menyegarkan diri di kamar yang telah disediakan, Feng Siong dan Hoa Lie duduk di sebuah ruang tamu mewah.  Menunggu tuan rumah menemui mereka.  Tuan rumah yang mengatur semua hal untuk mereka selama di Indonesia.  Tuan rumah yang punya tangan kuat.  Sampai-sampai visa masuk yang biasanya selesai dalam waktu seminggu cukup diselesaikan dalam satu hari.

------

Di sebuah restoran di Den Haag, Belanda.  Robert Van Der Meer memandangi jam tangannya sambil berdesah resah.  Orang yang ditunggunya memang tidak pernah tepat waktu.  Seharusnya pertemuan diadakan pukul 7 petang.  Sekarang sudah hampir pukul 8.  Bahkan kabar mengenai keterlambatan saja tidak muncul di selulernya.  Payah!

Tapi Robert membutuhkan jasanya.  Dengan teramat sangat.  Gian Carlo adalah jaminan bagi kesuksesan sebuah misi.  Seorang Italiano yang terkenal sebagai penjarah makam paling terkenal saat ini.  Pesan benda antik dalam bentuk apapun, sesulit apapun, seketat apapun dijaga, Gian Carlo adalah orang paling tepat disewa.  Tapi ya itu, tidak pernah tepat waktu dan seenaknya sendiri.

Robert mengingat lagi pesan di selulernya dua hari yang lalu;

Meneer, mulai ramai.  Gerbang hampir terbuka.  Segera.

Sebuah pesan yang membuat adrenalinnya memuncak dalam hitungan detik.  Dia adalah kolektor sekaligus pedagang gelap benda-benda bersejarah paling ngetop di seantero Eropa.  Hampir tidak ada tempat di dunia ini yang belum didatanginya untuk berburu barang antik, kuno dan super mahal.

Sudah lama Robert memantau perkembangan di Jawa.  Ada satu hal yang sangat menarik perhatiannya.  Manuskrip kuno tentang Gerbang Waktu yang akan membawa orang kembali ke masa kerajaan-kerajaan besar di Jawa.  Instingnya sebagai pemburu harta karun menguat.  Terutama ini adalah hal baru.  Kembali ke masa silam? Wuaahhh....adrenalinnya mengalir deras.

Tapi dia memerlukan orang karet sialan ini.  Gian Carlo Gambini bisa membuka jalan semua ke arah sana.  Kecerdikannya tidak diragukan untuk mencari cara mendekati Gerbang Waktu.  Robert melihat lagi jam tangannya.  Shit! Hampir 2 jam! 

Robert mengangkat mukanya terkejut.  Sebuah bayangan menutupi penglihatannya saat dia melihat jam tangannya tadi.  Ah akhirnya orang menyebalkan ini datang. 

Gian Carlo Gambini nyengir.  Mengusap matanya yang masih terkantuk-kantuk.  Robert merutuk dalam hati.  Shit!

------

Kejar-kejaran terjadi di jalan tol Surabaya-Mojokerto.  Mobil 4WD modifikasi Sin Liong melesat dengan kecepatan 120 km/jam dan terus bertambah.  Jauh di belakangnya, 2 mobil para pengejar berusaha keras menyusul. 

Sin Liong terus memacu kendaraannya.  Jika dia bisa jauh mendahului keluar pintu keluar tol Mojokerto, para penguntit akan kehilangan jejak.  Dia tidak takut menghadapi mereka.  Tapi itu akan menghabiskan waktu yang sangat berharga.  Citra telah berpesan bahwa Bubat adalah tujuan utama mereka.  Jika ada gangguan lebih baik dihindari.  Tidak harus selalu dihadapi.

Itu dia! Pintu tol 1 km lagi.  Sin Liong melirik kaca spion.  Tidak nampak lagi 2 mobil pengejar mereka.  Tapi keluar tol sedang antri.  Sin Liong memajukan kendaraannya perlahan-lahan dalam antrian sewaktu terdengar serentetan tembakan senapan.  Otomatis keempatnya menundukkan tubuh dan kepala bersamaan dengan hantaman peluru yang memecahkan kaca mobil Sin Liong. 

Di tengah hujan tembakan, sambil masih menunduk memperhatikan layar monitor, Sin Liong memutar kemudi dan menekan gas mengarah ke pintu tol yang sedang tidak aktif.  Brakkkkk!  Pintu tol hancur berantakan diterjang mobil tinggi dan kokoh yang sudah tidak berkaca samping kanan kiri lagi itu.

Sin Liong menegakkan tubuh.  Mengambil jalur ke simpang kiri di perempatan berlampu merah.  Tancap gas dalam-dalam.  Dia tidak tahu darimana berondongan tembakan tadi berasal.  Yang jelas bukan dari kendaraan pengejar.  Pasti dari orang lain lagi yang telah dikontak untuk membantu.  Gila!  Musuh-musuh mereka punya jaringan kekuatan yang luar biasa.

Sampai di perempatan berikutnya, Sin Liong mengambil lagi jalur kiri.  Dilihatnya ada sebuah mall besar.  Buru-buru Sin Liong masuk dan mengarahkan mobilnya ke basemen.  Mengambil tempat parkir paling sudut yang teraman. 

Dengan sedikit terengah-engah, Sin Liong mengamati dan menyelidiki keadaan sebelum akhirnya kembali dan memeriksa para penumpangnya.  Citra bersandar di jok belakang.  Raja di sebelahnya terlihat menatap Citra dengan khawatir sambil memegangi lengan Citra yang berlumuran darah.  Sin Liong melihat Abah Usep terpaku diam di jok samping pengemudi. 

Hati Sin Liong tercekat.  Guru silatnya itu memejamkan mata sambil memegangi lehernya.  Dari sela-sela jarinya mengalir darah segar.  Abah Usep dan Citra terkena tembakan.  Citra kelihatannya hanya terkena serempet peluru di lengan.  Tapi Abah Usep?

* ****