Now Loading

Tetabuhan Gendang Labik di Tempat Kos

Empat Sekawan berpisah di Bandara Soekarno Hatta. Bang Zai pulang dengan taksi ke rumahnya di Depok serta Azwar dan Asep juga pulang masing-masing ke tempat kos di Tanah Abang dan Cililitan. Sementara saya juga pulang ke tempat kos yang paling dekat dari bandara yaitu di kawasan Grogol saja.

Dalam taksi menuju Grogol, lintasan perjalanan ke Brunei selama dua minggu kembali terlintas dalam benak. Terutama kunjungan singkat ke Muzium Brunei dan sejenak mampir ke rumah Noor di Kota Batu. Selain itu, perjalanan fantasi bersama leluhur Noor ke Sabah juga terus membayangi saya. Ada perasaan senang, bahagia, termasuk penuh tanda tanya akan identitas Noor yang misterius.

Setibanya di kamar kos, yang pertama saya ingat adalah buah tangan dari Noor yang diberikan di Lapangan Terbang Antarbangsa Brunei. Sebuah replika alat musik yang bernama Gendang Labik. Saya pandang sepasang gendang kecil mungil yang cantik itu dan kemudian saya pajang di atas meja di kamar saya.

Setiap malam, kalau saya ingat Noor dan Brunei, saya pandang gendang tersebut dan kemudian saya ambil dan saya taruh dalam pangkuan atau dalam pelukan. Malamnya saya biasanya akan bermimpi terbang ke Brunei dan bertemu dengan Noor. Dalam mimpi kami biasanya berjalan-jalan di perahu mahligai dan juga berperahu di Sungai Brunei.

Dua minggu sesudah kepulangan saya dari Brunei sekitar pertengahan Januari 1998, tiba-tiba saja ada tugas keluar kota selama seminggu lebih. Kali ini, Saya hanya bersama Bang Zai. Semua berjalan lancar dalam beberapa hari pertama . Namun di malam ke 7 saya mulai mendapat mimpi buruk. Tadinya saya anggap sebagai kembang tidur. Namun mimpi ini berulang-ulang dan terasa sangat nyata serta terjadi dalam tiga malam berturut-turut sampai akhirnya tugas berakhir dan saya serta Bang Zai pulang ke Jakarta.

Dalam mimpi itu, saya seakan-akan diajak oleh leluhur Noor naik perahu di sebuah Sungai yang saya tidak tahu dimana. Dan di tengah perjalanan kami berdua bertemu dengan sebuah perahu lain. Di perahu itu, saya melihat Noor sedang berteriak minta tolong karena ditawan oleh sekawanan perompak atau bajak laut. Anehnya, setiap kali saya melompat ke sungai dan mencoba menolong, mimpi pun usai dan saya terbangun.

Saya hanya berteriak memanggil-manggil namanya sehingga Bang Zai pun ikut terbangun.

Ketika kembali ke kos di Grogol. Teman-teman saya langsung bertanya-tanya sambil bercerita bahwa terjadi keanehan dalam tiga malam terakhir di kamar saya.

Setiap sekitar jam 12 malam, ada suara gendang ditabuh yang membuat anak-anak kos tidak bisa tidur. Suara aneh ini berlangsung sekitar 10 atau 15 menit saja.

Anehnya ketika malam itu saya tinggal di kos sambil memeluk Gendang Labik, tidak ada lagi suara gedang yang ditabuh dan mengganggu teman-teman saya.

Bahkan malam itu juga saya tidak bermimpi apa-apa.

Sejak saat itu saya tidak berani meninggalkan Gendang Labik lebih dari 3 hari di tempat kos karena secara ajaib bisa membuat tetabuhan sendiri.

Mau membuangnya pun saya tetap sayang.

Bersambung