Now Loading

Kesepakatan


Part 22 -


Matahari belum muncul sempurna, semburatnya masih samar terpulas di antara awan yang terserak. Natcha sengaja mengambil jatah liburnya hari ini, setelah berbagai macam kejadian yang membuat pikirannya  begitu lelah, ia merasa perlu memberi istirahat pada otaknya. 

Perempuan itu melangkah menuju kuil, teringat pesan yang disampaikan Thien agar menemui Bikkhu Ethan. Sesaat meragu, apa yang ingin Bikkhu bicarakan dengannya? Jangan-jangan soal jodoh, selalu itu yang Bikkhu tanyakan mengapa dirinya belum juga menikah di usianya yang sudah melewati kepala tiga. Bikkhu sebagai kakak tertua merasa prihatin dengan kehidupan cintanya. 

Natcha menggelengkan kepala kuat-kuat, rasanya bukan soal itu ... bukankah bikkhu sudah berjanji tak akan menyinggungnya lagi, setelah dia mengatakan keberatannya pada pembicaraan terakhir mereka. Lalu soal apa ... Natcha mengedikkan bahu, mendengkus masa bodoh.

"Namo Buddhaya," sapa seseorang di halaman kuil. 

"Namaste," sahut Natcha spontan, ia menoleh ke arah asal suara, ia tersenyum manakala mengetahui siapa yang menyapanya sambil tersenyum. 

"Apa kabar?" tanya laki-laki bertubuh kecil, senyumnya makin lebar saat perempuan cantik itu mendekat.

"Baik, kamu ...?" Natcha balik bertanya.

"Bagaimana keadaan Aaron?" laki-laki itu tak menjawab pertanyaan Natcha, "apakah sudah ada perkembangan?" 

"Belum ada perkembangan yang berarti," jawab Natcha datar, ia nenghela nafas berat, "beberapa hari ini 
dia tampak lebih tenang. Namun, kelihatannya dia benar-benar tidak dapat mengingat semua masa lalunya, bahkan dirinya sendiri."

"Aaron ... amnesia?" 

Natcha mengangguk, "Dokter menyatakan seperti itu."

"Apalah Aaron masih sering mengigau ketakutan?" selidik Jovan.

"Kadang-kadang, tapi sekarang tampaknya lebih tenang sejak saya mengadakan perjanjian ...." Natcha menggantung kalimatnya, ragu ... apakah harus mengatakan pada Jovan? ia tahu laki-laki itu mengetahui banyak hal tentang  korban pembunuhan Aaron dan hantu-hantu  itu.

Namun, ia juga tidak yakin apakah mau mempercayai apa yang disampaikan makhluk-makhluk astral itu. 

"Perjanjian? " Jovan menatap penuh tanya, "perjanjian apa?"

"Tidak! Lupakan! " Natcha berkelit menghindar, ia melangkah tergesa memasuki kuil, matanya menangkap sosok Bikkhu sedang bermediasi di depan patung Sang Buddha.

"Tunggu!" Jovan mengejar perempuan itu, dengan cepat berhasil menyusul dan menjajari langkah Natcha.

"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, katakan!" desak Jovan tajam. Natcha menghentikan langkah, balas menatap tajam pada Jovan. 

"Kau harus mengatakan jika itu tentang Aaron dan hubungannya dengan hantu-hantu itu," sambung Jovan. Natcha menghela napas panjang, berusaha menepis ragunya, ia tahu sebaiknya memang mengatakan pada Jovan, tapi ragu ... apakah laki-laki itu akan mempercayainya.

"Namo Buddhaya," Suara Bariton Bikkhu Ethan menggelegar di samping mereka.

"Namaste," jawab Jovan dan Natcha serenrak, keduanya berpandangan.

"Apa yang kalian ributkan?" tanya Bikkhu heran, menatap Aaron dan Natcha bergantian. Keduanya menunduk, tak satupun yang menjawab.

"Kenapa diam?" tanya Bikkhu tajam. 

"Ini tentang Aaron," ujar Natcha lirih. Bikkhu mengangguk, lalu mengangkat tangan mengisyaratkan untuk duduk. Natcha dan Jovan duduk melingkar mengikuti Bikkhu Ethan.

"Jadi apa yang kalian ketahui tentang Aaron?" Bikkhu menatap Natcha yang terlihat sedikit gelisah. 

"Hantu," jawab Natcha singkat.

"Hantu?" Jovan menyela ingin tahu. Natcha mengangguk.

"Baiklah! Sekarang ceritakan mulai awal." ujar Bikkhu tegas, "apakah benar Aaron mengalami amnesia?" 

Natcha mengangguk, "Benar, dokter menyimpulkan seperti itu."

"Saya pikir amnesia ada keuntungannya," tukas Jovan. Bikkhu menatap tak mengerti, alisnya bertaut tanda berpikir keras.

"Apa maksudnya?"

"Selama ini kita semua tahu, Aaron memiliki perilaku yang kurang baik, dan kita semua tahu, cara mengembalikan ingatan penderita amnesia adalah dengan membangkitkan kenangan masa lalunya." Jovan berhenti sejenak, menatap Bikkhu Ethan yang tampak mulai paham kemana arah maksud Jovan. 

"Kita hapus catatan buruknya, kita ganti dengan hal baik yang dia ingat," ujar Bikkhu. 

"Saya setuju," Jovan membenarkan, "dengan begitu kita bisa membantunya untuk melakukan darma baik."

"Kemarin, orang tua Aaron datang kemari. menurut mereka ada kemungkinan Aaron mengalami amnesia." Bikkhu menjelaskan; lalu menatap Natcha,  "orang tua Aaron mengharap bantuan dalam proses therapy yang harus dijalani, dan minta tolong agar Natcha bersedia membantu karena menurut mereka, selama ini Natcha yang merawat sejak koma."

Natcha menatap kakaknya lekat-lekat.
'Apa yang harus saya lakuka" 

"Orang tua Aaron ingin kamu membantu Aaron dengan membangunkan ingatan-ingatan masa lalunya. Tapi sebaiknya tidak semua, biar hal yang buruk di masa lalunya terkubur, dan bangkitkan hanya yang baik saja." tukas Bikkhu menatap adik perempuannya memohon.

Natcha menghela napas panjang,  kedua tangannya saling meremas menandakan pikirannya sedang gelisah. ia menatap Bikkhu dan Jovan bergantian.

"Bukannya saya tidak mau, tapi itu sulit dilakukan." Natcha berhenti  sejenak, merapikan rambutnya yang tertiup angin menutupi wajahnya, "rangkaian masa lalu adalah satu untaian yang saling berkaitan dan bersambungan. Tidak mungkin memutus satu bagian dan menggantikannya."

"Natcha benar," tukas Jovan akhirnya, "Tapi kita masih bisa menggiring pikiran Aaron pada hal-hal baik saja."

"Bagaimana dengan hantu-hantu itu?" Natcha menegaskan. Jovan terdiam, mengetuk-ngetukjab telunjuknya pada dagu, seperti berpikira keras  

"Selama ini Aaron sering mengigau dan ketakutan, bahkan saat  koma pun tiba-tiba ia berteriak histeris seakan ada yang menguasai pikiran bawah sadarnya," papar Natcha. 

"Apakah tidak ada cara untuk meghentikan hantu-hantu itu?" tanya Jovan. 

"Sebenarnya ....: Natcha menghentikan kalimatnya, lalu menunduk, dihirupnya  udata sebanyak mungkin hingga memenuhi rongga paru-paru, lalu perlahan diembuskannya seakan ingin mengumpulkan keberaniannnya.

"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Jovan tak sabar, ia tahu Natcha ingin mengatakan  sesuatu. 

"Sebenarnya makhluk-makhluk astral itu menemui saya semalam," ujar Natcha lirih.

"Benarkah?  Lalu ...?" potong Jovan tak sabar.

"Biar Natcha menyelesaikan ceritanya dulu!" tegur Bikkhu. Jovan menunduk menyadari kekeliruannya.

"Makhluk-makhluk itu mengatakan bahwa mereka korban pembunuhan Aaron, bahkan bukan cuma membunuh, Aaron juga membakar mayat-mayat mereka untuk menghilangkan jejak."

"Amithaba ... benarkah?" Bikkhu menatap Natcha mencari kebenaran ceritanya, "benarkah sampai sejauh itu kejahatan yang dilakukan Aaron?"

"Bukankah saya pernah menceritakan di hadapan orang tua Aaron juga,"  tandas Jovan.

"Maafkan saya, waktu itu saya tidak percaya sepenuhnya, saya beranggapan Jovan melebihkan ceritanya karena memiliki dendam pribadi yang  berhubungan dengan May, kekasih Aaron yang akhirnya menikah dengan Jovan," papar Bikkhu.

"Kenapa Bikkhu bisa berpendapat demikian?" tukas Jovan dengan nada tinggi, merasa tidak terima karena dianggap melebihkan cerita.

"Maafkan saya," ujar bikkhu merendah, "orang tua Aaron pun sama seperti saya, mereka menganggap Jovan melebihkan cerita karena cemburu."

"Saya pun awalnya penasaran, benarkah Aaron sejahat itu? tapj melihat keadaannya saat koma, lalu kemunculan hantu-hantu itu, semua telah membuka tabir kejadian yang sebenarnya." tandas Natcha melerai.

Jovan mendengkus, ia masih kesal, tapi dalam hati mengakui, Aaron adalah sosok yang tertutup, keadaab strata sosial dan kekayaan keluarga memungkinkan  tidak banyak orang yang tahu kejahatan yang dilakukan. Dengan mudah ia bisa menghapus jejak kejahatan dengan uang yang dimiliki, kalau saja tidak melihat sendiri, mungkin ia pun tidak mempercayainya.

"Lalu apakah hantu-hantu itu menyampaikan pesan lain?" bikkhu mecairkan suasana.

"Makhluk-makhluk itu meminta agar disempurnakan jasadnya supaya bisa reinkarnasi." 

"Bagaimana caranya?" ujar Jovan.

"Mereka menunjukkan pada saya, potongan-potongan kerangka  yang tidak lengkap di rumah sakit. mungkin sebagian lagi telah hancur menjadi abu di antara puing bangunan yang terbakar."

"Waktu itu orang tua Aaron yang mengupayakan membawa kerangka-kerangka itu ke rumah sakit." bikkhu menjelaskan.

"Saya tahu itu, dan apa yang dikatakan Natcha benar sekali," kata Jovan akhirnya.

"Artinya kita harus menyatukan kerangka  agar lengkap sesuai keinginan makhluk-makhluk itu. Mengembalikan jasad mereka dan menjadikannya utuh sesuai hak mereka." bikkhu menyampaikan ujarnya.

"Kita harus menyampaikan pada prang tua Aaron secepatnya," ujar Jovan

"Makin cepat makin baik, setelah makhluk-makhluk itu bisa reinkarnasi, mereka akan berhenti memgganggu. Hal itu juga akan membantu  dalam therapy Aaron," tandas Natcha. 

"Baiklah," ujar bikkhu akhirnya, "saya akan menyampaikan pada prang tua Aaron. Dengan kesepakatan semoga setelah ini tidak ada gangguan hantu-hantu itu lagi."

"Terima kasih, bikkhu," timpal Natcha, menghela napas panjang, satu lagi bebannya terangkat, dadanya lebih lapang sekarang, ia pamit karena ingin istirahat.