Now Loading

Kutukan Nakara

Sesuai janji dengan Eni sewaktu menelepon terakhir dari Brunei, setelah beristirahat semalam di tempat kos,. Esok paginya saya langsung berangkat dengan bus menuju ke Bandung dari Terminal Kampung Rambutan. Tujuannya pulang ke rumah di Sukagalih sekalian melepas rindu dengan sang pacar yang suka cemburuan, Eni. Tentu saja sambil sungkem kepada bapak dan ibu di Bandung.

Dalam perjalanan ke Bandung, saya tidak dapat tidur. Selain rindu pada Eni, potongan kisah-kisah perjalanan selama di Brunei terus menghantui. Baik pemandangan Masjid Perahu yang megah berkilau, maupun ketika naik perahu di Sungai Brunei dan tentu saja pertemuan singkat dengan Irma di Kota Batu.

Dan dalam perjalanan ke Bandung ini pula, buah tangan Irma, replika Nakara, juga tidak ketinggalan ikut menemani. Bahkan sesekali saya mengeluarkannya untuk dipandang dan dipegang selama di dalam bus. Tidak tahu mengapa, kalau memegang benda ini, hati terasa tenteram dan rasa rindu akan Brunei pun terpuaskan.

Sore harinya, Saya segera meluncur dengan motor bebek menuju ke kawasan Ciumbuleuit, ke rumah Eni sekalian membawa oleh-oleh untuk pacar saya  dan adik-adiknya. Tidak banyak, hanya T Shirt, gantungan kunci dan pajangan bergambar Masjid Perahu.

“Apa ini?”, tanya Eni sambil memegang replika Nakara.

“Bagus juga euuy”, tambah Eni lagi sambil menaruh nakara itu di dalam lemari pajangan.

Sejenak saya terkesiap dan diam seribu bahasa. Saya tidak tahu mengapa nakara itu bisa terbawa di dalam kantong plastik berisi oleh-oleh untuk Eni. Seingat saya, buah tangan Irma ini sudah saya pajang di meja di kamar saya.

“Oh ini namanya Nakara, alat musik tradisional Brunei, Ini buat Akang dari teman dan gak tahu kenapa bisa terbawa kesini”. Jawab saya setelah bisa mengendalikan diri.

“Buat Eni saja yah Kang Azwar, bagus loh”.

“Jangan, lagian nanti Eni ‘sieun’. Nakara ini kalau malam bisa bermain sendiri”

Saya tidak punya alasan lain selain menakuti Eni dengan cerita yang mustahil.

Eni tetap merajuk dan bahkan mengancam tidak akan mau menjadi pacar saya lagi kalau Nakara itu tidak dikasih ke Eni. Katanya sudah nasib replika drum itu terbawa ke Ciumbuleuit. Barang itu sudah menentukan nasibnya untuk menjadi penghuni rumahnya. Dengan berat hati, saya pun merelakan benda itu tetap di rumah Eni.

Walau pikiran saya terus tertinggal di Ciumbuleuit, akhirnya kita berdua sempat berjalan-jalan berdua keliling kota Bandung. Ke Alun-Alun dan juga ke Dago. Namun saya merasakan ada sesuatu yang hilang dan tidak sama ketika jalan-jalan bersama Eni.

Malamnya saya pulang dan langsung tertidur.

Dalam tidur itu saya bermimpi naik perahu di Sungai Brunei bersama Irma. Namun di tengah perjalanan Irma melompat ke air. Saya berusaha ikut melompat dan menyelamatkan Irma. Namun saya merasa ikut tenggelam dan akhirnya terbangun.

Saya tidak tahu makna mimpi ini sampai keesokan sorenya, Eni datang ke rumah saya. Dan tidak seperti biasanya dia langsung menangis ketika bertemu saya dan mengembalikan Nakara itu.

“Kang Azwar, lebih baik kita putus saja. Akang telah menghianati Eni”, kata Eni sambil menghapus air matanya.

“Ada apa ini, Akang tetap setia selama ini dan tidak punya perempuan lain”, bantah saya sambil membayangkan wajah Irma.

Akhirnya tangis Eni pun meledak. Dia bercerita bahwa Nakara itu lah yang membongkar pengkhianatan saya.

Beginilah Cerita Eni:

Semalam, sekitar pukul 12 malam, Saya terbangun ketika mendengar sayup-sayup suara drum dari ruang tengah rumah. Dan ternyata suara itu berasal dari Nakara yang ada di tempat pajangan. Bahkan Nakara itu memancarkan cahaya kuning keemasan di dalam gelap.

Saya kemudian mengambil Nakara itu dan suara drum berhenti. Namun suara itu muncul lagi ketika saya meletakkan benda itu di lemari. Akhirnya saya  mendekap replika itu dan membawanya ke kamarnya. Kejadian yang sama terjadi dimana Nakara terus memainkan musik jika diletakkan di atas meja atau dimana saja. Benda itu hanya bisa tenang di dalam pelukan saya.

Akhirnya Saya tertidur sambil memeluk Nakara.

“Teh Eni, Bangun!, tiba-tiba seorang gadis tidak dikenal membangun saya. Gadis itu dengan lembut mengajak saya pergi ke luar rumah dan kita berdua seakan-akan bisa melayang di udara. Dia tidak berbicara apa-apa dan kami berdua kemudian terbang di suatu kota yang tidak saya kenal.

Ada sebuah masjid berkubah emas yang sangat indah, dan di halamannya ada sebuah danau dengan perahu batu yang juga sangat indah. Dari sana kami berdua terbang lagi dan melihat sebuah sungai yang cukup ramai . Di sungai itu ada sebuah perkampungan yang ada di atas air, dan tidak jauh dari sana ada juga sebuah istana megah yang sangat indah dan luas.

Saya dan gadis itu kemudian melayang rendah di atas sungai sehingga bisa dengan jelas melihat penumpang yang ada di perahu sampai suatu ketika meluncur sebuah perahu yang penumpangnya hanya dua orang. Saya melihat Kang Azwar dan seorang gadis sedang duduk mesra di perahu. Anehnya gadis itu mirip sekali dengan gadis yang mengajak saya terbang melayang.

Saya marah besar dan gadis itu melepaskan pegangannya sehingga saya terjatuh ke sungai. Saya berteriak minta tolong dan kemudian terbangun bersamaan dengan suara azan dari mushola di dekat rumah. Namun Nakara itu sudah tidak ada dalam pelukan. Dia sudah kembali ke ruang tengah.

“Saya takut sekali. Lebih baik kita putus saja!”

Demikian Eni mengakhiri ceritanya dan kemudian pergi meninggalkan saya dan Nakara buah tangan dari Irma.

Nakara itu telah memakan korban kisah cinta saya dengan Eni. Apakah ini merupakan kutukan Nakara?

Bersambung