Now Loading

Kepala Laboratorium Sandra

Di kapal. Ran berpikir keras. Mereka memang membawa alat komunikasi. Tapi dia baru bisa menghubungi jika berada di anjungan. Tidak mungkin dia meninggalkan Cindy sendiri di dalam ruangan. Selain kondisinya yang belum jelas, juga karena serangan bisa datang sewaktu-waktu. Kepadanya atau Cindy.

Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Matahari rasanya sudah mulai tergelincir ke arah barat. Mereka seharusnya sudah kembali. Eksplorasi hanya bisa dilakukan di siang hari. Terlalu berbahaya untuk melakukan penyelidikan di pulau tak dikenal pada malam hari.

“Srrtt...srrttt.”

Sebuah suara mencurigakan terdengar lirih di ruangan sebelah klinik. Memang tadi Ran sempat melihat ada sebuah ruangan tertutup dekat kontrol panel mesin kapal. Dia tadi mengira itu adalah ruang panel yang lain. Lagipula dia dan Ben tak sempat untuk memeriksa lebih lanjut. Ruang itu terkunci.

Ran berjingkat. Perlahan-lahan. Mendekatkan telinganya pada pintu. Ada suara langkah kaki! Lirih tapi pasti.

Ran mundur. Mencoba mengamati keadaan sambil berpikir. Tak sengaja matanya terantuk pada sebuah benda kecil yang terpasang di sudut atas ruangan. Di keremangan. Tak terlihat jika tidak benar-benar diperhatikan. Wah! Itu kamera CCTV!

Ran buru-buru mengalihkan perhatian ke tempat lain. Hmm, berarti orang di dalam ruangan itu bisa memantauku dari tadi. Aku harus hati-hati. Ran berbalik badan. Berjalan menuju ruang mesin. Seolah-olah hendak memeriksa sesuatu di sana.

Setelah yakin lepas dari jangkauan CCTV, Ran memutuskan bersembunyi. Ini adalah permainan bertahan. Dia atau orang yang ada dalam ruangan itu yang sanggup bertahan untuk tidak bergerak terlebih dahulu dibanding yang lain.

Dan Ran memenangkan permainan! Pintu ruangan kecil itu perlahan-lahan membuka. Sepucuk senjata laras pendek lebih dahulu muncul sebelum akhirnya sesosok tubuh keluar dari pintu dengan waspada namun ragu-ragu. Ran terbelalak! Tepat saat sosok itu berdiri di bawah sinar lampu yang temaram beberapa depa dari pintu.

Sosok itu seorang perempuan cantik bertubuh tinggi dengan rambut panjang diikat ke belakang. Tubuhnya yang kurus dibalut jaket putih panjang hingga ke lutut. Ran terus memperhatikan. Tidak mau menyapa perempuan yang sekarang menengok ke kanan dan kiri. Tetap dengan senjata yang teracung. Siap ditembakkan.

Salah-salah menyapa, bisa saja perempuan itu meledakkan kepalanya karena terkejut atau takut. Ran akan menunggu waktu yang tepat. Ran menduga perempuan itu selama ini memang mengurung diri atau bersembunyi di ruangan itu. Semua nampak jelas dari wajah dan rambutnya yang kusut. Perempuan itu pasti jarang atau malah tidak pernah mandi.

Sambil menunggu saat yang tepat, Ran membatin. Mungkin perempuan itu salah satu awak kapal ini. Barangkali kalau melihat dari jaket putih panjang yang dikenakannya, perempuan itu pastilah seorang dokter atau peneliti di laboratorium.

Perempuan itu berhenti di bawah tangga. Sepertinya menimbang-nimbang apakah mau naik atau tidak. Dan memang tidak. Perempuan itu malah berbalik menuju ruang klinik tempat Cindy terbaring pingsan. Jantung Ran berdenyut cepat. Dia tidak tahu apakah perempuan itu berbahaya atau tidak. Hanya saja dari caranya memegang senjata, terlihat sama sekali tidak terlatih.

Ran bergerak. Mengendap-endap mendekati. Memanfaatkan suasana yang suram dan kelengahan perempuan itu. Tepat saat perempuan itu ternganga melihat sosok Cindy yang terbaring lemah setelah membuka pintu klinik, Ran bergerak cepat.

Dengan gerakan yang terlatih, Ran melumpuhkan perempuan itu sekaligus berhasil merebut senjatanya. Perempuan itu menjerit lirih saat Ran memiting lehernya.

“Bunuh saja aku! Aku tidak mau menuruti keinginanmu untuk merubah kode pembangkitan,” perempuan berkata dengan sangat lemah. Ran mengendorkan jepitan lengan kekarnya pada leher perempuan yang sepertinya kurang makan selama berhari-hari.

“Tenang..tenang. Aku tidak akan menyakitimu, ok?” Ran membujuk. Merasakan tubuh perempuan itu semakin lemas. Sama sekali tak berdaya. Rupanya perempuan itu sudah mencapai pada batas pertahanannya. Kali ini malah keluar sedu sedan dari dadanya. Ran membimbingnya duduk. Dekat Cindy.

Ran menatap perempuan cantik yang wajahnya pucat pasi itu dengan iba. Sebaliknya perempuan itu memandang Ran dengan tatapan kosong. Ran mengambil sebotol air di meja. Menyuruh perempuan itu minum untuk menenangkannya.

“Siapa namamu? Kenapa kau berada dalam ruangan itu dan berapa lama kau berada di situ?”

Perempuan itu menenggak habis sebotol air dengan cepat. Terlihat sekali sangat kehausan.

“Aku, namaku Sandra. Aku kepala laboratorium di kapal ini. Apakah kau..kau salah satu Fallen Genetic?”

Ran mengerutkan keningnya. Fallen Genetic? Apalagi ini?

“Aku rasa bukan. Kau tidak memakai seragam mereka dan sikapmu juga tidak seperti mereka,” perempuan itu menukas cepat setelah melihat keheranan Ran.

Ran mengangguk. Tertarik.

“Mereka. Fallen Genetic. Menyerang kapal ini. Bio Research Alpha. Banyak anak buah kapal yang tewas. Satu-satunya yang lolos adalah Kapten kapal ini, Dev. Awalnya aku juga tertangkap bersama beberapa orang yang lain. Tapi aku beruntung. Aku berhasil mengelabuhi penjagaku dengan membiusnya lalu aku lari dan bersembunyi di sini.”

Hmm, jadi perempuan ini orang penting Bio Research? Dan apa tadi? Kode pembangkitan?

“Aku Ran. Aku bersama teamku kami berjumlah 5 orang. Bukan Fallen Genetic dan juga bukan fallen fallen yang lain. Kami hanya tersesat dan akhirnya terlibat dengan dunia kalian yang aneh dan mengerikan.”

Sandra mengangguk lemah. Paham apa yang dimaksud Ran.

“Apakah gadis yang pingsan ini temanmu? Apakah dia sakit?” Sandra menunjuk Cindy yang masih terbujur pingsan di ranjang sempit.

Sebelum menjawab, Ran mendekati Cindy dan memegang tangannya. Memeriksa detak nadi. Astaga! Detak nadi Cindy cepat sekali! Dan tubuhnya terasa begitu dingin. Seperti es!

Sandra mendekat setelah melihat perubahan muka Ran. Kepala laboratorium ini ikut memeriksa detak nadi Cindy pada lehernya. Ran membiarkan. Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap Cindy.

“Waduh! Ini temanmu atau salah satu makhluk di laboratorium yang sudah bangkit?” Sandra bertanya cepat sembari terus memeriksa beberapa bagian tubuh Cindy. Termasuk membuka kelopak matanya yang masih menutup rapat. Sandra nyaris terlompat mundur melihat kelopak Cindy yang semerah darah.

“Dia...dia mirip sekali dengan Bidadari Kematian!” Sandra mendadak histeris.

Ran terhenyak kaget.

“Maksudmu?”

“Temanmu ini. Tanda-tanda vitalnya sangat mirip dengan Bidadari Kematian. Salah satu obyek penelitian kami dalam rekayasa hybrid dan genetika,” Sandra terlihat coba menenangkan dirinya. Tidak berhasil. Mukanya semakin pucat.

Ran kembali terhenyak.

“Namanya Cindy. Dia mengalami proses transformasi yang aneh dan tak terduga semenjak terkena duri dari semacam tumbuhan perdu,” Ran menjelaskan. Kebingungan harus memulai dari mana.

Sandra menampakkan keterkejutan yang teramat sangat.

“Maksudmu tumbuhan perdu di Pulau Tulang Belulang yang banyak terdapat di bukit Sungai Raksasa?”

“Itu namanya tumbuhan Cicuta. Duri-durinya sangat beracun. Sebenarnya mematikan. Tapi untuk individu tertentu tidak. Hanya saja akan memicu perubahan genetisnya. Sebuah mutasi! Kami mengembangkan proyek kami salah satunya dengan Cicuta.” Sandra menjelaskan. Agak tergesa dan nampak begitu khawatir.

Ran percaya. Sandra adalah kepala laboratorium kapal riset canggih ini. Siapa lagi yang lebih tahu tentang hal ini selain dia?

“Lalu apa yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan Cindy?”

Sandra menggeleng tegas,”tidak ada! Tapi aku bisa mencegahnya agar pikirannya tidak dikuasai oleh efek racun itu. Kita harus membawanya ke laboratorium. Segera! Dia ini sedang bertransformasi menjadi pembunuh yang sangat berbahaya!”

Ran tercengang mendengar penjelasan Sandra. Pembunuh? Kehilangan kendali pikiran? Pantas saja Cindy terlihat akan menyakiti Ben dan Tet saat kejadian tadi dengan Pasukan Kematian. Duh!

Ran buru-buru bergerak untuk membopong Cindy ke laboratorium sesuai perintah Sandra persis ketika tubuh Cindy mendadak kejang-kejang. Sandra menyaksikan Cindy hendak siuman, berlari keluar dengan cepat. Ran tidak berusaha mencegah. Fokusnya pada Cindy yang terus saja kejang-kejang. Ran meraba tubuh Cindy. Panas sekali!

Luar biasa. Perubahan yang ekstrim sekali. Tadi sangat dingin dan sekarang sangat panas.

Ran hendak mengambil kompres peredam panas saat Cindy tiba-tiba melompat bangun. Gadis itu siuman. Dan sekarang berdiri menatap Ran dengan mukanya yang memutih pucat namun matanya merah mengancam. Ran mundur ke belakang. Tangan Cindy berubah lagi seperti cakar elang. Terangkat dan hendak menyerang Ran yang memandang dengan ngeri.

Sesaat sebelum Cindy menancapkan kuku jarinya ke leher Ran, terdengar desir halus dari arah belakang Ran. Tubuh Cindy menegang. Lalu melemas dan kembali jatuh pingsan.

Ran mengusap keringat dingin yang mengaliri tengkuknya. Nyaris saja! dia menoleh dan melihat Sandra gemetar sambil memegang senapan bius di tangannya.

“Cepat Ran! Jangan buang waktu lagi! Efek dari obat bius itu tak akan lama bagi gadis sekuat Cindy. Bawa dia ke laboratorium. Kita letakkan dia di dalam tabung Cryo untuk sementara. Aku akan memeriksanya,” Sandra berkata. Masih dengan gemetar. Pikirannya berkecamuk.

Cindy adalah mutasi asli yang tidak direkayasa. Ini penemuan yang lebih dari luar biasa!

----
Bersambung ke bab Kedatangan Bidadari Kematian