Now Loading

Bayang-Bayang Laili

Akhirnya Empat Sekawan kembali ke tanah air setelah dua minggu mengembara di Negara Brunei Darussalam. Sebuah perjalanan yang sangat menakjubkan untuk kami berempat. Sebuah pengalaman yang akan sulit dilupakan.

Saya, sebagai yang paling senior dari segi usia juga merasa beruntung sempat menginjakkan kaki di negeri ini. Setidaknya semangat saya menjadi terpacu karena mengenal Laili. Gadis yang masih berusia belasan tahun.  Gadis yang pada saat-saat terakhir di Brunei sempat masuk ke relung hati saya. Walau pada saat yang bersamaan saya juga rindu dengan Dita istriku serta ketiga anak kami: Si kembar Sella dan Selly yang sudah berusia 6 tahun serta si bungsu Sully yang baru berusia 3 tahun.

Pesawat Royal Brunei mendarat mulus di Bandara Soekarno-hatta. Suasana akhir tahun 1997 di antara Natal dan tahun baru 1998 cukup meriah walau perekonomian Indonesia dalam keadaan kurang baik.

Sebelum kami berempat berpisah di bandara,  Asep, yang merupakan asisten manajer di kantor memberi sedikit arahan, bahwa kita senua mendapat libur dua hari sebelum masuk ke kantor lagi, kecuali  Azwar yang mengajukan cuti dua hari lagi tambahan untuk menyambangi keluarga serta sang pacar di Bandung. 

Di bandara kita berpisah, masing-masing pulang ke rumah atau tempat kos. Saya juga langsung ke rumah di kawasan Depok.
Sebenarnya saya bertekad untuk melupakan  apa yang terjadi di Brunei dan menyimpannya dalam album kenangan saja. Saya harus bisa kembali utuh ke keluarga.

Dalam perjalanan ke rumah dengan taksi, wajah Dita dan anak-anak terus terbayang. Namun bayangan itu sekali-kali diselipi juga oleh wajah Laili.

Walau saya mencoba untuk melupakan Laili, namun bayangan dan harapan akan adanya tugas lanjutan dalam waktu beberapa bulan ke depan ke Brunei terus membuat lamunan akan Laili tidak pernah hilang. Bahkan berbagai skenario kisah lanjutan sudah ada dalam benak saya seakan-akan seorang penulis cerita. Asyiknya semua berakhir manis untuk hubungan saya dan Laili.

“Yang mana rumahnya pak?” tanya sopir taksi membuyarkan lamunan saya.

Tidak lama lagi saya sudah akan sampai di rumah. Kenangan tentang Laili dan Brunei harus dihapus. Begitu tekad saya ketika taksi berhenti di depan rumah.

Pertemuan dengan orang-orang yang saya cintai memang sangat membahagiakan. Sejenak bayang-bayang Laili lenyap dari benak saya . 

Sayangnya  tidak bisa bertahan terlalu lama, bayang-bayang Laili, ternyata  tidak mudah lepas dari ingatan. Bahkan pada malam pertama di rumah, saya  sudah bermimpi terbang kembali ke Bandar Seri Begawan dan bertemu Laili di masjid perahu.

Ternyata bayang-bayang Laili terus mengejarku sampai berminggu dan berbulan lamanya, walau tahun telah berganti.

1998 telah menjelang.

Bersambung