Now Loading

Eksplorasi Pulau Tengkorak

“Kapten, dengarkan 2 hal ini. Kau hanya cukup mendengarkan. Setelah itu segera laksanakan. Kau telah menghanguskan 80 juta dollar dalam tempo tak lebih dari 15 menit. Aku sementara paham karena kau berhasil mengambil Bidadari Kematian sesuai perintahku. Sekarang ada 2 pilihan. Ambil alih Bio Research Alpha atau musnahkan. Aktifkan Bidadari Kematian dan perintahkan dia melakukan 2 pilihan itu. Paham?!”

“Jangan lupa! Terus mata-matai kapal itu menggunakan shuttle submarine kita. Aku yakin mereka tidak menyadari ada mata dan telinga kita di seputar mereka.”

“Dan gadis itu. Gadis yang telah membunuh salah satu dari Pasukan Kematian. Tangkap dia hidup-hidup. Ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Kita harus menelitinya. Namai dia dengan Project X.”

Penjelasan dan perintah panjang lebar itu seperti jarum tajam yang langsung ditusukkan ke gendang telinga sang Kapten. Tidak bisa dibantah selain mengatakan, baik Lady Boss saya akan laksanakan.

Sang Kapten yang ber tag name Dev di dadanya itu mengelus kepalanya yang botak. Lady Boss orang paling menakutkan yang pernah dia kenal. Nyaris saja dulu dia mendapatkan hukuman mengerikan karena tidak keburu membawa Bio Research Alpha keluar pulau Tulang Belulang setelah menyelesaikan riset dan keburu diserang oleh Fallen Genetic, saingan terberat Bio Research dalam hal rekayasa genetika untuk keperluan tempur. Untunglah dia masih diampuni karena berhasil menyembunyikan kapal.

Kapten Dev selamat tapi hampir semua anak buahnya tewas dalam pertempuran singkat melawan pasukan khusus Fallen Genetic di tepian sungai Lava. Beberapa yang selamat disandera dan ditahan entah di mana. Termasuk chief Bock dan kepala lab Sandra.

Kapten Dev mengusap dahinya. Menatap lurus ke tabung cryo Bidadari Kematian di hadapannya. Ada ancaman tersirat pada nada Lady Boss tadi. Kapten Dev tahu persis itu. Harapannya sekarang bergantung pada gadis yang masih terbujur beku di depannya. Masih butuh waktu 15 menit lagi untuk mengaktifkan Bidadari Kematian. Dia akan membuat rencana penyerbuan yang matang bersama anak buahnya.

Kapten Dev beranjak menuju anjungan.

----

Ben membaringkan Cindy di tempat tidur lipat ruang kemudi. Perubahan demi perubahan gadis ini membuat dia ngeri. Yang lain juga. Tapi bagaimanapun Cindy adalah anggota team. Mereka bertanggung jawab untuk menyelamatkannya. Semengerikan apapun dia.

Ran memeriksa kondisi vital Cindy. Tidak ada yang aneh. Nafasnya teratur. Denyut nadinya normal. Bahkan jari-jari tangannya yang serupa cakar elang juga sudah pulih seperti sedia kala. Pada situasi apa sebenarnya gadis ini berubah ganas seperti tadi? Ran masih tak habis pikir.

Mereka tidak boleh terpekur merenungi nasib begitu saja. Harus ada yang dilakukan. Tidak mungkin juga mereka terus berdiam di kapal ini. Itu namanya bunuh diri. Orang-orang Bio Research telah menandai lokasi. Kapan saja mereka bisa menyerbu. Apalagi perisai listrik sudah mati. Ran berpikir keras.

“Ben, coba kau cari adakah di kapal ini ruang yang bisa bersembunyi sementara dengan aman. Kalau sudah ditemukan, tolong kau jaga Cindy. Aku, Tet dan Rabat akan mengeksplorasi pulau ini dengan cepat untuk menemukan lokasi yang cocok buat kita. Kapal ini sama sekali tidak aman bagi kita jika kita mencoba survive di tempat ini.”

Semula Ben ragu. Berdua dengan Cindy? Gadis ini tadi bahkan berusaha memenggal kepalanya. Hiiihh.

Ran paham jalan pikiran Ben. Team leader ini menoleh ke rekan-rekannya yang lain. Ben dan Tet sepertinya masih trauma dan ketakutan dengan perubahan Cindy. Atau barangkalai sebaiknya?

“Oke. Aku akan menjaga Cindy. Ben, kau tetap cari ruang atau apapun di kapal ini yang paling tersembunyi. Setelah itu kau, Tet dan Rabat segera eksplorasi pulau ini.”

Semuanya bernafas lega mendengar perubahan perintah Ran. Ben bergegas mengikuti perintah Ran. Sementara Tet dan Rabat menyiapkan segala perbekalan untuk eksplorasi.

Ran kembali memeriksa Cindy. Dia dan Rabat tadi hanya sempat menyaksikan dari monitor betapa ganasnya Cindy saat memenggal salah satu Pasukan Kematian. Saat melakukannya Cindy seperti seorang yang trance atau kerasukan. Cindy berubah menjadi seorang yang mempunyai kemampuan menakutkan. Bagi siapa saja. Karena Ran juga sempat memperhatikan gerak mengancam Cindy kepada Ben dan Tet sebelum akhirnya pingsan.

Ran merasa sangat prihatin dengan kondisi Cindy.

----

Ben menemukan sebuah ruangan yang menurutnya cukup aman. Di palka paling bawah ada sebuah ruang klinik kecil yang pintunya bisa dikunci dari dalam. Ruang klinik itu sepertinya hanya dipergunakan untuk awak kapal biasa. Bukan untuk staf atau orang penting kapal yang mempunyai klnik lebih besar dan mewah di sebelah laboratorium. Karena itulah letaknya ada di palka paling bawah. Dekat dengan ruang mesin.

Ran dan Ben menggotong tubuh Cindy ke klinik tersebut. Ben meninggalkan Ran yang berjaga di luar ruangan. Ran meminta Ben membawa senjata laser satu-satunya yang ada. Mereka akan melakukan eksplorasi di sebuah pulau tak dikenal dengan nama yang cukup mengerikan. Pulau Tengkorak. Oleh karena itu tidak ada salahnya mereka membawa senjata itu.

Ben sudah mempelajari bahwa jalan satu-satunya untuk menaiki daratan adalah dengan keluar menggunakan sekoci. Tidak ada jalan lain. Oleh karena itu mereka menurunkan sekoci kecil yang ada. Tiga orang yang kelelahan itu segera menaiki sekoci dan mulai mendayung keluar dari gua raksasa itu.

Air laut sedang tenang. Ben dan kawan-kawan tidak mau terburu-buru. Mereka sekalian menghafalkan jalan keluar terbaik. Jika saja suatu saat nanti dibutuhkan pada saat emergency.
Rupanya tidak jauh di samping belakang gua terdapat pantai yang landai. Dengan semangat berlipat, Ben dan kawan-kawan mendaratkan sekoci. Menyeretnya agak jauh dari pantai. Ditakutkan saat ombak pasang, sekoci itu akan terseret ke tengah.

Ben, Tet, dan Rabat berdiri berjajar memandang hamparan pulau di hadapan mereka. Nampak belantara hijau yang sangat lebat membentang seolah tanpa putus. Bahkan saking tua dan rapatnya belantara itu terlihat menghitam. Cantik tapi misterius.

Cukup lama ketiganya termangu takjub. Pulau ini bernama Pulau Tengkorak. Tapi sama sekali tidak ada kesan apapun yang mengindikasikan keseraman namanya. Atau belum?

Ketiga sekawan ini memutuskan berjalan. Tugas mereka adalah mencari tempat yang baik dan aman serta menjauh dari kapal yang sekarang menjadi tempat paling berbahaya bagi mereka.

Mereka baru merasakan aura yang berbeda dari hutan belantara ini setelah memasukinya. Lantai hutan begitu gelap dan lembab karena cahaya matahari kesulitan untuk menerobos masuk melalui celah tajuknya yang sangat rapat. Mereka seolah berada dalam dunia yang begitu suram. Membuat segalanya menjadi muram.

Ketiganya terus berjalan menembus kelebatan hutan. Agar bisa kembali dan tidak tersesat, Tet menandai jejak datang mereka dengan cat semprot berwarna terang di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Semakin jauh mereka berjalan yang ditemui hanyalah hutan lebat dan rapat. Bahkan pada satu kesempatan mereka tidak berhasil menembusnya. Terhadang oleh sulur-sulur semacam rotan yang saling mengikat sampai tidak ada celah untuk lewat. Kecuali barangkali untuk binatang kecil sebesar anjing pudel atau kelinci. Terpaksa mereka berputar menghindar.

Pada saat itulah mereka dikejutkan dengan sebuah kejadian yang sama sekali tak disangka-sangka.

Seekor kelinci yang terkejut dengan kemunculan manusia di hutan ini langsung saja melompat lari ketakutan. Kelinci itu mengerahkan segenap kekuatan larinya untuk menghidari Ben dan kawan-kawannya, secepatnya.

Kelinci itu tanpa sadar berlari kencang ke arah sulur-sulur rapat yang tadi menghalangi jalan. Tentu saja akan cukup lubang-lubang yang ada di antara ikatan sulur itu untuk diterobos.

“Brrttt...sluurrpp”

Ketiga kawanan yang mengikuti dengan geli bagaimana kelinci itu lintang pukang berlari, terbelalak hebat! Sulur-sulur itu bergerak hidup menangkap kelinci yang ketakutan dan berusaha melewati lubang.

Lalu yang lebih mengerikan lagi terjadi! Kelinci yang meronta-ronta dari jeratan sulur itu terdiam seketika saat dari atas menyambar semacam bunga sebesar tempayan dan menyedotnya hingga habis!

Kontan 3 orang ini memundurkan tubuh mereka menjauh. Sulur-sulur tadi seperti sulur rotan biasa. tapi mempunyai semacam kepala tanaman. Hidup dan lapar!

Tanpa berunding lagi ketiga sekawan ini balik kanan. Ini berbahaya. Hutan ini menyimpan bahaya kejutan yang tak diduga. Mereka tidak tahu apalagi yang menunggu di antara pepohonan atau liana. Mungkin lebih baik mereka keluar hutan lalu memutari pinggirannya terlebih dahulu.

Kali ini tingkat kewaspadaan mereka pada level tertinggi. Mereka tidak mempunyai kompas. Jadi mereka akan mengandalkan semprotan Tet yang menjadikan tanda pada pohon untuk petunjuk arah mereka kembali. Hutan ini sangat rapat dan membingungkan.

Lagi-lagi mereka terpaku diam! Semua tanda berupa cat berwarna mencolok tadi telah lenyap! Begitu saja. Seolah semua pohon dengan sengaja menghapusnya agar mereka kehilangan jejak. Bahkan semak-semak kecil yang tadinya baru saja mereka terabas untuk lewat telah menutup kembali seperti semula.

Ketiganya memucat. Mereka terjebak. Hutan itu hidup dan sekarang memerangkap mereka di dalamnya. Menunggu mereka lengah sebelum akhirnya bisa dimangsa.

----

Bersambung ke bab Kepala Laboratorium Sandra