Now Loading

Nakara dan Gendang Labik

Dalam perjalanan ke lapangan terbang, Saya dan Eko terus terdiam. Saya terus memikirkan Irma , namun saya tidak tahu apakah Eko juga terus memikirkan Noor.

Dalam hal asmara, nasib kami berdua mungkin mirip karena mendapat surat kembar dalam amplop merah muda dan oranye semalam.

Setibanya di lapangan terbang, tidak usah menunggu terlalu lama bagi saya dan Eko untuk melihat mimpi menjadi kenyataan. Ternyata Irma dan Noor bukan hanya berjanji dalam surat. Mereka benar-benar datang bagaikan sepasang bidadari turun dari kahyangan.

Ketika Irma dan Noor memanggil saya dan Eko, bintang-bintang seakan-akan begitu dekat untuk kami raih. Sekan-akan hidup ini penuh semangat walau di dalam hati saya tetap bersedih karena akan meninggalkan Brunei. Dan tidak tahu kapan akan kembali lagi.

Irma segera mendekati saya dan kita hanya saling menggangguk menjaga jarak sementara mata saling memandang mesra. Kami sadar bahwa ini Brunei dan di lapangan terbang banyak orang ramai. Walau hati ingin memeluk, apa daya tangan tak bergerak. Demikianlah pepatah yag cocok buat saya dan mungkin juga Eko.

“Bang Azwar, Irma datang untuk mengucapkan selamat jalan dan selamat pulang untuk Abang”

Saya hanya tersenyum kecil dan mengatakan bahwa saya dan teman-teman pasti akan kembali lagi. Program kerja kita belum selesai, karena dua minggu ini barulah tahap permulaan.

Irma segera memberikan sebuah benda yang dibungkus dalam kertas kado warna biru muda dengan pita warna merah.

“Ini buah tangan untuk Abang. Simpanlah selalu sebagai ganti diri saya” kata Irma.

“Buka lah bungkusnya dan lihatlah isinya”

Saya segera membuka pita dan bungkus hadiah itu. Di dalamnya ada sebuah alat musik kecil mirip drum dengan warna keemasan.

‘Apa ini Irma?” tanya saya drum kah?

“Ya. Ini di Brunei namanya Nakara. Ini alat musik tradisional sejenis drum. Kalau Abang mau lihat yang asli ada di Royal Regalia Museum. Ini hanya replikanya”.

“Kalau Abang rindu akan Irma, coba tabuh Nakara ini, nanti Irma akan datang dalam mimpi Abang”, tambah Irma lagi sambil tersenyum kecil, namun air matanya menetes tanpa disadari.

Saya dan Imra terus berbicara panjang lebar tentang hal-hal yang bisa dilakukan berdua nanti kalau saya kembali lagi ke Brunei. Walau hati sedih, Saya terus berusaha menghibur Irma dengan janji dan harapan. Sesekali , saya juga bercerita hal-hal yang lucu sehingga Irma tertawa riang dan melupakan sejenak kesedihannya.

Tidak terasa, sudah lebih 30 menit kita bertemu dan tibalah waktunya buat saya dan teman-teman untuk masuk ke terminal, melewati pemeriksaan imigrasi, sekuriti dan terus ke pesawat.

‘Selamat Tinggal Irma, Jaga dirimu baik-baik. Abang janji pasti akan datang lagi tahun depan”

“Selamat jalan Abang:” jawab Irma setengah terisak.

Irma dan Noor kemudian meninggalkan saya dan Eko. Serta kami berdua disusul oleh Bang Zai dan Asep segera antre menuju ke imigrasi.

Ketika menunggu untuk naik ke pesawat, saya menunujukkan nakara yang dihadiahkan Irma, Eko kemudian membuka tasnya dan menunjukkan sebuah replika berbentuk gendang kembar.

“Ini namanya Gendang Labik, ini juga merupakan alat musik tradisional Brunei yang aslinya ada di Royal Regalia.”

Siapa sangka , hadiah dari Irma dan Noor sangat unik dan berkesan. Saya tidak tahu apakah Noor juga berpesan ke Eko bahwa kalau Eko rindu bisa menabuh gendang tersebut agar Noor datang dalam mimpinya.

Bersambung