Now Loading

Setengah Hatiku Tertinggal di Brunei

Kendaraan yang menjemput empat sekawan tiba di Lapangan Terbang Antar Bangsa Brunei di Berakas. Kami berempat langsung turun, menurunkan koper dan barang bawaan lalu meletakkannya di trolley. Saya dan teman-teman juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pak Man, Supir yang sering antar jemput kami selama di Brunei. Pak Man ini orang Indonesia yang kebetulan berasal dari Jawa Tengah.

Setelah cek ini, dan karena masih punya banyak waktu sebelum take-off, saya berjalan sendiri ke luar gedung terminal dan mencari tempat untuk merokok. Sementara di terminal saya melihat Azwar dan Eko sudah didatangi oleh Irma dan Noor yang sibuk mengucapkan selamat inggal. Saya sendiri tidak melihat Asep, Mungkin dia sedih karena Laila tidak datang.

“Bang Zai, Apa khabar”, suara merdu seorang perempuan menegur saya.

“Maaf, Siapa yah?” jawab saya sambil memperhatikan perempuan berusia sekitar sembilan belas atau duapuluh tahun ini. Penampilannya biasa-biasa saja sebagaimana perempuan muda di Brunei. Uniknya hampir semua pakaiannya dari kepala hingga kaki berwarna biru muda.

Saya juga heran mengapa perempuan ini langsung tahu nama saya. Tetapi kejadian aneh memang sudah sering saya alami selama dua minggu di negri Sultan Bolkiah ini,

“Saya Laili, Saya ada titipan dari kakak saya, Laila, untuk Bang Asep”,

“Kenapa tidak langsung titip ke Asep?”,

“Ini sesuai pesan dari Kak Laila, Nanti juga bilang ke Asep kalau yang membawa surat ini adalah Irma dan bukan saya”

Wah, saya sudah disuruh sedikit berbohong, kata saya dalam hati. Tetapi tidak apalah. Kalau dilihat-lihat gadis ini juga lumayan cantik.

“Kenapa Kak Laila tidak datang ke Lapangan Terbang?”

“Tak tahulah saya, mungkin dia sedang banyak kesibukan”

Tidak terasa kami berdua mulai terlibat dalam percakapan yang lumayan mengasyikan. Walau masih usia muda, Laili ternyata gadis yang menarik dan lumayan luas wawasannya.

Yang membuat saya makin tertarik adalah sikap dan pembawaannya yang selalu ceria, riang, dan suka bergurau. Baru dalam pertemuan pertama, saya sudah akrab dengan Laili. Dia pandai menarik hatiku walau perbedaan usia dengan saya lebih dua belas tahun.

“Abang sudah punya anak berapa?” Pertanyaan yang tiba-tiba ini membuat saya sadar bahwa saya mungkin sudah tidak pantas lagi mendekati perempuan muda seperti Laili.

“Saya ada tiga anak, semuanya perempuan”, kata saya sambil tersenyum manis.

“Laili sudah punya pacar kah?”, tanya saya tiba-tiba.

Sontak rona wajah Laili memerah malu.

“Belum Bang, belum ada yang mau. Juga belum ada yang nyangkut di hati. kata Laili sedikit manja.

“Kalau begitu dengan abang saja, kan tidak apa punya bini dua”,  saya  mulai menggoda.

“Boleh saja, asal mas kawinnya besar bak perahu mahligai dan bapak saya mengizinkan”,

Laili tidak mau kalah menggoda saya.

Sejenak saya tertawa dan melihat Asep sedang berdiri di toko buku melihat-lihat majalah. Saya izin ke Laili untuk memberikan surat kepada Asep dahulu.

“Asep, ini ada surat untuk kamu”, kata saya sambil kemudian menyampaikan pesan dari Laili bahwa surat ini dititipkan melalui Irma. Saya segera kembali mendekati Laili dan melanjutkan obrolan sambil sesekali melihat di kejauhan apakah Azwar dan Eko sudah selesai acaranya dengan Irma dan Noor.

Makin lama bicara, Laili makin mengasyikan. Mengapa tiba-tiba saja saya jadi tertarik dengan gadis ini?

Tidak terasa sudah lebih 30 menit kita berbicara sambil berdiri saja. Laili akhirmya mohon diri dengan alasan tidak boleh lama-lama pergi.

“Selamat jalan Bang Zai, Sampai jumpa lagi nanti”.

Laily berjalan menjauh menuju ke lantai bawah ke terminal kedatangan dan menghilang di keramaian orang-orang di lapangan terbang.

Tibalah waktunya buat kami berempat untuk masuk melewati imigrasi dan sekuriti.

Tidak lama kemudian, pesawat Royal Brunei lepas landas dan terbang menuju Jakarta.

Walau hati gembira, tetapi tidak seperti biasanya, kali ini ada sebagian hatiku yang tertinggal di Brunei.

Bersambung