Now Loading

Surat Cinta Dari Laila

Akhirnya, tibalah saat Empat Sekawan meninggalkan kota Bandar Seri Begawan untuk kembali ke Jakarta.

Sekitar jam 2.30 siang kendaran yang menjemput sudah tiba di hotel dan dalam waktu hanya sekitar 30 menit kami sudah ada di lapangan terbang,

Begitu sampai di terminal keberangkatan, saya langsung melihat ke sekeliling. Saya mencari Laila atau Irma dan Noor yang telah berjanji untuk melepas Azwar dan Eko. Kami berempat kemudian cek in sehingga boarding pas sudah di tangan.Tinggal masuk melalui pemeriksaan Imigrasi dan sekuriti sebelum ke boarding ke pesawat. Namun waktu lepas landas masih sekitar dua jam lagi sehingga kami tidak perlu buru-buru masuk ke imigrasi.

“Bang Azwar, Bang Eko”, tiba-tiba saja dua perempuan berteriak memanggil-manggil. Rupanya Irma dan Noor sudah hadir di lapangan terbang sesuai janji mereka.

Tidak melihat Laila, Saya segera menjauh dari Eko dan Azwar serta melihat-lihat di sebuah toko majalah dan buku sambil sesekali memperhatikan dua pasangan tersebut dengan hati sedikit iri. Kemana Laila? Mengapa dia tidak belum datang juga.

‘Asep, ini ada surat untuk kamu”, Bang Zai datang dan memberikan sepucuk amplop kecil berwarna putih.

“Tadi Irma yang menitipkan ke saya, Surat ini dari Laila” tambah bang Zai lagi.

Bang Zai segera pergi menjauh dan saya segera membuka surat itu. Membacanya sambil pura-pura melihat-lihat buku di toko itu.

“Bang Asep yang tersayang.

Maafkan Lalia tidak bisa melepas abang di lapangan terbang seperti Irma dan Noor. Sebenarnya Laila pun ingin berada dekat abang sebelum kita berpisah dalam waktu yang cukup lama nanti.

Laila pun belum tahu kapan abang akan ke Brunei lagi. Tetapi Laila yakin bahwa garis hidup kita masih akan bersinggungan dan pertemuan singkat kita kemarin dan hari-hari sebelumnya akan selalu menjadi momen indah yang selalu patut dikenang.

Laila yakin, walau abang akan pulang nanti ke Indonesia, Abang tidak akan melupakan Laila.

Laila tahu bahwa pertemuan kita di masa datang pasti akan terjadi lagi walau tidak akan berjalan mulus tanpa rintangan. Namun Laila akan berusaha untuk merebut dan menggapai cinta Laila.

Mungkin masih banyak pertanyaan dan teka-teki dalam hati abang akan jati diri Laila dan akan seperti apa hubungan kita nanti. Namun yakinlah bahwa semuanya akan dapat kita lalui bersama. Semua rintangan betapa pun beratnya akan mampu kita lewati.

Sejujurnya, masih banyak fakta yang akan Laila beberkan untuk abang, namun demi kebaikan kita semua, biarlah hal itu akan terkuak nanti pada perjumpaan kita selanjutnya.

Apa yang sudah abang ketahui tentang Laila memang masih sangat sedikit. Bersamaan dengan bergulirnya waktu,  kalau nasib memang akan mempertemukan kita, abang akan tahu semuanya.

Jagalah baik-baik keris yang Laila hadiahkan untuk abang kemarin. Kalau abang rindu anggaplah keris itu sebagai pengganti diri Laila. Peluklah keris itu erat-erat.

Teriring rindu dendam Laila untuk Abang seorang

BSB, 28 Desember 1997

Saya menutup surat itu dan kemudian melipatnya  kembali dengan rapi serta memasukkannya  ke dalam amplopnya. Hati saya sendiri belum dapat mencerna dengan sempurna apa yang sesungguhnya telah terjadi dalam pertemuan kami yang begitu singkat dalam waktu kurang dari dua minggu ini.

Sejak perjumpaan awal penuh misteri di perahu mahligai, hingga tamasya sejenak siang kemarin di Sungai Brunei.

Namun yang harus saya akui, bahwa hati saya memang sudah dicuri oleh Lalia. Gadis misterius nan cantik dari Brunei.

Dan saya berjanji, kalau memang ramalan perempuan tua itu benar, saya akan kembali lagi ke Brunei dan menjadikan negeri ini kampung saya yang kedua. Salah satunya adalah untuk mewujudkan cinta saya buat Laila.

“Asep, ayo kita masuk ke terminal”, kata bang Zai. Saya melihat Azwar dan Eko juga sudah bersiap-siap untuk antre melewati pemeriksaan imigrasi sementara Irma dan Noor sudah pergi meninggalkan kami berempat sambil melambaikan tangan.

Selamat tinggal Brunei, semoga kita berjumpa lagi

Bersambung