Now Loading

Pesan dari Masa Lampau

“Eko, Saya pergi menelpon dulu ke Kantor Pos”,

Bang Zai pamit ketika saya sedang asyik bersantai di kamar sambil nonton RTB 1 dan menyeruput kopi ditemani remah-remah kue cincin.

“Baik Bang Zai, Salam buat Mpok dan anak-anak di rumah” tambah saya lagi. Sambil mata terus memandang TV.

Sudah satu jam Bang Zai pergi, tetapi belum juga kembali ke hotel. Saya sedikit khawatir karena kalau hanya menelepon plus jalan pulang pergi ke Kantor Pos, mestinya hanya sekitar setengah jam saja.

Saya segera meninggalkan hotel dengan tujuan menyusul ke Kantor Pos. Saya keluar hotel dan belok kiri di Jalan Pemancha.

Suasana kota BSB sangat sepi malam itu dan langit sedikit berawan. Tiba-tiba saja muncul seorang lelaki tua berpakaian tradisional Melayu menegur saya.

“Nak Eko, mau kemana, ayo ikut Bapak sebentar”

Saya merasa heran bagaimana lelaki tua ini bisa tahu nama saya. Saya perhatikan sepintas wajahnya. Saya taksir usianya sekitar enam atau tujuh puluh tahunan. Posturnya gagah, dan berkumis lumayan tebal. Ketika saya memandang wajahnya, tatapan matanya sangat tajam menusuk. Saya seakan-akan terhipnotis oleh pandangan mata itu. Tubuh saya sedikut lemas dan hanya bisa mengikuti kemauannya.

Dia menggandeng tangan saya dan bukannya menuju ke arah kantor pos, melainkan belok kiri di Lorong Bebatik. Sesampainya di Jalan Cator, belok kiri lagi  ke arah terminal dan kemudian terus ke Tamu Kianggeh.

Kami menuju ke tepian Sungai Kianggeh dan sebuah perahu sudah siap disana.

"Ayo naik", kata lelaki tua itu.
Dan Saya bagai tersihir hanya ikut aja.

Di atas perahu itu lelaki tua bercerita:

“Inilah Sungai Kianggeh. Sungai ini merupakan anak Sungai Brunei dimana terletak Kampong Ayer dan Istana Nurul Iman. Kalau kita berlayar terus ke timur laut, kita akan sampai di Teluk Brunei dan terus ke laut lepas, Laut Tiongkok Selatan”, begitu Pak Tua memulai cerita.

Perahu kemudian berlayar menuju ke Sungai Brunei dan terus ke Timur Laut. Walau pada awalnya suasana malam, namun ketika tiba di laut lepas, Saya dapat melihat sinar mentari sudah mulai terbit di ufuk timur. Perahu terus berlayar dan sampai ke Sabah.

“Dari sini, kalau kita berlayar terus, kita akan sampai ke ke Sandakan dan akan bertemu dengan muara Sungai Kinabatangan. Disanalah asal saya dan bahkan nenek moyang saya berasal dari tanah sebrang, dari kesultanan Sulu di Filipina, demikian lanjut pak tua tadi”.

Saya sendiri merasa bagai melayang setengah sadar dalam pelayaran itu, perahu berlayar begitu cepat dan pak tua juga bercerita bahwa dia adalah leluhur Noor yang saya kenal siang tadi di Muzium Brunei.

“Ayo kita balik ke Brunei”, demikian kata kakek tersebut dan saya sendiri sudah mulai tertidur terbuai hembusan angin Laut Cina Selatan ketika perahu berbalik arah,

Tiba-tiba saja saya merasa guyuran air menetes di kepala. Hujan rintik-rintik membangunkan saya. Dimanakah saya? Seingatv saya tadi masih berlayar di Laut Cina Selatan dengan tujuan kembali ke Brunei.

Ternyata saya tertidur sambil bersandar di tepian pagar sungai Kianggeh, sementara lelaki tua yang mengajak saya sudah tidak ada. Saya melirik jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Saya tidak tahu apakah raga saya tadi benar-benar berlayar ataukah hanya mimpi ketika sukma saya yang melayang-layang diajak berwisata sampai ke Sabah.

Saya segera berlari menyebrang jalan menuju langsung ke jalan Pemancha dan kembali ke Brunei Hotel. Hujan rintik berubah kian lebat membasahi Bandar Seri Begawan.

Sesampainya di kamar, saya melihat Bang Zai sudah tidur pulas. Suara dengkurannya yang halus membuat saya tidak berani membangunkannya dan bertanya kemana saja dia tadi. Saya juga belum siap jika ditanya kemana saja saya pergi.

Biarlah kisah ini sementara saya simpan dulu.

Bagi saya ini adalah sebuah pesan dari masa lampau.

Bersambung