Now Loading

Bab 5

Perairan Arctic, 64° 37′ 10″ N, 19° 10′ 20″ W
Kapal Hantaa 01


Kapten Shinji Akira memegang teropongnya erat-erat. Sudah 2 hari mereka terombang-ambing di lautan Arctic tanpa melihat satu kapalpun melintas untuk dimintai bantuan.

Persediaan logistik masih bisa untuk sebulan lagi. Solar juga lebih dari cukup untuk menghidupkan generator listrik selama 2 bulan. Yang menjadi masalah adalah jika mereka terdampar, menabrak karang, atau dihantam badai dan gelombang besar. Mereka tak akan bisa bertahan bahkan hanya untuk beberapa jam.

Pintu ke ruang mesin dan lambung sudah disekat total. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan membukanya. Ruangan-ruangan tersebut dipenuhi air. Kapten Shinji juga membanjiri palka haluan dan memenuhinya dengan air agar kapal tetap seimbang.

"Maaf Kapten, ada ada usulan dari para awak kapal mengenai 1 hal penting. Tentang budaya kita sebagai orang Jepang. Maaf,”Yoshido membungkukkan tubuh di hadapan Kapten Shinji Akira dengan takzim.

Kapten Shinji menghela nafas. Dia sebenarnya juga berpikir hal yang sama meski Yoshido belum menyampaikan maksudnya.

"Aku tahu apa yang kau maksud Yoshido san. Ini antara rasionalitas dan romantisme. Kalau kita membuka pintu untuk mengambil jenazah dan mengadakan upacara penguburan pelaut, apakah itu tidak berbahaya bagi keseimbangan kapal?”

Yoshido kembali membungkukkan badan.

"Haik Kapten! Kami sudah merundingkan cara mengambil jenazah di bawah dengan tidak membahayakan keseimbangan kapal.”

Kapten Shinji menyimak kelanjutan ucapan Yoshido dengan seksama.

"Kita tugaskan 4 orang penyelam untuk mengambil jenazah melalui lubang di lambung. Kita masih punya cukup persediaan tabung oksigen untuk operasi ini.”

"Setelah itu kita bisa melakukan upacara pelepasan jenazah sesuai tradisi pelaut. Seperti yang telah kita lakukan terhadap 2 jenazah terdahulu…..”

Mendadak pembicaraan terhenti karena badan kapal sedikit terguncang. Beberapa kali. Secara beruntun.

Kapten Shinji Akira memperhatikan layar monitor. Tidak ada lempengan es besar. Cuaca juga sedang bagus. Lautan sangat tenang. Apa itu tadi?

Yoshido yang ikut memperhatikan beberapa layar monitor menunjuk salah satunya dengan telunjuk gemetar.

"Hiu! Hiu Kapten! Beberapa hiu berukuran besar mencoba masuk menerobos melalui lubang di lambung.”

Mata kedua pimpinan tertinggi kapal Hantaa 01 bersirobok. Ternyata proses evakuasi tidak akan semudah yang dikira.

"Aku penasaran. Apakah monitor di ruangan itu masih berfungsi atau tidak?” Kapten Shinji Akira berbicara kepada dirinya sendiri sambil memencet beberapa tombol untuk memeriksa kamera surveillance di ruangan yang dimaksud.

It works! Terdengar teriakan kecil Kapten Shinji sambil memberi isyarat kepada Yoshido agar mendekat. Kapal Hantaa 01 memang dilengkapi dengan banyak kamera surveillance yang semuanya water proof. Kapten Shinji tadi hanya khawatir kamera tersebut rusak karena benturan saat tabrakan dan juga badai.

Layar monitor nomor 8 dan 9 memperlihatkan ruang mesin dan ruang lambung kapal yang penuh dengan air.

Nampak juga beberapa jenazah yang melayang-layang berputar di ruangan tersebut. Kapten Shinji dan Yoshido bersamaan menghela nafas menyaksikan. Mereka adalah awak kapal yang sudah lama bergabung di Hantaa 01.

"Yoshido san, kenapa jenazah itu berjumlah 3?” Kapten Shinji menunjuk monitor dengan raut muka terheran-heran.

Yoshido ikut tertegun. Benar! Jenazah yang melayang-layang di air itu berjumlah 3. Bukankah awak kapal yang tewas di ruangan tersebut hanya 2 orang?

Kapten Shinji memanggil dokter kapal melalui interkom. Dan langsung menunjuk ke arah monitor begitu melihat Dokter Akiko tiba dengan tergesa-gesa. Meminta penjelasan karena Dokter Akiko lah yang tahu persis saat penghitungan jumlah awak kapal setelah kejadian bencana.

"Kenapa jenazah di bawah ada 3? Seharusnya hanya 2?” Dokter Akiko berkata lirih seolah kepada dirinya sendiri. Matanya bergantian menatap layar monitor dan daftar catatan di tangannya.

"Itu…itu…bukan salah satu crew Hantaa 01 Kapten….itu… entah jenazah siapa?” Dokter Akiko berkata gagap setelah menatap tubuh yang melayang-layang secara cermat.

Kapten Shinji Akira dan Yoshido saling berpandangan. Sepertinya jalan pikiran kedua orang itu sama karena kemudian keduanya nyaris berbarengan berkata kepada Dokter Akiko.

"Dokter, bisa tolong diperhatikan baik-baik secara anatomi dan morfologi apakah itu manusia atau bukan?”

Dokter Akiko tidak mengerti arah pertanyaan kedua orang itu tapi mengikuti permintaan mereka. Tangannya memberikan perintah zoom dan frame di keyboard.

Cukup lama Dokter Akiko mengamati layar. Makin lama wajahnya makin memucat. Menggelengkan kepala beberapa kali untuk mengusir kebingungan di benaknya.

"Bisa dipastikan itu manusia Kapten, Yoshido san. Tapi ada beberapa hal yang aneh dari dirinya,”Dokter Akiko menjawab tanpa memindahkan tatapannya pada layar monitor. Sambil mendengarkan penjelasan Kapten Shinji mengenai sosok tubuh yang meringkuk dalam bongkahan es yang menabrak lambung kapal.

"Wajahnya tertutup masker kedap air. Kalau melihat dari anatomi dan postur tubuhnya, dia manusia modern. Namun pigmen rambutnya sangat aneh. Tidak ada satupun manusia di dunia masa kini yang mempunyai pigmen original biru. Lihat, keanehan kedua, di bawah telinganya terdapat sebuah lapisan tipis mirip insang. Ketiga, manusia ini kelihatannya masih HIDUP.”

Pernyataan terakhir Dokter Akiko membuat Kapten Shinji dan Yoshido terhenyak kaget. Hidup?

"Jadi menurut dokter apa yang harus kita lakukan terhadapnya?”

"Kalau hendak mengevakuasi jenazah rekan kita di bawah, sekalian evakuasi wanita aneh itu. Meskipun hidup tapi dia masih dalam kondisi tak sadarkan diri.”

Kapten Shinji langsung menggelar pertemuan kilat untuk membuat rencana evakuasi. 4 orang penyelam akan masuk melalui lubang di lambung kapal. Urusan hiu akan diselesaikan oleh 2 orang lagi yang merupakan ahli behaviour hiu dan marine biology.

Proses evakuasi dipantau langsung oleh Kapten Shinji dari anjungan kapal. Termasuk juga para penyelam yang dilengkapi dengan kamera di helm selam mereka.

Sementara itu Dokter Akiko mempersiapkan ruang isolasi klinik yang disulapnya menjadi ruang research. Sosok itu benar-benar membangkitkan keingintahuannya sebagai seorang dokter sekaligus ilmuwan. Luar biasa! Bisa jadi ini adalah penemuan spektakuler abad ini!

Setelah semua persiapan dilakukan. Operasi evakuasi dijalankan.

4 orang penyelam menceburkan diri ke lautan dingin setelah 2 expert itu terlebih dahulu menyelam untuk menangani sekelompok Hiu Putih yang masih bergerombol di depan lubang dan berusaha masuk untuk memangsa 2 jenazah yang ada di dalamnya. Atau mungkin 3?

Kapten Shinji dan Yoshido mengikuti dengan seksama dari semua kamera saat 2 expert berhasil memancing 4-5 ekor Hiu Putih besar berpindah ke sisi lain menggunakan umpan daging yang mereka bawa dari kapal.

4 orang penyelam berturut-turut masuk ke dalam kapal melalui lambung yang menganga.

Tak berapa lama 2 orang penyelam berhasil menarik satu jenazah dan mengikatnya pada pelampung besar berpemberat yang dibawa. Berikutnya jenazah satu lagi berhasil diikat pada pelampung kedua. Secara serentak tali pemberat diputus oleh para penyelam sehingga kedua jenazah awak kapal itu meluncur naik ke permukaan laut. 2 orang mengikuti dari belakang. sedangkan 2 orang lagi sedang berusaha menarik sosok perempuan aneh itu.

Proses evakuasi yang ketiga ini ternyata menemui kendala saat sosok itu sudah berhasil diikat pada pelampung dan pemberat dilepaskan karena tiba-tiba saja entah darimana datangnya, seekor Hiu Putih besar berusaha menyambar seorang penyelam.

Penyelam itu berhasil mengelak namun tak urung lengannya robek terserempet gigi tajam si ikan hiu. Beruntung 2 expert kembali muncul dan mengalihkan perhatian hiu dengan umpan makanan. Kedua orang penyelam berikut 2 expert berhasil ke permukaan dan menaiki kapal dengan selamat.

Meskipun terluka, penyelam yang berpengalaman itu juga ikut membantu menaikkan sosok misterius berambut panjang berwarna biru pekat yang diduga sebagai perempuan itu.

Sementara awak kapal yang lain mempersiapkan 2 jenazah rekannya untuk upacara pelaut, Dokter Akiko tak hentinya memandangi sosok misterius yang terbujur di ruang isolasi klinik.

Sosok ini memang seorang perempuan. Manusia modern tapi entah berasal dari abad ke berapa. Berwajah cantik. Tepat seperti dugaannya, perempuan itu diimplan semacam insang kecil di bawah telinganya.

Yang paling ajaib dari semuanya adalah, perempuan itu mempunyai organ tubuh yang normal dan berfungsi secara normal. Seolah-olah terbungkus es entah berapa lama itu tidak berpengaruh apa-apa kepadanya.

Dokter Akiko mengalihkan pandangannya pada masker aneh yang tadi dikenakan oleh perempuan itu. Struktur masker itu sangat aneh, berteknologi tinggi, mempunyai kabel-kabel tipis penunjang kehidupan dan dibuat dari serat mirip karbon yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Dokter Akiko selama karirnya sebagai ilmuwan peneliti.

Dokter Akiko mengambil kesimpulan pertamanya; masker itulah sesungguhnya yang membuat perempuan itu tetap hidup.

Kesimpulan kedua; perempuan itu adalah obyek cryogenetik berteknologi sangat tinggi. Terbukti dari baju yang dikenakannya terbuat dari selaput tipis yang mengeluarkan hawa hangat secara terus menerus.

Tiba-tiba Dokter Akiko bisa menarik kesimpulan ketiganya; perempuan ini jelas berasal dari awal abad 20 an! Setelah baju selaputnya dilepaskan, ternyata baju dalamnya adalah model yang hanya bisa dijumpai dari masa tersebut!

Gila! Perempuan ini obyek penelitian apa? Dan oleh siapa?

*****