Now Loading

Brunei Kampung Kedua

Hari ini adalah hari terakhir di Brunei, sore nanti, Empat sekawan akan kembali ke Jakarta. Sehabis makan pagi, Saya kembali ke kamar untuk mengambil hand phone yang tadi sempat dicas. Di antara Empat Sekawan, baru saya yang punya handphone karena memang dapat dari kantor. Selama di Brunei, handphone ini juga lebih banyak saya pakai untuk keperluan kantor saja. Maklum biaya roaming cukup mahal.

Ketika saya mengambil handphone, ada sebuah sms yang masuk dari mbak Vera, sekretaris pak bos di kantor pusat.

“Kang Asep, tolong belikan saya oleh-oleh kaos dan pajangan bergambar masjid Brunei, kaosnya yang ukuran M warna pink kalau ada”, demikian isi sms nya.

Walau sedikit menggerutu, permintaaan sekretaris bos harus saya okein, kalau tidak urusan dengan kantor pusat jadi susah dan bisa-bisa saya tidak bisa berangkat tugas ke Brunei lagi tahun depan.

‘Azwar, mau ikut belanja suvenir?”

“Gak ah, Saya mau istirahat saja, masih ada yang harus dibereskan katanya sambil membongkar lagi kopernya.

Sekitar jam 10, Saya berangkat sendiri ke Jalan McArthur. Di sana ada beberapa toko kecil yang banyak menjual suvenir. Harganya lebih murah dibandingkan di Yayasan
Keluar dari hotel saya belok kiri di Jalan Pemanca dan kemudian belok kiri lagi di Lorong Bebatik sebelum akhirnya menyeberang Jalan Cator dan terus menyusuri Lorong Bebatik sampai ke Jalan McArthur.

Saya masuk ke salah satu toko dan melihat-lihat suvenir yang ada. Tidak sampai 15 menit, kaos pink dan juga pajangan bergambar Masjid Perahu sudah ada di plastik belanjaan. Selain itu saya masih membeli beberapa lagi gantungan kunci dan tempelan kulkas.

Setelah membayar dan keluar toko, tiba-tiba saya saya tersandung seekor kucing berbulu hitam yang sangat cantik dan lucu. Kucing itu terus mengeong dan mengendus-endus kaki saya. Saya mencoba berjalan ke arah Lorong Bebatik, namun kucing terus mengeong dan seakan-akan mengajak saya untuk mengikutinya menyusuri kakilima di Jalan Mc Arthur menuju ke arah Tamu Kianggeh.

Penasaran, saya mengikuti kucing itu dan anehnya dia berhenti di sebuah rumah toko tiga atau empat pintu dari toko suvenir. Pintu nya terbuka sedikit dan kucing seakan-akan mengundang saya untuk masuk.

Saya berhenti di depan pintu, tidak berani masuk, namun tiba-tiba suara parau seorang perempuan tua memanggil:

“Sila masuk nak, jangan takut!”.

Walau ragu dan agak sedikit terkejut, Saya mendorong pintu yang sudah terbuka sedikit dan masuk ke dalam rumah itu. Ternyata rumah ini sebenarnya merupakan sebuah toko obat Cina yang saat itu kebetulan belum buka. Atau mungkin memang sedang tutup.

Seorang perempuan tua menyambut ramah dan mempersilahkan saya duduk di sebuah kursi kayu tua model Cina. Perempuan ini berusia sekitar enam puluh lima tahun, tetapi postur tubuhnya tampak masih kuat dan bicaranya cukup jelas.

Dia memakai baju kebaya model perempuan Tionghoa yang disebut kebaya encim. Saya menurut saja disuruh duduk sambil minta maaf tidak bisa lama-lama karena harus balik ke hotel.

“Duduk sebentar”, kata perempuan tua itu sambil menuangkan teh hangat.

“Ayo minum dulu nak”

“Maaf Saya memanggil anak ke sini karena ada hal penting yang akan saya sampaikan”

Dengan ramah dia meminta saya untuk membuka telapak tangan kiri dan kemudian tanpa diminta  nenek itu berbicara seakan-akan meramal nasib saya.

“Anak akan banyak kembali ke Brunei di waktu yang akan datang. Akan banyak hal-besar yang merubah hidup anak di masa depan di Brunei ini. Namun Anak harus hati-hati. Akan banyak orang yang menghalangi”.

“Brunei akan menjadi kampung anak yang kedua”, tambah nenek itu lagi.

Saya sendiri hanya terdiam setengah percaya mendengar ramalan itu. Saya habiskan teh di cangkir dan segera mohon diri.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, banyak sekali pertanyaan berkecamuk, namun tetap buntu jawabannya.

Bersambung.