Now Loading

Salah Culik

 

Saya dan Eko sudah selesai merapikan koper dan barang-barang. Singkatnya besok siang tinggal dijemput dan berangkat ke lapangan terbang. Saya sudah kangen dengan istri dan anak-anak di rumah.

Eko masih nonton TV RTB 1 dan saya tiba-tiba ingin menelpon istri di rumah. Waktu baru pukul sekitar pukul 10 di Brunei alias pukul 9 di Jakarta. Lagi pula, saldo di kartu telpon masih cukup banyak. Masih bisa bicara sekitar 5 sampai 10 menit.

“Eko, Saya pergi menelpon dulu di kantor pos”

“Baik Bang Zai, Salam buat Mpok dan anak-anak di rumah”, kata Eko sambi menyeruput kopi.

Saya keluar kamar menyusuri korodor hotel dan kemudian turun ke lobby. Lobby sudah sepi dan demikian juga Jalan Pemancha di depan hotel.

Saya berjalan perlahan menuju Kantor Pos yang letaknya tidak jauh dari hotel. Jalanan sudah sepi malam itu dan semilir angin sedikit berhembus memberikan suasana yang sedikit menyeramkan. Tetapi tidak ada yang perlu ditakutkan berjalan seorang  diri di pusat Bandar kota BSB. Saya sejenak melihat ke langit yang tanpa bintang karena ditutupi awan.

Seandainya ada tempat yang sedikit menyeramkan yang harus saya lewati nanti adalah Makam Raja Ayang yang tepat ada di depan Kantor Pos. Letak Kantor Pos sendiri di Jalan Elizabeth II sebenarnya hanya berjarak satu blok dari Jalan Pemancha.

Kantor telepon atau tepatnya deretan telepon umum di Kantor Pos juga sepi. Saya langsung dapat menelpon tanpa harus antre. Dita, istriku kebetulan sedang nonton RCTI di rumah ketika aku telpon dan anak-anak baru saja selesai belajar. Si bungsu sendiri baru tidur, sehingga saya dapat menelpon agak lama tanpa gangguan. Intinya  mengucapkan sayang, rasa rindu serta gembira karena besok sudah bisa berkumpul kembali setelah dua minggu berpisah. Kita juga berbicara tentang rencana liburan di akhir tahun.

“Ayo Bang, ikut saya”, tiba-tiba seorang lelaki mendekat dan merangkul saya ketika saya baru saja selesai menelepon. Rupanya dia sudah mengikuti dari tadi dan menunggu sampai saya selesai menelpon.

“Maaf, siapa kamu, Ada apa ini?” Tanya saya terkejut. Apa lelaki ini preman atau rampok?, Namun saya tetap tenang karena tahu di Brunei hampir tidak ada kejahatan jalanan , lagi pula saya tidak membawa uang atau perhiasan.

“Ikut saja , jangan banyak tanya. Bos saya yang akan bicara di waterfront”.

Rasa takut, cemas, kesal, bercampur penasaran akan siapa yang dimaksud bos dan juga apa yang akan dibicarakan membuat saya lebih baik ikut saja dibandingkan melawan. Lagi pula saya tidak mau membuat keributan di Brunei yang bisa saja melibatkan polisi kalau saya melawan. Bisa-bisa tidak jadi pulang besok.

Saya kemudian berjalan mengikuti lelaki tadi. Saya perhatikan usianya sekitar 30 tahunan. Logat bicaranya orang Brunei, namun bisa saja orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Brunei.

Kami kembali berjalan di trotoar di Jalan Omar Ali Syaifuddin, lewat Makam Raja Ayang dan depan Head Office Royal Brunei Airlines. Namun di Jalan Pemancha Lelaki itu belok kiri sekan-akan menuju ke Brunei Hotel.

“Ayo ikut lewat sini”, dia berkata lagi ketika dia memaksa saya memasuki lorong yang cukup gelap. Ini adalah Lorong Bebatik dimana nanti kita bisa tembus ke Terminal di jalan Cator dan terus ke Jalan Mc Atrhur. Saya makin waspada ketika kita berdua berjalan di Lorong Bebatik. Ada keinginan kabur saja, namun rasa penasaran membuat saya tetap ikut saja.

Akhirnya kami muncul  lagi di jalan raya, Jalan McArthur. Toko dan kedai-kedai sudah tutup, maklum sudah sekitar pukul 10.30 malam. Kami berdua menyeberang jalan ke water front dan kemudian berjalan menyusuri tepian Sungai Brunei. Walau sudah sepi, sesekali masih ada perahu yang berlayar di Sungai Brunei dan lampu-lampu rumah di Kampong Ayer berkelap kelip di kajauhan sana.

Saya diajak ke pagar di tepian sungai Brunei. Di bawah sebuah tiang lampu yang temaram. Seorang lelaki muda berusia 25-30 tahunan menunggu disana.

‘Maaf Abang, Saya terpaksa ‘menculik’ abang ke sini, Abang yang bernama Asep?”

Seketika, saya langsung sadar bahwa mereka telah salah orang. Mungkin karena malam hari atau karena belum kenal.

“Maaf, Saya bukan Asep, Saya Zainuddin, kebetulan Asep teman saya”,

“Siapa kamu”, kata saya lagi. Saya makin penasaran dan mengapa ada orang di Brunei yang mencari Asep. Setahu saya Asep baik-baik saja dan tidak pernah berbuat macam-macam. Lagi pula Empat Sekawan selalu pergi bersama-sama selama dua minggu di Brunei ini.

Lelaki tadi kaget ketika mengetahui saya bukan Asep melainkan temannya.

“Maaf sekali Bang Zainuddin, mungkin teman saya salah informasi dan salah orang. Saya tahu kalian berempat akan pulang ke Indonesia besok, Saya tidak punya waktu lagi. Kalau begitu, saya hanya titip pesan ke Asep kalau nanti sempat balik lagi ke Brunei, jangan sekali-kali berhubungan dengan Laila”.

Saya sempat kaget. Namun karena tidak mau berdebat lebih lama lagi, saya hanya berkata:

“Baik kalau begitu, akan saya sampaikan”

Mereka berdua kemudian pergi ke tepi jalan dan masuk ke sebuah mobil yang rupanya sudah menunggu sejak lama. Dapat dipastikan ada lebih dari dua orang di dalam mobil.

Saya kemudian kembali berjalan pulang ke Brunei Hotel dengan menyimpan banyak tanda tanya.

Bersambung