Now Loading

Maut Mengancam

Pintu darurat itu sudah di depan mata, namun Esti rasanya merasakan ia hanya lari di tempat, ia berusaha kuat berlari dan berdoa. Ia tidak tahu bagaimana menit - menit ke depannya. Rasanya tanpa harapan. Suara - suara para preman yang mengejarnya semakin dekat. Jantungnya berdegup semakin kencang. Rasanya kakinya seperti tidak bertenaga menjejak, ia hanya mengandalkan doa dan harapan meski amat kecil. Meski terasa lambat ia sudah ada didepan pintu,membukanya dengan sisa tenaga yang ada, melompat dan membelasak pepohonan pisang. Ia tidak lagi berpikir apakah selamat atau malah akhirnya tertangkap.

Kaki satunya sudah menjejak tanah dan hampir saja kaki kirinya tertangkap oleh salah seorang preman. Mereka sempat memegang kain putih yang membebat tubuhnya. Kain itu robek namun Esti Pinilih bisa lolos, menelusup dari batang pisang ke batang pisang yang lain, Suara - suara preman itu semakin bergemuruh dan ia yang panik terus berlari tanpa peduli suara – suara dibelakangnya. Rasanya ia seperti memutar - mutar saja di kebun pisang, di mana jalan keluarnya, rasanya semua buntu, semuanya mirip. Esti Pinilih semakin panik, sebab suara - suara preman itu semakin mendekat.

Ia berhenti. Menarik nafas, dan mencoba menenangkan diri. Semakin bergerak akan semakin menimbulkan suara, maka sambil merasakan nafasnya tersengal - sengal ia duduk merunduk dan menahan diri untuk tidak bergerak. Ia terkepung oleh suara preman- preman itu yang mengumpat- umpat sangat kasar.

Bergerak sedikit saja, dan menyentuh klaras pisang akan terdengar oleh mereka. Esti Pinilih benar - benar sedang bertaruh, jika ia tidak waspada taruhannya nyawa, mereka pasti tidak akan segan - segan menyiksa setelah bisa menangkap dan mengembalikan dia ke tempat neraka jahanam itu. Jika ia menjadi korban ia mungkin akan menjadi hantu, bergentayangan dan nglambrang ke mana - mana, mereka yang sudah menjadi korban, tidak pernah ada beritanya kembali. Mereka menjadi korban keserakahan manusia. Korban kebiadaban manusia yang bersekutu dengan iblis.

Orang - orang itu sudah bukan manusia lagi yang punya welas asih, yang punya rasa sayang terhadap keluarga. Mereka sudah teracuni pikirannya. Manusia setan, pengabdi iblis.

Esti Pinilih memilih diam, ia tahan - tahan nafasnya, mencoba tidak bergerak ketika semut- semut dan serangga penggigit mulai berpesta menghisap darahnya. Gigi Esti menggeretak, pengin rasanya berteriak dan kabur dari tempat itu, namun ia tidak berani gegabah sebab segerombolan pengabdi iblis itu memang harus dihadapi dengan kesabaran. Lengah sedikit habislah ia. Pelan – pelan mereka menjauh, dan ketika sudah tidak ada suara dari ocehan mereka Esti mencoba keluar dari lembah neraka tersebut.

Dengan pakaian hanya lembaran kain putih yang semakin lusuh terkena getah pisang dan tersobek - sobek oleh ranting - ranting kecil pohon yang tumbuh diantara belantara pisang, Esti hanya memasrahkan diri pada cahaya bintang yang kemerlapan. Pagi sudah menjelang dan dari kejauhan suara kokok ayam mulai bersahutan. Akhirnya dengan susah payah menemukan jalan keluar, namun dihadapannya hanyalah lereng terjal. Bagaimana ia bisa turun. Apakah harus melompat, atau menggelosor turun. Sementara lereng itu tampak gelap tanpa penerangan. Ia tidak bisa memperkirakan seberapa tinggi lereng itu.

Tiba - tiba dari belakang muncul suara – suara omelan, pertanda bahwa mereka kembali mendekat. Dan seseorang yang berada di depan melihat bayangan Esti itu yang ada di bibir jurang. Dengan cepat orang itu melompat,mendekat dan berusaha menangkap tangan Esti.

Esti spontan lompat ke bawah, tidak mempedulikan lagi apa yang terjadi selanjutnya. Ia terperosok masuk ke jurang, tertambat oleh akar kuat yang melintang di bawah gerumbulan perdu ilalang.Tajamnya ilalang membuat baju yang ia kenakan semakin tercacah - cacah, kulitnya tergores, terluka hingga memar dan darah mengucur, ketika tergores ranting.

Namun untungnya ia selamat, para pengabdi iblis itu tidak ada yang mengikuti atau mencari dia. Mereka pikir pasti sudah mati jatuh ke jurang. Pelan - pelan ia mencoba turun, namun, Esti mengurungkannya. Tidak ada pijakan yang membuatnya bisa kuat menahan dirinya. Ia terkatung - katung di akar pohon yang menjuntai ke jurang.

Saking lelah dan lemasnya Esti Pinilih pingsan menggelantung di akar pohon.

Saat Esti bangun sinar matahari memancar terang, namun ditempatnya tampak redup tertutup ilalang dan gerumbul, sementara ia teronggok di akar besar yang menjuntai. Bajunya semakin compang - camping dan ia tidak berani menampakkan diri ke dusun terdekat, malu karena di sana – sini tubuhnya terlihat. Ia menunggu malam, sambil berpikir bagaimana bisa keluar dari jurang yang menganga itu.

Esti mencari akar – akar yang bisa ia panjat, lalu mencari jalan agar ia bisa keluar dari tempat mengerikan ini. Semoga para preman itu sudah tidak mencarinya lagi. Pelan - pelan dengan usaha yang keras meskipun amat lemas karena belum makan. Ia mencari buah – buahan yang biasanya berada di tubir jurang, entah jambu liar, atau biji kapulaga, Yang penting perutnya terisi.

Ketika senja merangkak dan langit tampak mulai gelap oleh mendung, ia mulai menemukan tanda = tanda jalan yang bisa dilewati. Saat malam tiba akhirnya ia menemukan jalan setapak, Dingin menggigit kulit, sementara kabut berarak semakin menebal, ia melangkah ke jalan yang lebih besar. Sebuah oncor penerang bergerak mendekat, dan ketika kebetulan berpapasan dengannya dan Esti hendak minta tolong, tiba – tiba orang - orang itu kabur. Sambil berteriak.

“Haaan……hahhaa…. hantu….”

Gegerlah desa itu dan Esti pinilih memilih menyingkir agar tidak menjadi tontonan atau malah bahan amukan warga.

Ia masuk dalam gerumbulan, bersembunyi agar tidak tertangkap oleh warga. Setelah benar- benar aman, ia berjalan lagi menyusuri jalan setapak, mengingat lagi tanda = tanda saat ia diculik oleh gerombolan pengabdi setan tersebut. Cukup jauh menerobos hingga akhirnya ia pingsan di antara kebun pisang di pinggir desanya. Ia tidak kuat dan pingsan lagi.

Ketika ia bangun ia sudah tidak mampu berdiri hanya bisa menangis sesenggukan. Dingin, lemas, marah, sepertinya ia melihat kembali peristiwa mengerikan yang sempat ia lihat, Membayangkan orang = orang yang senasib harus berkalang tanah menjadi korban dari ritual mengerikan. Yang mengatasnamakan Tumbal Darah Perawan.

Begitulah lintasan ingatan Esti yang akhirnya lancar bisa diceritakannya kepada Kakeknya Mbah Sambung.

Luka- luka Esti mulai pulih, dan luka bathinnya mulai lenyap. Ia bersyukur bisa sempat lolos dari sekumpulan gerombolan manusia tidak beradab.

“Istirahatkan Nok, kamu tidak boleh memikirkan masalah itu berlarut – larut.”

“Iya, Mbah, tapi denok merasa bahwa perbuatan mereka harus dihentikan.”

“Iya, Mbah mengerti tapi biarlah Mbah yang memikirkan. Kamu perempuan menunggu saja di rumah, Simbah sudah membuat perencanaan matang, bersama Aden Prabangkara.”

“Oh, ia sudah kembali dari kota.”

“Sudah.”

“Aku malu ketemu sama Aden Mbah, sebab wajah dan tubuhku itu banyak lukanya.”

“Malu kenapa?”

“Malu, ya malu MBah itu urusan perempuan.”

“Hahaha…. Kamu takut tidak cantik lagi…ya…”

“Kenapa malah tertawa mbah… Mbah suka Esti jadi jelek begini!”

“Ya enggak… kamu masih cantik cucuku. Hehehehe…. Sabar nanti Mbah buatkan ramuan agar kulitmu bisa pulih seperti sedia kala.”

“Ya… Sudah aku mau mandi dulu.”

Esti mulai bisa ceria. Sebagai gadis yang beranjak dewasa, dan sebagai perempuan ia sangat peduli pada tubuhnya. Ia mula suka dandan dan melihat dirinya yang sudah mulai tumbuh menjadi perempuan yang sempurna.

Dan Kumbang- kumbang desa mulai melirik, termasuk salah satu diantaranya adalah seorang pendatang dari kota yang tengah bertugas untuk menyelidiki tentang berita yang berkembang atas hilangnya gadis - gadis perawan.

 

Bersambung