Now Loading

Bab 8

Taksi yang ditumpangi Citra seperti kesetanan di jalanan.  Citra terus saja memompa adrenalin sopir supaya jangan menginjak rem.  Hati Citra sangat cemas.  Dia khawatir dengan keselamatan Raja.  Babah Liong bisa membantunya mencari di mana keberadaan Raja sekarang.

Suara rem taksi berdecit-decit menggigit aspal saat berhenti tepat di depan toko buku Babah Liong.  Citra mengangsurkan 5 lembar ratusan ribu lalu melompat keluar taksi dan buru-buru masuk ke toko.  Sopir taksi masih bengong menerima bayaran segitu banyak, sekaligus juga terheran-heran kenapa dia bisa sedemikian nekatnya ngebut di jalanan kota Bandung.  Hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.  Sesuatu yang aneh mendorong keberaniannya untuk mengemudi segila tadi.

Citra menemukan Babah Liong sedang asyik dengan buku bacaannya. 

“Babah, Raja diculik oleh orang-orang Trah Maja!....cari dia Babah!  Aku takut ada apa-apa dengannya,” Citra setengah berteriak cerita kepada Babah Liong yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh setiap perkataannya.

Babah Liong terkejut bukan main.  Buku bacaannya digeletakkan begitu saja lalu buru-buru menggamit lengan Citra masuk ke pintu yang terletak sebelah kiri dari pintu ke taman.

Citra mengikuti Babah Liong masih dengan nafas memburu.  Ruangan yang dimasuki ini cukup mencengangkan.  Seperti ruang ritual sebuah kuil dengan bau hio dan dupa cukup menyengat tapi dilengkapi dengan beberapa layar monitor berukuran besar berjajar di dinding.  Sebuah perpaduan yang menarik dari dua jaman yang bertolak belakang.  Magic dan teknologi.

Babah Liong menekan beberapa tombol di keyboard.  Monitor langsung menyala dan menunjukkan tanda searching.  Sambil menunggu, Babah Liong menuju tempat ritual.  Menancapkan beberapa hio yang baru dinyalakan.  Mulutnya komat-kamit merapal sesuatu dalam bahasa Tionghoa.

Citra memperhatikan semua yang dilakukan Babah Liong.  Gadis ini lebih tertarik melihat layar monitor yang masih mencari koordinat Raja berada.  Dia tahu bahwa Babah Liong diam-diam meletakkan sesuatu di tas Raja sewaktu pemuda ini berkunjung ke toko beberapa saat lalu. 

Layar itu selesai memproses pencarian.  Sebuah titik merah berkedip-kedip di suatu lokasi.  Bersamaan pula dengan suara lega Babah Liong di sudut sana yang sedang konsentrasi pada secawan air yang terletak di antara hio menyala.

“Raja dibawa ke arah timur Putri.  Sekarang posisinya berada di sekitar Sumedang.  Mereka sepertinya berhenti untuk beristirahat atau entah apa,” Babah Liong menginformasikan juga sambil memperhatikan seksama layar monitor.

“Aku bisa meyakinkanmu bahwa Raja masih hidup Putri,” lanjut Babah Liong sambil menoleh kepada Citra yang sedang mengerutkan kening berpikir apa yang harus dilakukannya.

“Aku menduga Raja akan dibawa ke Bubat, Babah.  Apakah pikiranmu sama denganku?” tanya Citra setelah tercenung beberapa lama.

Babah Liong mengangguk mengiyakan tanpa mengeluarkan kata. 

“Aku akan mengejar mereka Babah. Tapi dengan badan wadag seperti ini aku membutuhkan seseorang untuk membantuku,” Citra meminta pertimbangan.

Babah Liong merogoh saku bajunya. Menekan beberapa nomor di handphonenya.

“Sin Liong, lu kesini bantu papa. Segera!”

Citra tersenyum senang mendengar perintah singkat itu.

-------

Mada bergegas memasuki mobil sport mutakhirnya.  Lelaki kekar ini memberi isyarat sopir sekaligus pengawalnya untuk bergerak cepat.  Mobil sport itu menggerung ganas untuk kemudian melesat seperti kilat keluar rumah besar bagai istana itu.  Diikuti oleh mobil Jeep yang mengangkut tiga orang pengawalnya yang lain.

Dia harus cepat.  Pemuda itu berhasil ditangkap dan sekarang sedang dibawa oleh para pengikutnya ke timur.  Penjagaan harus diperkuat.  Mada sadar bahwa Trah Pakuan tak akan tinggal diam.  Setiap saat mereka bisa mencegat di manapun untuk membebaskan pemuda yang menjadi kunci penting membuka Gerbang Waktu Bubat.

Selain itu Mada juga agak ngeri kalau memikirkan Putri yang telah manjing kembali itu marah.  Anak buahnya tidak akan ada yang sanggup menanggulangi kemarahan itu.  Mereka akan kewalahan jika dia tidak segera tiba.

Iring-iringan dua mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang saat masih di dalam kota Bandung.  Namun begitu memasuki jalan tol Padaleunyi, kedua mobil menekan gas dalam-dalam dengan kecepatan tinggi agar bisa segera menyusul rombongan yang kini sedang beristirahat di Cadas Pangeran.

-----

Di jalan tol yang sama, sebuah mobil 4WD modifikasi yang dikemudikan Sin Liong melaju tak kalah kencang di depan rombongan Mada.  Citra duduk di jok belakang.  Sin Liong di balik kemudi dan di sebelahnya duduk dengan tenang seorang laki-laki gagah setengah baya bernama Abah Usep. 

Abah Usep adalah guru silat Cimande Sin Liong dan sengaja diminta oleh Sin Liong untuk menemaninya.  Sin Liong menyadari dari tekanan suara papanya bahwa ini adalah tugas yang sangat berat.  Oleh karena itu tak segan-segan dia meminta gurunya yang kebetulan sedang berkunjung ke Bandung untuk menemaninya.

Kebetulan jalan tol sedang lengang.  Sehingga laju kendaraan yang sedang mengusung misi bertema sama namun dengan maksud berbeda itu bisa melaju dengan kecepatan maksimum.  Derum suara mobil mereka membelah udara.  Terutama mobil Mada yang merupakan mobil sport keluaran terbaru.

Jika dilihat dari udara terlihat ketiga mobil itu tidak terlalu jauh jaraknya.  Namun baik Citra maupun Mada sama-sama tidak menyadari bahwa keduanya berjarak begitu dekat.  Saat 4WD modifikasi yang dikendarai Sin Liong keluar gerbang tol Cileunyi, mobil sport Mada dan jeep pengawal Mada masih antri di gerbang dengan jarak 5 mobil di belakang Citra. 

Setelah sedikit macet di pertigaan di luar gerbang tol, Sin Liong memacu lagi mobilnya.  Layar monitor di mobilnya terkoneksi dengan monitor di toko Babah Liong.  Penanda merah itu masih di tempatnya semula.  Konstan tak bergerak.  Citra yang juga terus memperhatikan tanda sinyal itu sedikit bernafas lega.  Jarak mereka dengan para penculik sudah semakin dekat.

------

Raja melihat dua laki-laki perlente yang membius dan menculiknya sedang berbicara serius di warung kopi.  Sesekali salah satu di antaranya menelepon atau menerima telepon.  Sopir mobil bersamanya di dalam mobil.  Sopir bertubuh gempal itu rupanya ditugaskan mengawasi Raja yang terlihat masih sangat lemah.

Raja tahu peluangnya untuk melarikan diri sangat kecil.  Kondisi tubuhnya masih belum pulih benar.  Sopir itu pasti kuat.  Melumpuhkannya butuh kekuatan tidak sedikit.  Raja melirik keluar.  Kedua laki-laki perlente itu masih asyik di warung sambil seringkali melihat ke arah barat.  Mereka sepertinya menunggu seseorang.

Tanpa sengaja Raja memalingkan muka ke arah lain.  Di seberang jalan terlihat seorang yang nampak seperti pemulung tua memelototi mobil van penculik Raja.  Entah karena kondisi tubuhnya telah mulai pulih atau karena hal lain, Raja merasakan sesuatu yang aneh merayapi tubuhnya.  Kedua tangannya yang diikat kuat menggunakan tali, seperti membesar seketika di belakang punggungnya. Sedikit saja Raja mencoba menggerakkan lengannya, tali itu putus dengan mudah.

Raja terperanjat.  Begitu kuatkah dia sehingga sanggup memutuskan tali yang liat itu.  Agak tidak masuk akal.  Tapi Raja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang hanya sekejap itu.  Tanpa berpikir panjang pemuda itu menghantamkan kepalan ke leher si sopir gempal.  Terdengar bunyi ngeekkk diikuti tubuh sopir yang menggelosoh pingsan.

Kembali Raja terkejut.  Masa sih sekali pukul dia bisa membuat pingsan orang sebesar ini?  Ah, yang penting aku punya kesempatan baik untuk melarikan diri.  Raja berhitung dengan ujung matanya.  Jarak dua orang perlente itu sekitar 5 meter dari mobil.  Kalau dia mendadak membuka pintu mobil lalu lari, dia harus lari ke arah mana?  Mereka pasti tahu karena pintu geser ini ada di sebelah kiri.  Persis di arah mereka memandang.

Sebuah mobil kecil bak terbuka muncul dari kejauhan dengan kecepatan cukup tinggi.  Entah apalagi yang ada di pikiran Raja.  Ada sebuah rencana gila di kepalanya.

Sekarang! bisik benak Raja.  Diraihnya pegangan pintu mobil.  Bersamaan dengan terbukanya pintu, Raja melompat keluar dan langsung berlari ke arah jalan tepat saat mobil pick up lewat.  Raja mengayun tubuhnya ke bak belakang pick up.  Menumpang di atasnya melaju ke arah timur.

Raja masih sempat melihat dua laki-laki perlente itu berlari kencang ke arahnya.  Salah seorang bahkan mencabut pistol dari pinggangnya dan membidik.  Terdengar letusan beberapa kali.  Raja hanya menyaksikan peluru-peluru berdesing di atas kepalanya. 

Setelah melihat bidikannya meleset, kedua orang itu buru-buru menaiki mobil van.  Memaki-maki dengan kasar melihat sopir tergeletak pingsan di jok tengah.  Salah satunya bergegas menghidupkan mobil dan tancap gas melakukan pengejaran.

Raja sadar bahwa kecepatan mobil pick up yang ditumpanginya ini masih kalah jauh dibanding mobil van biru canggih keluaran Eropa itu.  Raja melihat kanan kiri jalan.  Tebing di sisi kiri dan jurang di sisi kanan.  Lagi-lagi tanpa berpikir panjang, Raja memutuskan melompat keluar dari bak mobil ke sisi kiri.  Tepat menangkap sebuah dahan yang agak menjorok ke jalanan.

Raja bergelantungan sebentar lalu dengan lincah menaiki dahan dan memanjat lebih tinggi di pohon raksasa Cadas Pangeran.  Diselipkannya tubuh di antara dua dahan besar di atas.  Meskipun masih terheran-heran dengan kekuatan dan kelincahannya, Raja berkonsentrasi pada pemandangan jalan di bawahnya.   Mobil van biru itu melaju kencang mengejar mobil pick up.  Lalu disusul sebuah mobil lama 4WD yang terlihat kokoh dengan modifikasi di sana sini menyusul di belakangnya.

Raja terperangah.  Mata tajamnya sempat menangkap sosok tubuh yang sangat dikenalnya duduk di jok belakang.  Tapi belum sempat Raja hendak memutuskan apa, dua mobil dengan derum menggelegar menyusul lagi tak lama kemudian.  Sebuah mobil sport produksi Jerman dan sebuah jeep produksi Amerika.  Dua mobil itu terlihat terburu-buru.  Perasaan Raja agak gugup.  Menduga dua mobil mewah di belakang ini sedang mengejar Citra.  Sosok yang dilihatnya berada di jok belakang mobil 4WD tadi.

Aku harus memperingatkan Citra!  Gadis itu pasti melakukan pengejaran terhadap mobil van biru yang membawa dirinya.  Tanpa tahu bahwa dia sudah lolos secara ajaib. 

Ajaib? Raja teringat sesuatu.  Meskipun dirinya masih di atas pohon, dari jauh dia masih sempat melihat orang tua pemulung itu memandang ke arahnya dan mengangguk ramah.

Oh jadi itu rupanya....

Barulah Raja paham apa yang terjadi.

********