Now Loading

Bab 4

Congo Basin, 0.60°S, 17.77° E
Blok Tebangan-Golden Logging Timber Company


Chainsaw Man bernama Sefu itu membuka helmnya. Tubuh dan kepalanya basah kuyup oleh keringat. Sudah 5 batang pohon berukuran di atas 150 cm berhasil ditumbangkannya. Karena ukurannya yang sangat besar dengan tajuk yang begitu rimbun, teknik menebang yang selama ini dipunyainya tidak mampu membuat pohon itu roboh secara sempurna. Ada 2 pohon Afrormosia berdiameter 250 cm yang tumbang dan tercerabut berikut akar-akarnya.

Sefu membuka tutup botol minumnya. Cuaca Afrika sangat panas dan selalu membuatnya kehausan. Karena itu selama menjadi chainsaw man hingga nyaris 20 tahun ini dia selalu membawa bekal minum yang banyak.

Sambil menikmati aliran air yang menyusur kerongkongannya, mata Sefu terantuk pada sebuah pemandangan yang menarik perhatiannya. Di antara akar-akar besar pohon tumbang dilihatnya sekumpulan jamur berwarna merah muda yang nampak begitu segar.

Sefu bangkit buru-buru. Makan malam lezat malam ini! Jamur jenis phallus itu dipanennya semua menggunakan tangan telanjang dan dimasukkan ke keranjang bekal.

Sefu berpikir cepat. Mungkin tidak hanya pada akar pohon ini saja jamur yang lezat itu berada.

Benar saja. Setelah ditelusurinya pada pohon besar yang juga tumbang seakar-akarnya, Sefu menjumpai jamur yang sama. Kali ini malah lebih banyak sampai-sampai keranjangnya penuh dengan jamur.

Hari ini Sefu benar-benar riang. Selain berhasil menebang pohon melebihi target yang ditetapkan mandor, Sefu menebang 8 pohon dari target 7 pohon, dia juga bisa berpesta jamur nanti malam. Bersama teman-temannya sambil minum arak Afrika. Sefu sudah bisa membayangkan seperti apa keriuhannya.

Sambil bersiul-siul gembira, Sefu meletakkan peralatan kerjanya dan beranjak menuju kamar mandi. Tidak lupa dibawanya keranjang berisi jamur itu agar bisa dicuci di kali kecil pinggiran camp yang mengalir menuju sungai besar Zaire.

Sementara di kantor kecil Golden Logging Timber Company yang kecil dan berantakan, Mister Bob sedang menganalisa pekerjaan hari ini bersama Adisa dan Essien. Fabumi tidak terlihat di antara mereka. Nampak bahwa keputusannya sudah bulat untuk pergi besok pagi.

"Hari ini rata-rata seorang penebang berhasil mencapai target 7 pohon. Mayoritas Afrormosia berukuran lebih dari 120 cm,”Adisa merunut laporannya dengan suara tegas.

Mister Bob mendengarkan sambil memejamkan mata. Seruputan kopi malam ini terasa sangat nikmat. Hmm, Afrormosia adalah kayu mahal. Kalau setiap hari seperti ini, aku bisa sangat kaya raya.

"Aku dengar diameter pohonnya besar-besar sehingga tumbang berikut akar-akarnya?”Pertanyaan remeh diajukan oleh Essien. Benaknya sedang berputar di tempat lain. Tidak di dalam kepalanya.

"Yup! Sangat besar. 1 pohon Afrormosia yang ditumbang hari ini memiliki volume terkecil 45 meter kubik per batangnya. Imagine that! Kita menebang uang sejumlah 18 ribu Franc untuk setiap batangnya. Dan kita hari ini berhasil menumbangkan 70 batang!”Adisa memerankan dirinya seperti kalkulator yang sedang bekerja.

Mata Mister Bob terbelalak. 1,2 juta Franc dalam 1 hari! Ini gila! Bayangkan kalau 10 ribu hektar ini bisa dihabiskan dalam waktu 1 tahun? Oh, Tuhan sedang berbaik hati.

Ketiga pimpinan Golden Logging Timber Company ini lalu berbincang lebih lanjut tentang beberapa rencana ke depan agar pekerjaan mereka tidak terganggu oleh apapun. Namun pembicaraan mereka harus terhenti karena terdengar teriakan-teriakan panik dari barak tempat tinggal pekerja.

"Sefu menjadi gila! Awas!”

"Iya 4 temannya juga! Mereka menjadi beringas dan telah melukai 5 orang!”

"Mungkin terlalu banyak minum arak! Laporkan ke security dan Mister Bob!”

"Aih mereka kesana kemari menyerang orang-orang dalam keadaan telanjang!”

Serempak Mister Bob, Adisa, dan Essien berlari keluar kantor mendengar keributan itu. Tepat saat orang-orang berlarian dengan panik menuju ke arah mereka. Fabumi berada paling depan di antara orang-orang itu.

"Sir! I told you! Peringatan orang Pygmi itu bukan bull shit!” Terengah-engah Fabumi berseru ke Mister Bob.

Mister Bob meraih handy talky di pinggangnya untuk memerintahkan security mengendalikan situasi. Namun niat itu diurungkannya saat dilihatnya 5 orang security sedang mencoba meringkus 2 orang yang mengamuk dalam kondisi telanjang dengan hanya mengenakan celana dalam.

2 orang yang hendak diringkus melawan habis-habisan. 5 orang security itu menjadi kewalahan. Meskipun pada akhirnya 2 orang itu berhasil diringkus namun 5 security itu mengalami luka-luka gigitan dan cakaran.

Malam yang heboh itu berakhir. 4 orang berhasil diamankan oleh tim security. Mister Bob bisa menarik nafas lega. Gangguan seperti ini bisa mengacaukan rencana kerja mereka. Mengacaukan 1,2 juta Franc setiap harinya. Mister Bob menggerutu tak habis-habis.

Mister Bob tidak terlalu ambil pusing ketika dilapori bahwa Sefu menghilang dan belum berhasil diamankan.

4 orang itu ditahan di pos security. Dokter perusahaan terpaksa membius mereka karena tak henti-hentinya memberontak. Anggota security yang mengalami luka-luka segera diobati. Gigitan dan cakaran itu hanya menimbulkan luka-luka kecil yang terlihat tidak berbahaya. Ada 7 anggota tim security yang terluka dalam peristiwa malam ini.

Dokter Cecilia juga sempat memeriksa dan melakukan investigasi awal penyebab 5 orang itu seperti kesurupan dan mengamuk tidak karuan.

Dengan ditemani oleh 2 orang tim security yang sehat, Dokter Cecilia memeriksa tempat tinggal Sefu yang menjadi biang perkara.

Barak kecil itu dihuni oleh 5 orang chainsaw man termasuk Sefu. Kelihatannya kelima orang itu habis mengadakan pesta. Ruangan dapur nampak berantakan. Piring, gelas dan botol berhamburan di mana-mana. Dokter Cecilia meraih satu botol yang masih tersisa minuman di dalamnya. Hmm, arak!

Tidak mungkin arak yang menyebabkan mereka kehilangan kesadaran lalu mengamuk seperti itu. Tadi Dokter Cecilia sempat memeriksa salah satunya dan menemukan bau alkohol dari mulutnya tidak terlalu tercium. Itu artinya mereka hanya minum sedikit. Mungkin hanya sebagai pelantar makanan saja.

Dokter Cecilia tertarik pada satu panci yang tergeletak miring di sudut ruangan. Tercium aroma yang cukup kuat dari sana. Aroma masakan yang sedap namun ada sesuatu yang berbeda dari hasil penciumannya yang tajam dan terlatih. Aroma yang aneh dan tidak familiar.

Ah, jamur! Dokter Cecilia mengerutkan keningnya. Jamur hutan tropis adalah makanan lazim dan sehat bagi manusia. Kecuali yang beracun tentunya. Dan mereka sudah sangat terbiasa membedakan mana jamur yang beracun atau tidak.

Dokter Cecilia terus memeriksa dengan teliti seisi dapur barak Sefu dan kawan-kawan. Apa itu?

Di tempat sampah belakang dapur, Dokter Cecilia yang mengenakan sarung tangan karet menemukan sesuatu yang tidak lazim. Batang bawah jamur yang tidak ikut dimasak terlihat berwarna hitam pekat. Sementara jamur yang sudah dimasak tadi berwarna putih kemerahan.

Dokter Cecilia mengerahkan ingatan tentang jamur yang berubah warna karena sporanya teroksidasi oleh udara. Tapi itu setelah berhari-hari. Sedangkan ini tidak. Jamur ini jelas masih segar dari hutan hari ini.

Di antara kebingungannya harus berbuat apa, Dokter Cecilia dikejutkan oleh kedatangan seorang security yang terengah-engah berbicara dengannya.

"Dok…Dokter. 7 orang security yang terluka sekarang bertingkah aneh. Mereka terlihat agresif dan mengancam. Saya terpaksa lari menyelamatkan diri karena mereka hendak menyerang saya!”

Dokter Cecilia terperanjat bukan main. Ini tanda-tanda telah terjadi penularan!

"Apa ciri-ciri fisik mereka yang sempat kamu perhatikan?”

"Matanya memerah. Tapi raut mukanya sangat pucat. Dari mulut mereka keluar busa berwarna hitam!”

Benak Dokter Cecilia berputar cepat. Itu sama persis dengan gejala 4 orang yang diringkus dan dibius tadi!

Dengan tergesa-gesa dan setengah berlari, Dokter Cecilia menuju ke kantor yang lampunya masih menyala terang. Mister Bob pasti masih di sana.

Benar. Ketiga orang itu masih mendiskusikan rencana-rencana setelah peristiwa mengejutkan malam ini yang pasti berpengaruh terhadap pekerja lain. Terutama pekerja lokal. Fabumi juga ada namun hanya duduk di sudut ruangan dan tidak ikut terlibat dalam perbincangan.

"Mister Bob! Ternyata gejala itu menular! Cepat lakukan sesuatu. Aku sudah kehabisan obat bius. 7 orang menunjukkan gejala agresif yang sama!”

Belum juga Mister Bob menanggapi, terdengar langkah orang berlari. Seorang staf mekanik masuk dan berteriak panik.

"Sir! Barak mekanik kacau! Orang-orang yang tadi diserang oleh Sefu dan teman-temannya, sekarang mengamuk tidak karuan di barak! Banyak orang terluka, sir!”

Dokter Cecilia memucat wajahnya. Cepat sekali penularan ini terjadi! Tubuhnya mematung. Bingung tak tahu harus berbuat apa.

"Dokter…. Dokter…..” Mister Bob tidak menyelesaikan kalimatnya kepada Dokter Cecilia. Dokter itu terlihat sangat shock.

"Cecilia! Apa yang sebenarnya terjadi?!” Mister Bob berteriak untuk menyadarkan Dokter Cecilia.

"Virus! Atau Bakteri! Mereka semua terinfeksi antara keduanya!” Dalam kegugupannya Dokter Cecilia ikut berteriak menjelaskan.

Mister Bob terdiam sejenak. Lalu memberi perintah mengejutkan.

"Ambil senjata! Kalian semua ikut aku!” Mister Bob masuk ke ruang kerjanya. Membuka lemari besar yang tertutup rapat. Terlihat berjajar AK 47 di rak-rak besar lemari.

Masing-masing segera mengambil senjata dan magazin. Kemudian keluar ruangan sambil mengokang senjata.

Kecuali Fabumi. Laki-laki ini menggamit Dokter Cecilia agar mengikutinya. Di sini akan sangat berbahaya, begitu Fabumi meyakinkan Dokter Cecilia. Mereka berdua menghilang dalam kegelapan.

Terdengar tembakan beruntun saat Mister Bob dan 5 anak buahnya menembaki orang-orang yang bermata merah, bermuka pucat, dan mulutnya berbusa hitam. Tubuh-tubuh itu bergelimpangan di tanah. Tewas bersimbah darah.

Mister Bob terus berpatroli sambil memberikan perintah kepada orang-orang yang belum tertular untuk berada di belakangnya.

Dari kejauhan. Di pinggir sungai kecil yang bermuara di Sungai Zaire, Fabumi yang terus menarik lengan Dokter Cecilia, berhenti mendengarkan sebelum menarik sebuah perahu motor kecil dari semak yang tersembunyi.

Tembakan-tembakan itu masih menggema.

Sambil menaiki perahu bersama Dokter Cecilia, Fabumi bergidik. Bukan hanya atas kengerian yang terjadi di malam ini. Juga karena rasa perih di lengan atasnya yang sekarang baru terasa setelah tadi sempat bergumul dan digigit oleh Sefu.

****