Now Loading

Mimpi-mimpi

Senja itu, Kota Bandar Seri Begawan tampak begitu indah. Seindah namanya, Seri Begawan yaitu nama gelar kehormatan Sultan Omar Ali Syaifuddin. Seindah pula masjid yang kutuju. Saya berjalan sendiri menuju masjid itu. Jalan-jalan di sekitar masjid serasa sepi.

Sesampainya di gerbang masjid, Saya masih terus terkagum-kagum akan keindahanan arsitekturnya. Kubah emasnya yang berkilau ditempa mentari senja dan menara marmer putihnya yang tampak gagah.

Tapi seperti biasa, ada tempat yang selalu melekat di hati jika saya ke masjid ini. Perahu maligai nan indah di tengah laguna. Di sini saya duduk seorang diri, bersender di tiang yang berukir indah.

Tidak lama setelah saya duduk, timbul desiran angin berhembus membawa aroma harum kesturi. Dan tiba-tiba saja di hadapaan saya muncul perempuan yang sudah mencuri hatiku. Dia adalah Lalia. Dia memakai baju kurung panjang berwarna putih, lengkap dengan kerudung yang juga berwarna putih, Di tangannya dia memegang seikat bunga mawar warna merah.

Laila hanya tersenyum, dia tidak berkata apa-apa dan kemudian mengulurkan tangan dengan seikat bunga mawar merah itu kepadaku. Saya menyambut dengan girang dan hati berbunga-bunga.

Bersamaan dengan tanganku yang menyambut tangan Laila, tiba-tiba saja tubuh kami menolak gaya tarik bumi dan melayang bebas di atas laguna. Bahkan terbang jauh di atas kubah masjid, Yayasan Sultan Hassanal Bolkiah dan rumah-rumah di Kampong Ayer.

Tubuh saya serasa begitu ringan bak kapas melayang dan hati pun riang tak terkira. Namun baru sejenak kami merasakan kegembiraan, tiba-tiba saja ada seorang pemuda berwajah tampan, berusia sekitar 25 tahunan, menarik dan menghempas Laila dari tangan saya. Tepat di atas Sungai Brunei Laila terjatuh dan tenggelam.

Tidak ada suara jeritan minta tolong, Laila menghilang dibawa arus Sungai Brunei, dan Saya pun tiba-tiba terbangun. Masih di dalam kamar di Brunei Hotel.

Saya mengucapkan istighfar dan mengusap wajah. Lalu ke kamar mandi dan membasuh muka. Separuh jiwa saya masih hilang tenggelam bersama Laila di Sungai Brunei.

Apa arti mimpi ini? Lalu kubuka koper dan kulihat Keris Brunei yang dihadiahkan Laila masih terbungkus rapi. Sore nanti Saya akan pulang ke Indonesia meninggalkan Brunei, akankah Saya masih bisa bertemu lagi dan menolong Laila dari derasnya arus sungai?

Apakah ini pertanda bahwa akan banyak aral yang melintang dan menghalangi hubungan kami?

Selepas mimpi itu , kulihat jam tangan yang diletakkan di atas meja , hari masih pagi, waktu menunjukkan sekitar pukul 2,15 pagi. Saya kembali membaringkan tubuh dan mencoba memejamkan mata.

“Irma, Irma, Irmaaaaaa!!:, Tiba-tiba saja Azwar berteriak mengigau. Saya terkaget bangun dan segera menguncang-guncangkan tubuh Azwar.

“Azwar, Bangun?”

Azwar terbangun dan duduk namun bibirnya masih sempat mengucapkan nama Irma tiga kali dengan lirih. Sekujur tubuhnya berkeringat.

“Kamu mimpi buruk?”

Azwar terdiam membisa. Seakan-akan sukmanya belum seratus persen kembali ke tubuh dan raga.

“Azwar, kamu mimpi buruk?” tanya saya lagi.

Setelah tenang, barulah Azwar bisa bercerita.

“Ya , Saya mimpi naik perahu di Sungai Brunei, jauh-jauh entah kemana bersama Irma. Rasanya bahagia sekali. Namun tiba-tiba seokor naga besar muncul dari dalam air dan merenggut Irma pergi. Saya mencoba mengejar tetapi sia-sia.”

“Ah, mungkin ini hanya bunga tidur. Saya juga tadi bermimpi Laila tenggelam di Sungai Brunei. Mungkin karena kita terlau memikirkan mereka” kata saya.

Azwar bangun dan minum segelas air. Dia kemudian kembali membaringkan tubuh dan mencoba tidur.

Kami berdua tenggelam dalam alam lamunan masing-masing.

Sampai menjelang subuh, baru saya bisa tertidur.

Bersambung