Now Loading

Sambutan Panas

Aku yakin. Saking malunya, wajahku pasti memerah. Untuk menyembunyikan semua itu, lebih baik tidak usah melihat ke arah Afick. Daripada terlihat bodoh, aku coba menikmati pemandangan yang seperti berlarian di luar sana. Lumayan! Asal jangan tertidur dan mengulangi kesalahan tadi, meskipun tidak sengaja. 

 

Akhirnya, setelah beberapa jam melintasi jalan trans Kalimantan, mobil yang ditumpangi mulai memasuki kawasan penduduk.  Pelan-pelan intensitas kehidupan mulai terlihat ramai. Kota Kuching, Sarawak memang tertata indah dan rapi. Jalanan lebar, para pengguna tertib, tidak seperti di Pontianak. Macet, semrawut! Di sini lengang, udaranya sejuk dan segar. Saking asiknya menikmati pemandangan, aku sampai lupa kalau masih ada dua orang lagi yang sedang bersamaku.

 

Sekilas aku melihat ke arah Afick, ternyata dia juga sedang memandang ke arahku. Tatapan kami beradu, ada senyum tipis menghiasi bibirnya. Entah harus membalas atau pura-pura tidak tahu. Rasa canggung amat dominan. Aku memang selalu serba salah, jika bersama orang yang memiliki perasaan khusus kepadaku. Entah mengapa. 

 

Aku kembali melemparkan pandangan ke luar sana, mengagumi indahnya sore di kota asing yang belum pernah aku datangi. Mobil berjalan dengan kecepatan santai, seolah sengaja memberiku waktu untuk menikmati semua yang ada. Di kanan-kiri jalan banyak gedung-gedung dan toko-toko berjajar rapi. Kebersihan sangat ditonjolkan di sini. Mobil sempat berhenti di lampu merah, saat tanda hijau menyala, kendaraan pun bergerak lagi.

 

Mobil yang kami tumpangi baru saja melewati rambu lalu lintas, saat berada tepat di titik tengah persimpangan, tba-tiba dari arah kanan sebuah kendaraan besar melaju dengan kecepatan tinggi menghantam keras. Benturan hebat membuat mobil kami terjungkal beberapa kali. Guncangan keras itu terasa, seperti aku berada dalam sebuah tabung raksasa yang sengaja diputar dengan kecepatan tinggi. Kepalaku terbentur kesana-kemari. Sebelum semuanya gelap, sekilas aku masih sempat melihat ke arah Afick yang panik. Seakan mulutnya berteriak memanggil namaku, tapi semua menjadi kian samar. Suara terdengar sayup-sayup, lalu hilang. Gelap dan hening!

 

?

 

Entah berapa lama aku pingsan. Rasa nyeri di sekujur tubuh sungguh luar biasa. Kubuka mata pelan-pelan, mencoba memusatkan satu pandangan untuk mengetahui dimana pastinya aku berada sekarang. Ruang apa ini? Mengapa begitu aneh. Perlahan-lahan kuamati sekitar dengan seksama. Ya Tuhan … aku berada di sebuah bangunan seperti gudang. Ada apa, mengapa seperti ini? 

 

Aku coba menggerakan tubuh. Tapi, bukan hanya keberadaan tempat yang membuat perasaanku shock. Tubuhku juga terpasung kuat di salah satu tiang bangunan. Dengan posisi duduk selonjoran di lantai, tangan terikat ke belakang, kaki juga terikat. Mulutku …, mulutku disumpal sesuatu. Astaga! Mengapa? Aku dimana? Siapa yang begitu tega memperlakukan aku seperti ini? Apa dosaku? Dalam kekalutan dan cemas tingkat tinggi,  air mataku berderai jatuh.

 "Inikah akhirnya?" desir hatiku sedih.

 

Tidak habis pikir! Apa ini sambutan keluarga Afick pada diriku? Apa begini cara mereka menerima kehadiran seseorang yang dianggap tak layak untuk bersamanya? Aku mulai menyesali keputusan untuk datang ke negeri ini. Dengan perasaan hancur dan hati yang teramat sakit. Bahkan perihnya luka-luka di tubuh, tidak sesakit perasaanku saat ini. Afick ... kau sungguh tega!