Now Loading

Surat dalam Amplop Merah Muda dan Oranye

Sesampainya di terminal di Bandar dari perjalanan mengasyikan ke Muzium Brunei, Empat Sekawan memutuskan mampir ke food court di Yayasan dan menikmati berbagai jenis makanan yang ada di situ. Selain tidak terlalu mahal, rasanya juga pas di lidah.

Ketika kami berempat sedang asyik makan, seorang karyawati di salah satu gerai datang dan berkata:

‘Maaf abang, ada yang bernama Azwar dan Eko?”

“Saya”, Eko dan Azwar serentak mengangkat tangan sambil terkaget-kaget bagaimana dia bisa tahu nama-nama kita.

“Maaf, saya ada dua pucuk surat yang dititipkan dua orang perempuan tadi, Jawab mbak tadi sambil memberikan dua pucuk amplop kecil berwarna merah muda dan oranye.

“Terimakasih”, kata Azwar dan Eko, lagi-lagi serentak.

Secara hampir bersamaan Azwar dan Eko membuka amplop yang mirip dan hanya berbeda warna itu. Yang merah muda buat Azwar dan yang oranye buat Eko.

“Bang Azwar dan Eko,

Selamat menikmati malam terakhir di Brunei. Selamat pulang kembali ke Indonesia. Hati-hati dalam perjalanan. Kalau sempat, esok kami akan melepas abang berdua di lapangan terbang.

Salam Sayang

Irma dan Noor

P.S: Kue Cincin jangan lupa disantap malam ini”

Melihat isi surat, Azwar dan Eko segera saling tukar surat dan menemukan kopi yang sama alias dua surat itu memang identik dan hanya ditulis dalam kertas dan amplop yang berbeda warna.

Tanpa sadar, Azwar dan Eko melihat kembali keberadaan toples kecil kue cincin yang disimpan di tas kecil masing-masing.

Kami berempat kemudian pulang kembali ke Brunei Hotel di jalan Pemancha.

“Azwar, jangan lupa kita makan kue cincin ini”, kata saya sambil nonton TV RTB2 di kamar. Sementara Azwar masiih merapikan baju-baju dan oleh-oleh ke dalam koper.

“Oh, Ya, pesan Irma, kue itu harus kita makan di Brunei” kata Azwar lagi sambil membuka toples kecil berisi sekitar sepuluh potong kue cincin.

“Cukup untuk kita berdua, rasanya lumayan enak, tadi siang saya sudah coba sedikit”, kata Azwar.

Ditemani teh yang saya buat sendiri, saya menikmati beberapa potong kue cincin itu. Rasanya lumayan enak, namun terlalu manis buat saya. Walaupun begitu, sambil nonton TV, tidak terasa kue cincin itu ludes dinikmati saya dan Azwar.

“Baiklah, tuntas sudah tugas kita menghabiskan kue cincin ini di Brunei dan tidak dibawa pulang ke Indonesia”, kata Azwar lagi.

“Bagaimana dengan Bang Zai dan Eko, Yuk kita lihat sejenak”

“Yuk” Jawab saya.

Saya dan Azwar segera bergegas mengetuk kamar Bang Zai dan Eko yang kebetulan di sebelah kamar kita.

“Ayo masuk”, kata Bang Zai ketika membuka pintu kamar.

“Kita berdua lagi beres-beres koper sambil makan kue cincin”, tambah Eko.

Saya melihat ke toples kecil yang ada di meja dekat TV, ternyata isinya sudah habis juga seperti di kamar saya dan Azwar.

“Wah, kita semua sangat penurut terhadap anjuran Irma dan Noor, Di tempat saya juga sudah ludes” kata Azwar.

“Asep, kamu tadi siang belum cerita, kemana dan dapat apa?” Tanya bang Zai

Saya tersenyum dalam hati, ada keinginan untuk menceritakan tentang Laila dan keris yang dihadiahkan untuk saya. Namun keinginan untuk memberi kejutan membuat saya berkata:

“Besok saja deh ceritanya, hari ini masih rahasia, Yuk kita istirahat dulu”,

Saya mengajak Azwar untuk kembali ke kamar dan pamit kepada Eko dan Bang Zai.

“Sampai besok pagi, mimpi indah”, kata Bang Zai.

Sesampainya di kamar, saya terus melamun , mengapa saya tidak dapat surat dari Laila. Apakah Laila akan ada di lapangan terbang bersama Noor dan Irma besok? Tanpa terasa, saya pun kemudian tertidur.

Bersambung