Now Loading

Bab 7

Mada membuka portal berita di gadgetnya sembari menelisik berita demi berita.  Ini penting sekali.  Dia memang sudah membayar orang di beberapa tempat di dekat Gerbang Waktu Bubat.  Tapi Mada juga menyadari, tidak mudah memata-matai tempat di pulau Jawa yang penuh sesak dengan orang. 

Lagipula orang-orang yang dia bayar adalah orang jaman sekarang.  Tidak paham maksud Mada.  Selain itu Mada juga memang tidak berterus terang.

Mata Mada berhenti di sebuah berita; Sudah dipastikan korban tewas di dalam mobil yang tercebur ke jurang di perkebunan teh daerah Puncak adalah seorang Direktur Museum di Bandung.

Mada memandangi lengan kekarnya yang dengan mudah mendorong mobil ke jurang saat direktur museum sedang tertidur di dalamnya.

Berita berikutnya sanggup menyedot perhatian Mada sepenuhnya; Kejadian aneh di sebuah desa daerah Bubat, seorang anak gembala bersaksi ada gua misterius yang menjadi sarang lebah berjuta-juta.

Mada mengerutkan keningnya.  Ini berita sangat penting.  Tempat rahasia itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang anak gembala.  Wah ini gawat!

Mada segera mencari nomor seseorang di handphonenya,

“Halo.  Ya Pak Kromo ini saya Mada.  Minta tolong tanah saya yang di bukit Bubat diawasi nggih?  Saya dengar tempat itu mulai ramai didatangi orang.”

Nggih Pak Mada.  Saya akan awasi setiap hari tanah bapak mulai sekarang.  Saya akan cegah siapapun mendatangi.  Tapi...saya perlu....”

“Pak Kromo ndak usah khawatir.  Saya akan tambahkan uang operasional bapak tiga kali lipat.  Selain itu tolong bangun pos jaga di sana.  Biaya pembangunan akan saya transfer segera.”

Suara di seberang menyambut gembira sekaligus takzim.  Mada menutup sambungan telepon.  Merenung sejenak lalu memutuskan untuk melakukan sebuah ritual penting yang sangat menentukan nanti malam.

------

Citra memejamkan mata memusatkan konsentrasi ke suara-suara di luar.  Lalu bangkit sambil menarik Raja berdiri.  Keduanya melangkah keluar dari rimba belantara aneh itu.  Sampai di ruang depan toko buku yang sesepi kuburan.  Hanya nampak seorang tua bermata sipit yang mengangkat kepalanya sedikit untuk melirik lalu kembali tekun pada bacaannya.

Sambil melangkah keluar toko buku, Raja sempat melirik apa gerangan yang sedang asyik dibaca oleh Babah Liong, Raja menduga orang tua itu empunya toko.  Membuka Gerbang Waktu.

Raja mengikuti Citra yang berjalan cepat menjauhi toko buku sambil berusaha sedapat mungkin tidak menarik perhatian. 

Citra sengaja tidak berjalan menjajari Raja.  Gadis ini hanya memberi isyarat agar Raja terus mengikutinya.  Sampai akhirnya Citra menaiki jembatan penyeberangan menuju halte bus di seberang jalan.  Raja tidak banyak bertanya.  Dia terus saja mengikuti Citra naik ke dalam bus kota. 

Citra memilih duduk di dekat jendela agar Raja bisa duduk di sebelahnya.  Gadis ini menuliskan sesuatu di sehelai kertas  lalu memberikan secara tidak kentara ke Raja yang paham maksudnya dan membacanya juga seolah sambil lalu saja.

“Kita diikuti Raja.  Setelah ini aku akan turun di halte berikutnya.  Kamu jangan ikut turun di situ.  Turunlah di halte berikutnya lagi.  Aku akan menyusulmu ke sana.”

Hampir saja secara otomatis Raja berpaling ke belakang, namun niatnya diurungkan seketika.  Bodoh sekali kalau sampai dia berbuat seperti itu.

------

Citra dengan tenang turun di halte Setiabudi.  Raja memperhatikan melalui sudut matanya.  Seorang lelaki muda berperawakan sedang ikut turun.  Raja mengkhawatirkan keselamatan Citra.  Hampir saja dia ikut turun.  Namun segera saja Raja ingat kejadian di cafe tempo hari.  Betapa Citra dengan mudahnya mempermainkan tiga orang jahil dan mempermalukannya.  Raja menenangkan perasaannya.

Sesuai pesan Citra, Raja turun di halte berikutnya.  Masih di Setiabudi namun sudah sampai di ujungnya.  Mata Raja menyibak kerumunan mahasiswa mahasiswi yang sedang bubaran kuliah.  Tidak nampak Citra dimana-mana.  Raja mulai cemas. 

Raja terus berdiri di sisi halte.  Memperhatikan satu demi satu orang yang berlalu lalang dan turun naik bus kota.  Belum ada tanda-tanda keberadaan Citra.  Kecemasan Raja memuncak.  Pemuda ini memutuskan menelusuri jalanan ke halte tempat Citra turun.  Trotoar jalan di daerah ini tidak sama lebarnya.  Seringnya sempit sekali termakan oleh lebar jalan.  Raja harus berdesakan dengan orang-orang yang mengambil arah berlawanan.

Raja terlonjak senang.  Dari kejauhan dilihatnya Citra sedang berdiri di pinggir trotoar sambil bicara serius dengan seorang perempuan tua yang sepertinya adalah pengemis.  Karena terlalu fokus dengan matanya dalam mengawasi Citra, Raja kehilangan kewaspadaannya.  Dua orang laki-laki berbaju rapi dari arah berlawanan bertabrakan dengannya. 

Raja terhuyung hampir jatuh.  Salah seorang lelaki itu berhasil memegang lengannya mencegah Raja terperosok ke selokan.  Raja berniat mengucapkan terimakasih.  Namun mendadak matanya berkunang-kunang.  Penglihatannya tiba-tiba buram.  Raja merasakan sedikit sakit di lengannya yang dipegang oleh lelaki itu.  Rasanya seperti tusukan jarum suntik.

Raja berusaha keras menggugah kesadarannya sambil mencoba berteriak sekerasnya memperingatkan Citra yang masih berbincang serius.

Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya Raja masih sempat melihat Citra berlari ke arahnya namun kalah cepat dengan kedatangan mobil van yang datang berdecit-decit di aspal menghampirinya.  Pintu samping van terbuka dan Raja masih bisa merasakan badannya didorong masuk ke dalam mobil dan melesat dengan cepat setelahnya.  Bahkan sebelum pintu itu sepenuhnya tertutup.

-----

Citra menghentikan larinya.  Kejadian itu begitu cepat tanpa segera bisa disadarinya.  Raja ditangkap oleh dua orang lelaki perlente tadi dan dibawa pergi menggunakan mobil van warna biru. 

Citra menentramkan hatinya yang hampir runtuh.  Seharusnya dia menyadari sedari awal saat seorang nenek tua mengajaknya bercakap-cakap mendengarkan kisah hidupnya yang nelangsa.  Gadis yang baik hati ini termakan jebakan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh orang-orang yang diketahuinya sebagai suruhan Mada.

Untuk meredakan kegundahannya, Citra mencoba menenangkan hatinya dengan berpikir orang-orang itu tidak mungkin menyakiti Raja.  Tapi siapa yang tahu kenekatan para pengikut Trah Maja?  Bisa saja mereka memotong rantai takdir yang tertulis di manuskrip kuno dengan menghabisi Raja.  Citra merasakan perutnya seperti dimasuki duri-duri rotan.  Perih.

Aku harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Raja!  Tekad Citra.

Gadis ini buru-buru mencegat taksi.  Menaikinya seperti kilat menyambar bumi.  Berkata cepat kepada sopir taksi yang menunggu perintahnya.

“Toko Buku Babah Liong jalan BKR ya pak....tolong ngebut pak!”

*******