Now Loading

Bab 3

Congo Basin, 0.60°S, 17.77° E
Basecamp-Golden Logging Timber Company

 

Basecamp induk perusahaan penebangan kayu itu nampak sibuk. Beberapa log loader terlihat mondar-mandir membongkar kayu dari atas puluhan logging truck berukuran besar yang sedang mengantri di logpond.

Suara debuman kayu-kayu besar yang terlihat segar karena belum lama ditebang terdengar seperti pagelaran musik heavy metal di panggung raksasa yang tidak berpenonton. Kayu yang berasal dari pedalaman hutan belantara di wilayah Congo Basin itu akan diangkut lewat barge raksasa ke industri pengolahan yang berada di kota Dolosi. Sebuah kota sentra industri pengolahan kayu yang berjarak sekitar 160 km dari Pointe Noire.

Hutan di Congo Basin adalah hamparan hutan tropis terluas nomor 2 di dunia setelah Amazon. Banyak perusahaan penebangan yang beroperasi di surga kayu tersebut. Meskipun kebanyakan beroperasi secara legal namun pengawasan dari pihak yang berwenang sangat longgar sehingga terkadang pada prakteknya perusahaan tersebut menebang kayu di tempat yang tidak semestinya ditebang.

Di kantor basecamp yang terbuat seluruhnya dari kayu, terdengar ramai percakapan membahas rencana eksploitasi kayu di blok-blok yang diijinkan.

"Potensinya agak tipis di 5 blok yang tersisa tahun ini, sir!” suara berat dari manajer logging bernama Adisa memulai diskusi.

“Iya kemarin tim cruiser telah turun ke basecamp. Dari hasil survey mereka, tidak lebih dari 40 meter kubik per hektar yang akan kita dapatkan jika terus menebang di 5 blok tersebut.” Suara lain menguatkan. Seorang manajer survey bernama Essien.

"Hmm, so what we should do gentlemen?” Kali ini pertanyaan yang jika dilihat dari nadanya adalah pengambil keputusan. Seorang pria Kaukasian setengah umur yang sering disebut Mister Bob. Orang Eropa yang telah malang melintang di industri kayu Kongo selama lebih dari 30 tahun.

"Sebelum berangkat sebulan lalu, saya sudah memerintahkan 1 tim cruiser lain masuk ke blok sebelah, sir. Dan ini jauh lebih menjanjikan. 100 meter kubik per hektar!” Suara berat Adisa menimpali dengan sangat bersemangat.

Hening sejenak. Sepertinya 3 orang penting yang sedang berdiskusi begitu takjub mendengar angka potensi yang menakjubkan itu.

"So, kita belok?”Pertanyaan lagi dari Mister Bob meminta pertimbangan.

Adisa dan Essien saling berpandangan. Tatap mata mereka terlihat sepakat. Dan secara serentak keduanya memandang orang keempat di ruangan itu yang sedari tadi hanya berdiam diri. Kepala survey yang merupakan orang asli Kongo beretnis Azande bernama Fabumi.

"Maaf saya ikut campur bicara tuan-tuan. Memang potensi kayu di daerah tersebut luar biasa besar dan sangat menguntungkan bagi perusahaan. Namun perlu diingat bahwa daerah itu berada di seberang sungai dan dekat sekali dengan Cuvette Centrale. Area yang sangat dilindungi oleh pemerintah. Dan juga dunia internasional karena merupakan salah satu tempat penyimpanan karbon terbesar di dunia.”

Suasana kembali hening. Berurusan dengan pemerintah cukup mudah bagi Mister Bob. Tapi kalau dunia internasional sudah merekognisi tempat yang sangat potensial tersebut, itu artinya sinyal bahaya bagi perusahaan. Tapi 100 meter kubik per hektar seluas 10 ribu hektar? Ah! What the hell!

"Kita mulai lewat tengah saja. Pinggir sungai biarkan agar tak nampak. Persiapkan ponton untuk menyeberangkan alat, Adisa! Kita mulai besok!” sebuah keputusan dibuat.

Fabumi hanya bisa termangu dengan pikiran masgul. Bukan hanya masalah Cuvette sebenarnya. Tapi wilayah itu adalah tempat suku primitif Pygmi mencari makan di hutan. Kemana lagi mereka harus pergi jika tempat hidup mereka digunduli? Apalagi di lansekap seberang sungai tersebut terdapat habitat pohon langka Afrika yang disebut Afrormosia.

Fabumi merasa seluruh otot-otot tubuhnya lemas. Seharusnya anak buahnya tadi tidak melaporkan data yang sebenarnya kepada Adisa. Uh!

Sesuai dengan perintah Mister Bob, keesokan harinya terjadi mobilisasi besar-besaran alat-alat berat dan pekerja ke hutan seberang sungai yang berjarak kurang lebih 50 km dari basecamp induk ini.

90% alat dan pekerja dipindahkan untuk memulai kerja di sana. Mereka tidak disibukkan dengan membangun camp tempat tinggal karena semua sudah tersedia dalam bentuk camp tarik yang siap dipindahkan kapan saja, di mana saja, dan langsung bisa ditempati.

Hanya butuh 2 hari bagi tim berpengalaman Mister Bob untuk menyelesaikan fase persiapan.

Keesokan harinya lagi alat-alat berat sudah meraung-raung memasuki kawasan hutan lebat itu. Karena penasaran, Mister Bob, Adisa, dan Essien ikut masuk ke dalam hutan.

Apa yang mereka jumpai memang membuat siapapun akan berdecak takjub melihat hutan yang sangat kaya pohon-pohon besar dengan populasi berlimpah. Keputusanku tidak keliru! Pikir Mister Bob luar biasa gembira.

Pagi itu cuaca sangat cerah. Langit biru bersih tanpa awan. Ditambah tiupan angin yang menyejukkan membuat para pekerja dengan bersemangat memulai pekerjaan beratnya. Mister Bob dan 2 anak buahnya yang setia berdiri di depan camp memberikan semangat saat bulldozer-bulldozer menderum-derum memasuki hutan. Didahului oleh mobil-mobil pengangkut para chainsaw man dan diikuti oleh logging truck berukuran besar.

Mereka tidak perlu membuat jalan karena penebangan akan dilakukan di sekitar camp terlebih dahulu. Agak jauh dari bibir sungai besar yang berjarak kurang lebih 2 km untuk mengelabuhi pengawasan secara visual. Logpond juga belum dibangun di pinggir sungai agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan. Kayu-kayu akan ditumpuk terlebih dahulu di logyard yang telah dibuka seluas 5 hektar.

Selepas iring-iringan pekerja masuk ke hutan, Mister Bob dan anak buahnya dikejutkan dengan suara gaduh dari jalan masuk ke camp.

Nampak sekumpulan kecil orang-orang tak berbaju, bertelanjang kaki, dan tinggi badan yang sangat pendek, beradu mulut dengan security di pintu masuk.

Mister Bob tidak mau mempedulikan kejadian itu dan hendak masuk kembali ke kantor sementara Golden Logging Company. Namun Fabumi menggamit lengannya dan membisikkan sesuatu. Mister Bob kelihatan sedikit terkejut lalu melambai ke arah security agar memperbolehkan rombongan orang Pygmi itu masuk menemuinya.

Rombongan kecil orang Pygmi itu hanya terdiri dari 5 orang yang bila melihat dari perawakannya adalah orang tua untuk ukuran usia suku Pygmi.

Mister Bob menoleh ke arah Fabumi setelah salah satu perwakilan orang Pygmi itu berbicara panjang lebar dengan bahasa yang sama sekali tak dimengertinya. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah hutan sambil berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia bilang hutan itu terlarang untuk ditebang, sir. Banyak rahasia berbahaya yang terkandung di dalamnya akan terlepas jika pohon-pohon di dalamnya dirobohkan. Terutama pohon Afrormosia,”Fabumi memang cukup memahami bahasa Pygmi karena selama puluhan tahun mengembara dari satu hutan ke hutan lainnya.

"Bilang ke mereka bahwa aku akan bayar dengan royalti yang tinggi asal tidak menganggu kegiatan kita,”Mister Bob nampaknya tidak ingin berkonfrontasi seperti kebiasaannya.

Selesai Fabumi menerjemahkan permintaan Mister Bob, orang-orang Pygmi itu terdiam sejenak. Lalu terduduk di tanah sambil menangis keras. Kelimanya menangis dengan begitu sedihnya.

Kontan saja Mister Bob dan timnya kebingungan. Adisa lantas angkat bicara. Meskipun sedikit terbata-bata, dia juga bisa berbahasa Pygmi.

"Hei, kenapa kalian malah menangis? Bos kami akan memberi kalian uang yang sangat banyak sehingga kalian tak perlu lagi tinggal di hutan.”

Tangisan kelima orang itu semakin kencang. Dengan tertatih-tatih mereka bangkit dan pergi. Sebelum menjauh, salah satu dari tetua orang Pygmi itu menoleh ke arah Fabumi dan mengucapkan beberapa kata yang membuat Fabumi memucat wajahnya.

Setelah kelima orang itu tak nampak lagi bayangannya, Essien menghampiri Fabumi yang masih termangu dan kelihatan sekali shock.

"Kenapa kawan? Kau seperti baru saja melihat hantu? Hahaha…”

Fabumi menghela nafas panjang. Menatap Mister Bob dan berkata lirih.

"Sir, pesan mereka sebelum pergi tadi cukup membuat jerih hati saya. Apakah tidak sebaiknya Tuan coba mempertimbangkan lagi?”

Mister Bob menatap nyalang Fabumi.

"Maksudmu?”

"Mereka mengatakan rahasia berbahaya yang tersimpan jauh di dalam tanah di akar-akar terbawah Afrormasia akan terlepas menjadi wabah yang sangat berbahaya bagi manusia. Mereka menyebutnya sebagai Hantu Hutan yang Tersembunyi,”suara Fabumi bergetar.

"Tuan pasti masih ingat Ebola, Demam Afrika? Semuanya berasal muasal dari dalam hutan yang terlepas dengan tidak sengaja karena manusia mengabaikan kearifan lokal. Kalau Tuan masih bersikeras melanjutkan, saya rasa saya tidak akan sanggup melihat akibatnya. Saya mengundurkan diri hari ini juga dan akan kembali ke Pointe Noire besok pagi. ”

Mister Bob mengerutkan kening. Takhyul! Omong kosong! Pimpinan Golden Logging Company itu melambaikan tangan tak peduli lalu masuk ke kantor.

Fabumi mengangkat bahu menyabarkan diri. Berjalan ke camp tempatnya tinggal dan mulai berkemas.

Di antara keheningan yang tercipta, suara pohon-pohon bertumbangan mulai terdengar dengan jelas dari camp ini.

***