Now Loading

Minuman Kesukaan Bawor

Setelah didesak, Jarwo akhirnya menceritakan soal rencana kedatangan Parman. Namun karena tidak tahu kapan datangnya, membuat Sujiono dan warga semakin gelisah. 

“Kalau begitu, bakalan ada korban lagi,” guman seseorang. 

 “Kita harus panggil Parman.”

“Caranya?”

“Sebagian ke rumah Bawor," kata Sujiono. "Ini Bawor yang ditembak polisi itu kan?”

“Iya,” jawab Ijal. Baru kali ini ia buka suara karena ia ketakutan melihat rombongan Sujiono yang muncul tiba-tiba.

“Coba tanya makanan kesukaan Bawor …”

“Apa hubungannya?” potong seseorang sambil menahan tawa. 

“Arwah bisa dipanggil dengan makanan kesukaannya semasa dia hidup.”

Meski tidak ada yang percaya, namun juga tidak ada yang membantah. Berdebat untuk sesuatu yang sama-sama tidak pahami, hanya menghabiskan waktu.  

“Biar saya yang ke rumah Bawor. Salah satu dari kalian ikut dengan saya. Lainnya tunggu di sini,” perintah Sujiono setelah lama mereka terkurung dalam kebisuan.

Kembali tidak ada yang menjawab. Mereka sudah lelah berrdebat hingga membiarkan Sujiono pergi. 

Namun Sujiono kembali lebih cepat dari yang diduga. Wajahnya riang, meski tidak ada yang bisa melihat selain menandainya dari siulan lagu dangdut dari mulutnya. Tanda-tanda keberhasilan dalam mengalahkan teror yang menyelimuti kampung mereka juga terbaca dari sikapnya. Tanpa menghiraukan perasaan teman-temannya, Sujiono menyuruh mereka merapat ke pohon randu tua untuk mendengarkan perintahnya.

“Cepat dikit,” katanya ketika dua orang terlihat kurang antusias melaksanakan perintahnya. Meski suaranya tetap rendah, namun semua yang mendengar pasti merasakan tekanannya. Mungkin Sujiono sudah menganggap dirinya panglima perang dan warga di situ prajuritnya. Keyakinan itu bertambah ketika Sujiono melanjutkan perintahnya,“Kita diburu waktu. Ini perang melawan musuh desa yang harus kita menangkan!”

Trimo, Jarwo dan Ijal pun ikut berdiri di depan pohon randu tua- tepatnya di depan Sujiono, untuk mendengarkan perintah selanjutnya. Sujiono lalu memperlihatkan tas kresek warna hitam yang dibawanya. Seolah, itulah benda yang menasbihkan dirinya menjadi pemimpin layaknya para pemimpin jaman dulu yang memakai jimat sebagai alat pengesahannya. Mungkin Sujiono pernah membaca kisah Ki Ageng Pamanahan yang menggunakan kelapa muda sebagai legitimasi hanya keturunannya yang berhak menjadi penguasa tanah Jawa.

“Apa itu?” seseorang bertanya, tak sabar. Suaranya menyiratkan rasa takut jika tiba-tiba Sujiono berubah menjadi dukun dan benda dalam plastik hitam dijadikan sarana memanggil Parman yang tengah dirasuki arwah Bawor.

“Tunggu dulu!” sentak Sujiono dengan nada berat yang dibuat-buat. “Ini sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang akan menyelamatkan seluruh warga desa dari teror Parman.”

“Kok bau seperti arak?” sela yang lain makin tak sabar.

“Betul, ini ciu!” jawab Sujiono memecahkan rasa ingin tahu pengikutnya. 

“Untuk apa? Apa kita mau pesta miras?”

“Saya tidak mau ikut minum. Nanti  mabok,” timpal rekannya.

Sementara Ijal, Jarwo dan Trimo menatap kresek hitam yang masih dipegang Sujiono dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Dalam hati pun mereka bertanya-tanya, untuk apa ciu itu. Namun mereka tidak berani bertanya. Bagaimana pun mereka penyebab semua kekacauan ini. Bahkan Trimo yang masih diliputi kesedihan mendalam, memilih menunggu instruksi Sujiono. Ia tidak ingin kehilangan setiap kata yang yang diucapkan Sujiono. Trimo bertekad akan melakukan apa pun yang diperintahkan kuli panggul di pasar itu. Bapak tidak mungkin hidup lagi, tapi aku harus membalaskan sakit hatinya pada orang yang sudah membunuhnya, janji Trimo dalam hati.

“Tenang saudara-saudara! Malam ini kita akan melakukan sebuah tindakan yang sangat luar biasa. Tindakan yang akan menyelamatkan seluruh warga desa dari teror Bawor.“

Jangan diulang-ulang,” sela seseorang yang mulai kesal. “Kami semua sudah tahu ceritanya. Sekarang kami ingin tahu apa yang kamu bawa dan apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan ulah Parman!”

“Sifat buru-buru dan tidak mau ikut aturan bisa menyebabkan kematian,” balas Sujiono dengan nada mengancam. Orang yang tadi menyela langsung ciut nyali. Dalam kondisi normal, ia sering membentak Sujiono di pasar. Namun malam ini Sujiono sudah berubah. 

“Dengar, aku membawakan sesuatu yang sangat disukai Bawor. Jika menciumnya, pasti dia akan muncul. Nah, saat itulah kita akan menyergapnya.”

“Maksudmu yang muncul arwah Bawor atau Parman?”

“Nah, itu yang belum aku tahu. Bisa jadi mereka akan muncul terpisah.”

Suara Sujiono mengambang, meningkap malam yang sudah bergeser. Udara semakin dingin dan semua yang orang kini merasakan kehadiran makhluk lain.